Fake Princess

Fake Princess
Chapter XCV


"Kalian semua, tunggu dulu!" teriak Zeki seraya ikut berjongkok di depanku.


"Sa-chan, apa yang terjadi?" tukas Haruki berjalan ke arahku.


"Danur, panggilkan Danur nii-chan," ucapku, kugenggam kuat lengan Haruki yang memegangku.


"Danur, kemarilah!" teriak Haruki.


"A-ada a-apa?" ucap Danur berdiri di samping Zeki.


"Danur, tanganmu. Cepatlah, waktu kita tidak banyak," ucapku, seraya mengarahkan telapak tanganku kepadanya.


"Ada apa?"


"Apa yang terjadi?" ucap Adinata dan Izumi bergantian, berdiri mereka berdua di belakang Zeki.


"Tanganmu Danur!" teriakku padanya.


"Ba-baik," tukasnya, diletakkannya telapak tangannya di atas tanganku.


"Apapun yang terjadi, jangan lepaskan tanganmu sebelum aku yang melepaskannya sendiri. Apa kau mengerti?" ucapku, mengangguk ia balas menatapku.


Kuletakkan dua telapak tanganku menggenggam telapak tangan kirinya. Kutatap kepingan es yang tiba-tiba tumbuh di telapak tanganku, kepingan tersebut semakin lama semakin menebal... merambat dan merambat membekukan telapak tanganku dan Danur.


"Di-dingin se-sekali," ucap Danurdara dengan suara bergetar.


"Apa yang terjadi?" ikut terdengar suara Adinata mengiringi.


"Sshh!" ikut kembali terdengar suara yang aku tidak tahu itu siapa.


Bongkahan es tersebut tiba-tiba meretak, retakan yang awalnya kecil kian membesar dan membesar seiringnya waktu. Bongkahan es tersebut terbelah menjadi empat dan jatuh ke tanah, terduduk Danurdara di atas tanah dengan kedua matanya yang tampak berair.


"Ke-ke se-sebelah si-sini Sa-sachi," ucap Danurdara menunjuk ke arah belakang tubuhnya.


Beranjak dan berjalan Danurdara menuruni bukit, kuikuti langkah kakinya dari belakang. Mulai berlari Danurdara ketika kakinya menginjak dasar bukit, kupercepat langkahku mengikuti langkah kakinya yang juga semakin cepat.


"Sebenarnya apa yang terjadi?!" ucap Adinata ikut berlari dibelakang kami.


"Sa-chan, jelaskan semuanya. Apa itu Kou?" sambung Haruki yang juga menyusul berlari.


"Laki-laki tua itu telah berbohong kepada kita. Kou mengatakan jika kita tidak segera menghancurkan inti sihirnya sebelum matahari terbit besok, kita akan berada disini selamanya. Dan dia juga tidak tahu, kapan gerbang itu akan terbuka kembali," ucapku seraya berlari dengan nafas tersengal.


"Lalu kenapa dengan Adikku?" lanjut Adinata yang juga semakin mempercepat langkahnya.


"Ko-kou me-memintaku u-untuk me-membawa Sa-sachi ke-keluar da-dari si-sini a-apapun ya-yang te-terjadi."


"Kou? siapa itu Kou?" sambung Zeki yang juga ikut berlari.


"A-aku be-bertemu de-dengannya ta-tadi. Ke-ke se-sebelah si-sini," ucap Danurdara kembali seraya membelokkan tubuhnya ke sebelah kanan tubuhnya.


Langkah kaki kami terhenti di depan sebuah deretan kawah yang tak henti-hentinya menyemburkan uap panas bergantian antara yang satu dan yang lainnya. Berbalik dan berkumpul kami membentuk satu lingkaran...


"Kita akan membagi kelompok masing-masing dua orang untuk melewatinya," ucap Haruki menatapi kami.


"Perbagian kelompok seperti rencana awal?" ucap Adinata.


"Kita tidak punya banyak waktu untuk berdiskusi sekarang. Yang hanya ingin aku sampaikan, berhati-hatilah. Jangan melakukan tindakan ceroboh sedikitpun," ungkap Haruki, mengangguk kami menyetujui ucapannya.


Digenggamnya tanganku oleh Zeki, kulirik Haruki dan juga Izumi yang juga sudah menggenggam tangan Luana dan juga Sasithorn. Digenggamnya sebuah batu dengan tangannya yang lain oleh Haruki seraya dilemparkannya batu itu ke salah satu kawah, uap panas yang berembus memuntahkan kembali batu tersebut terbang ke udara.


Maju Zeki seraya diketuk-ketuknya pedang yang ia genggam ke atas tanah yang mengelilingi kawah, berbalik ia menatap Haruki seraya mengangguk ia beberapa kali.


"Kau tidak akan meninggalkanku bukan? atau aku akan mengutukmu sampai kedalam kuburku," ucap Julissa bergetar, diliriknya Adinata yang menggenggam tangannya.


"Tidak ada yang dapat aku ganggu lagi, jika kau berakhir disini. Jadi tenang saja," jawab Adinata seraya fokus menatap kedepan.


Berlari Haruki menggenggam Luana di belakangnya, kutatap Izumi dan juga Adinata yang menyusul langkahnya. Menoleh aku ke arah Danurdara dan Arion yang juga sudah mulai berlari menyusul.


Zeki menarik tanganku untuk mengikutinya, uap panas yang berembus dari waktu ke waktu seakan memasak seluruh tubuh kami di dalamnya. Nafasku sesak, mataku berkunang akibat udara panas yang kian menjalar di tubuhku...


"Apa kau bodoh?!" teriak Zeki mencengkeram wajahku ke belakang.


Diturunkannya telapak tangannya dari wajahku, uap panas yang ada dihadapanku membumbung tinggi ke atas. Kulirik telapak tangan Zeki yang melepuh memerah akibat melindungi wajahku dari uap panas tadi, ditariknya seraya disembunyikannya kembali telapak tangannya tadi dari balik tubuhnya...


"Naiklah!" Aku akan menggendongmu," ucapnya seraya berjongkok di depanku.


Berjalan aku mendekatinya seraya kurangkul lehernya, diangkatnya tubuhku diatas punggungnya. Mulai berlari ia menghindari uap panas yang keluar dari sebelah kanan dan kiri kami...


Kutatap mereka yang telah menunggu kami di seberang, Zeki mempercepat langkahnya semakin mendekati mereka. Diturunkannya tubuhku olehnya ke tanah seraya duduk ia di depanku...


Kuraih telapak tangannya yang melepuh tadi seraya sebelah tanganku yang lainnya tampak sibuk mengobrak-abrik tas yang aku kenakan. Kuambil botol kecil dari dalam tas seraya aku gigit tutup yang menutupinya, kutuangkan bubuk berwarna hijau ke atas telapak tangannya yang melepuh lalu meratakannya...


"Apa ada yang terluka di antara kalian?" ucapku berbalik menatapi mereka.


"Alma, lengannya melepuh," ucap Alvaro dengan suara gemetar.


"Kemarilah," ungkapku seraya menatapi Alma yang tengah memegang kuat lengannya.


Berjalan dan berjongkok ia dihadapanku, kuambil pisau kecil yang aku selipkan di sepatuku seraya kupotong dan kurobek lengan pakaiannya yang panjang...


Kutatap lengannya yang memerah layaknya daging segar, kugenggam dengan sangat pelan tangannya yang gemetaran tersebut. Kutaburkan sedikit demi sedikit bubuk hijau yang aku berikan kepada Zeki sebelumnya, kuratakan bubuk tersebut ke atas luka yang ia derita hingga tertutupi sepenuhnya...


"Apa kalian sudah siap untuk melanjutkan perjalanan?" ucap Haruki ikut berjongkok menatapi kami.