Fake Princess

Fake Princess
Chapter DVI


“Karena aku telah mengetahui apa yang terjadi, aku akan menemui Ryu sekarang,” tukas Izumi yang membuatku berbalik menatapnya.


Izumi beranjak turun dari atas ranjang, aku masih menatapnya yang telah melangkahkan kakinya mendekati pintu lalu membuka pintu tersebut. “Bagaimana denganmu?” Wajahku kembali teralih kepada Haruki yang masih duduk bersandarkan diri di jendela menatapku.


“Aku akan meminta maaf kepadanya, nanti,” ucapku sembari beranjak berdiri dari atas kasur yang sebelumnya aku duduki.


“Nii-chan, terima kasih. Kau, benar-benar Kakak yang terbaik,” tukasku sambil mengangkat ibu jariku ke arahnya.


“Aku tahu, beristirahatlah dan bersihkan dirimu sebelum makan malam,” ungkapnya yang aku balas dengan anggukan kepala.


__________________.


Aku meletakkan sisir kembali di meja rias ketika suara ketukan pintu diiringi suara Tsubaru yang memanggil terdengar dari luar. Aku menarik kembali napasku sebelum aku beranjak lalu berjalan mendekati pintu. “Apa mereka semua telah berkumpul?” tanyaku kepada Tsubaru saat aku telah berjalan keluar dari kamar.


“Mereka-” ucap Tsubaru terhenti. Aku berbalik ke belakang saat suara langkah kaki bergerak mendekat, “nii-chan, kau juga baru keluar?” tanyaku kepada Izumi yang berjalan mendekat dengan Tsutomu yang berjalan di belakangnya.


“Aku baru saja terbangun sebelum Tsutomu datang menjemput,” ucapnya yang menghentikan langkah sejenak dengan menoleh ke arahku yang berdiri di sampingnya.


Kami berdua berjalan beriringan menuruni anak tangga, “bagaimana keadaannya?” tanyaku tanpa menoleh sedikit pun kepada Izumi.


“Dia baik-baik saja,” tukas Izumi, lama dia terdiam sebelum helaan napas keluar dari bibirnya, “dia berulang kali meminta maaf kepadaku. Aku, merasa serba salah untuk menanggapinya,” sambung Izumi kembali melanjutkan perkataannya.


Aku mengangkat wajah, menatapi Izumi yang masih tertunduk. Kuangkat sebelah tanganku mengusap punggungnya hingga dia menoleh ke arahku, “aku baik-baik saja,” ucapnya tersenyum sebelum membuang kembali pandangannya dariku.


Izumi sedikit mempercepat langkahnya berjalan di depanku, aku turut mengikutinya duduk di samping kursi yang ia duduki. Aku mengangkat pandanganku, menatap Tatsuya, Arata dan Yuki yang telah berdiri di belakang Haruki, Ryuzaki dan juga Eneas.


“Putri, apa ada yang Putri inginkan?”


Aku mengangkat wajahku sedikit ke belakang, ke arah Tsubaru yang berdiri di belakangku, “terima kasih Tsubaru, aku benar-benar ingin memakan Ikayaki saat ini,” tukasku sambil tersenyum menatapnya.


Aku berbalik dengan meraih seekor gurita bakar yang ditusuk oleh sebilah bambu, lama kutatap tubuh gurita tersebut yang telah penuh akan baluran kecap. “Bagaimana rasanya?” Aku berbalik menatap Izumi yang kembali bersuara.


Aku menganggukkan kepala sambil terus mengunyah,” Apa kau ingin mencicipinya, nii-chan?” tanyaku sambil meraih satu lagi Ikayaki yang ada di atas piring di hadapanku kepada Izumi.


“Terima kasih,” timpal Izumi ketika dia meraih Ikayaki tersebut dari tanganku lalu menggigitnya.


“Maaf, karena telah menamparmu sore tadi. Aku ingin,” ucapku terhenti, aku sedikit membuang pandanganku dengan menggenggam erat kedua tangan, “aku ingin, kita benar-benar menjalani hidup baru. Lupakan semua hal yang sekiranya akan menyakitkan … Kau memiliki kami semua, Ryu. Kedua kakak kita sangat mengagumkan, Eneas dan juga Lux pun sama hebatnya. Ayah, dan mereka yang ikut mendukung Sora pun, sangat-sangatlah mengagumkan. Jadi, jangan menanggung semuanya sendirian,” sambungku kembali kepadanya.


Ryuzaki mengarahkan tatapannya melirik ke sekitar, kedua tangannya lagi-lagi terangkat mengusap kedua matanya saat dia menundukkan kepalanya. “Apa kau ingin mencoba ini, Ryu?” Ryuzaki mengangkat kembali wajahnya saat suara Izumi lagi-lagi terdengar.


“Atau, apa Ryu nii-san ingin mencoba Dango ini? Atau Mochi?” Eneas terdengar menimpali perkataan Izumi diikuti sebelah tangannya mengangkat sepiring penuh Mochi.


“Apa kau menginginkan buah? Aku bisa berbagi buah milikku jika kau ingin,” sambung Lux yang masih mengunyah sebutir Anggur yang ia peluk.


Aku tersenyum saat Ryuzaki melirik ke arahku, dia kembali menundukkan wajahnya dengan tak lama terlihat senyum kecil yang ia buat, “Izumi, nii-san … Aku, ingin mencicipinya,” ucap Ryuzaki sambil menunjuk ke arah Ikayaki yang ada di tangan Izumi.


_______________.


Aku duduk bersandar di ranjang sambil menatap Tsubaru yang masih sibuk merapikan lipatan-lipatan kain yang ada di hadapannya. “Apa yang ingin Putri pakai untuk besok? Kita akan berangkat sangat pagi, jadi aku akan mempersiapkannya saat ini juga,” ucapnya dengan menoleh ke arahku.


Aku sedikit beranjak lalu merangkak sedikit maju sebelum aku kembali duduk di ranjang menatapinya, “Tsu nii-chan, kau terlihat bersemangat sekali,” ungkapku.


Tsubaru kembali menundukkan pandangannya dengan kedua tangannya bergerak memasukkan satu lipatan kain ke dalam tas yang ada di sampingnya, “ini, pertama kalinya aku mengurusi semua keperluanmu saat melakukan perjalanan setelah beberapa tahun, Putri. Tentu saja, melayanimu, Putri, sangatlah membahagiakan untukku sendiri,” ungkapnya menoleh lalu tersenyum sebelum kembali tertunduk melipat beberapa kain yang ia susun meninggi di hadapannya.


“Tsu nii-chan, apa yang nii-chan rasakan, saat aku … Tiba-tiba muncul kembali di hadapanmu dalam keadaan hidup tempo lalu?" ucapku sambil menatapnya yang telah menghentikan gerakan tangannya ketika aku mengatakan hal tersebut.


“Sejujurnya Putri, aku … Telah memohon kepada Yang Mulia untuk mengeksekusiku. Jika Putri kehilangan nyawa, maka sudah menjadi kewajiban untukku mengikutinya ke mana pun. Karena selama aku hidup pun nanti, pikiranku tidak akan lepas pada Putri kecil yang aku besarkan.”


Tsubaru menghentikan perkataannya, dia menarik napas dalam sebelum menoleh kembali ke arahku, “tetaplah bersamaku, Tsubaru. Kau dilarang pergi ke mana pun tanpa izin dariku … Apa Putri ingat akan kata-kata itu?” tukas Tsubaru dengan kembali tersenyum menatapku.


“Janjiku padamu, Putri. Lebih kuat, dibanding sumpah darah yang aku lakukan kepada Yang Mulia untuk menjagamu. Namun, Yang Mulia menolak permohonanku. Dia mengatakan, Putriku Sachi … Akan sangat membenciku, jika aku mengeksekusimu yang sudah seperti kakaknya sendiri. Walau bagaimana pun Tsubaru, kau sudah seperti Putraku sendiri, bagaimana mungkin … Aku mengeksekusi Putraku sendiri.”


Perkataan Tsubaru lagi-lagi terhenti, dia kembali menarik napas dalam sebelum mengembuskannya, “Sora, sudah seperti rumahku sendiri. Kebaikan keluarga kalian, tidak akan pernah aku lupakan. Aku bisa belajar banyak hal, aku bisa membaca banyak sekali huruf dari Kerajaan-kerajaan lain … Aku bisa menjadi Tsubaru yang sekarang, semua hanya karena kebaikan keluarga kalian.”


“Tsu nii-chan, tahukah Tsu nii-chan, jika aku dulu selalu bermimpi untuk menikah denganmu."



Gerakan Tsubaru lagi-lagi terhenti sebelum lama dia menatap ke arahku, "seperti bayangan bulan yang jatuh ke atas permukaan air. Sekilas terlihat indah ketika menatap mereka bersatu, walau sebenarnya … Mereka dibatasi jarak yang sangat jauh. Jadi, jangan bercanda dengan mengatakan kata-kata seperti itu lagi, Putri. Aku merasa tidak pantas untuk mendapatkan kata-kata itu darimu,” ucapnya yang kembali menggerakkan kedua tangannya memasukkan satu per satu tumpukan kain ke dalam tas.