
Berjalan aku mendekati tepi pagar seraya menoleh aku ke bawah, tampak terlihat beberapa puluh Kesatria musuh tertunduk menahan perih. Tubuhku terhentak saat pandangan mataku tak sengaja menatap mata seorang Kesatria yang tampak meleleh...
"Panah mereka semua!" teriakku tanpa sadar.
Puluhan anak panah tampak menghujani mereka, jatuh mereka satu-persatu ke permukaan tanah diikuti darah yang mengalir di sekitarnya...
Maaf, aku hanya ingin membebaskan penderitaan kalian.
Kualihkan pandangan mataku kembali ke arah Kesatria kami yang tengah memotong-motong tali yang di panah oleh pasukan musuh menggunakan tombak yang mereka genggam.
Angin sejuk pertanda habisnya siang berembus, kutatap langit yang tengah menyiratkan gurat-gurat kemerahan. Beratus-ratus Kesatria musuh berbalik berjalan menjauhi gerbang...
Menoleh aku seraya menatap para Kesatria yang ikut menatapku. Kugenggam telapak tanganku dengan sangat kuat lalu kuangkat setinggi mungkin ke atas... Teriakan riuh kemenangan di hari pertama menggema kuat di sekitarku, kupandangi para Kesatria yang telah bekerja keras itu seraya tersenyum aku menatap mereka...
Terima kasih Tuhan, semuanya berjalan sesuai rencanaku.
______________
Bersandar aku di dinding benteng seraya kuarahkan pandangan mataku ke atas. Bintang malam yang tampak berhamburan memenuhi pandanganku...
"Aku membawakan makanan untukmu," ucap Savon, menoleh aku menatapnya yang berjalan mendekat dengan sebuah piring berisi penuh makanan beserta sebuah gelas di tangannya yang lain.
"Terima kasih," ucapku padanya, kuraih piring beserta gelas yang digenggamnya.
"Apa kau baik-baik saja?" terdengar suara ikut mendekati.
Kembali aku menoleh ke arah sumber suara tersebut, tampak kulihat Haruki, Izumi beserta Eneas berjalan ke arah kami.
"Aku baik-baik saja nii-chan," ucapku seraya menatapi mereka.
"Tidak ada yang terluka bukan?" ucap Haruki yang langsung berjongkok di hadapanku, dipegangnya daguku menggunakan kedua jarinya seraya digerakkannya kepalaku menghadap ke kanan dan juga kiri.
"Aku baik-baik saja nii-chan," ucapku lagi padanya.
"Sepertinya kau berhasil memukul mundur musuh," ucap Izumi, menoleh aku ke arahnya yang tengah mengarahkan pandangannya ke bawah benteng yang masih dipenuhi mayat-mayat musuh.
"Sepertinya," jawabku singkat padanya.
"Kapten," ucap Savon, ikut menoleh aku ke arah yang mencuri perhatiannya.
Kutatap Gil yang berjalan mendekat, tampak terlihat beberapa bercak darah mengenai pakaian yang ia kenakan. Berdiri ia seraya menatapi kami satu persatu...
"Sepertinya kau berusaha keras seharian ini, Gil?" ungkap Haruki balas menatapnya.
"Ketika aku melihat jika musuh yang menyerang tidak lain para pasukan yang pernah aku latih, membuat aku sedikit melunak," balasnya seraya diarahkannya pandangannya ke atas.
"Tapi bukankah aneh? Mereka lemah sekali dalam pertarungan," sambung Izumi berbalik lalu menyandarkan kembali tubuhnya di dinding.
"Dan kalian tidak menyadari jika akan terjadi pemberontakan?" lanjut Izumi.
"Apa kau pikir, Raja akan mendengarkan perkataan kami yang menjelek-jelekkan pamannya sendiri?" sambung Savon kembali menjawab pertanyaan Izumi.
"Gil?" ucapku menatapnya, menoleh ia balas menatapku.
"Apa kau pernah melihat langsung surat hutang yang ditandatangani oleh Raja sebelumnya dan juga Kaisar?" tanyaku padanya.
"Tidak pernah, hal itu juga diketahui ketika beberapa hari setelah berita kematian Raja sebelumnya tersebar," ungkapnya menatapku.
Kulirik Haruki yang juga ikut melirik ke arahku, berkali-kali kulihat ia yang tak henti-hentinya memijat-mijat kepalanya sendiri. Kusandarkan kepalaku di dinding seraya kuarahkan pandanganku ke atas...
"Ada apa? Apa ada yang salah?" tanya Gil.
"Aku tidak tahu, bagaimana kalian dapat bertahan hidup selama ini. Kenapa juga Raja kalian sangat bodoh seperti itu," ucap Haruki bernada ketus.
"Aku akan menjelaskannya langsung kepada kalian, tapi nanti setelah perang berakhir," ungkapku, kutatap wajah Gil dan juga Savon yang tampak kebingungan.
"Apa kau sudah makan nii-chan, Savon membawakan makanan," ucapku lagi seraya kutatap wajah Haruki yang masih menyiratkan kekesalan.
"Aku baik-baik saja, makanlah," jawabnya, disandarkannya tubuhnya di dinding benteng.
"Bagaimana denganmu, Kei nii-chan? dan juga Kenta?" sambungku, seraya kualihkan pandanganku pada Izumi dan juga Eneas.
"Aku tidak lapar."
"Aku sudah makan bersama Raja," ucap Izumi dan Eneas bergantian padaku.
"Aku kesini ingin mendengar informasi tentang pertempuran hari ini dan juga ingin membahas strategi untuk besok Sa-chan."
"Seperti yang Kei nii-chan lihat, hari ini kami hanya memukul mundur musuh dengan jebakan yang kami buat. Tapi aku benar-benar tidak mempunyai strategi yang ingin aku lakukan besok," ucapku seraya mengangkat kepalaku ke atas.
"Bagaimana denganmu Kei?" sambung Haruki kepada Izumi.
"Entahlah, aku mungkin sedikit beruntung karena musuh yang kami hadapi sangat sedikit dibandingkan jumlah pasukan kami. Jadi aku hanya memerintahkan para Kesatria untuk menebas musuh yang mendekati mereka," jawab Izumi santai kepada Haruki.
"Bagaimana denganmu Gil?"
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku sedikit lengah jadi ada beberapa bagian tembok yang hancur. Beberapa pasukan yang aku pimpin juga terluka, dan akupun tidak memikirkan rencana apapun," lanjut Gil, berbalik aku menatapnya yang tengah mengarahkan pandangannya ke atas.
"Bagaimana denganmu nii-chan?"
"Aku? Aku meminta Kenta untuk membuatkan aku racun yang sangat kuat, jadi dia membuatkan... Apa namanya?" ucap Haruki seraya mengalihkan pandangannya kepada Eneas.
"Aku hanya membuat racun yang mudah sekali terbakar, jadi nii-chan menyuruh pasukannya untuk dihamburkan ke jalan yang akan dilalui musuh. Ketika musuh melewatinya, dia hanya memerintahkan para Kesatria untuk menembakkan panah api. Dan jadilah, para pasukan-pasukan musuh itu mati keracunan," ucap Eneas, dibalasnya perkataan Eneas tadi dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya Haruki.