Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDLXIII


Aku memeluk erat leher Kou saat angin semakin kuat berembus, kualihkan pandanganku ke arah Rembulan yang masih bersinar terang di langit. Semakin aku bersandar di lehernya, semakin hening … Keadaan yang menyelimuti sekitar.


“Apa kau lelah, My Lord?” bisikan Kou menyentuh pikiranku.


Aku beberapa kali mengerjapkan mata, “kau benar, aku lelah,” balasku berbisik kepadanya.


“Pegangan yang erat, aku akan mencarikanmu tempat untuk beristirahat,” tukasnya yang lagi-lagi terngiang di pikiran.


______________


Kicauan burung tak henti-hentinya mengetuk telinga, dengan perlahan … Kubuka kedua mataku yang sedikit silau saat seberkas sinar menjatuhinya. Aku beranjak duduk, kutatap Kou yang memejamkan matanya di sampingku. Kuusap wajahnya dengan sesekali aku melirik ke arah beberapa pohon di sekitar yang telah roboh ke tanah.


Aku kembali duduk bersandar di tubuh Kou, ikut kugerakkan telapak tanganku mengusap lempengan es yang membekukan tanah di dekat kami. “Kau sudah bangun?” Aku kembali menoleh ke arahnya ketika Kou telah mengangkat kembali wajahnya.


“Bagaimana keadaanmu, My Lord?” tanyanya, Kou menggerakkan kepalanya ke atas pahaku.


Aku mengangkat telapak tanganku mengusap kepalanya itu, “aku baik-baik saja. Dekat denganmu, membuat tubuhku tidak terlalu merasa lelah,” jawabku sambil mengarahkan pandangan ke arah pepohonan yang ada di sekitar.


“Kou, bawa aku kembali ke sana,” ucapku kembali melirik ke arahnya.


Kou melilitkan ekornya di pinggangku seraya beranjak ia berdiri lalu mengangkat dan menurunkan aku kembali di punggungnya, “sesuai perintah darimu, My Lord,” ungkapnya, kupeluk erat lehernya ketika Kou berjalan sedikit ke depan sambil membentangkan kedua sayapnya.


Kepakan kuat sayapnya menerbangkan kami berdua, kuarahkan pandanganku ke sebuah pulau kecil di tengah lautan. Aku kembali melirik ke arah Kou, “kau membawaku ke Pulau yang tak berpenghuni?” tanyaku kepadanya.


“Aku harus menjagamu, My Lord. Aku harus memastikanmu aman dari apa pun," jawabnya yang semakin mempercepat laju terbangnya.


Kou terbang membawaku berbelok cepat ke kanan, aku melirik ke bawah ... Ke daratan yang dipenuhi puing-puing bangunan dan juga pepohonan malang-melintang di mana-mana.


Kou terbang merendah lalu memijakkan kakinya di pasir pantai, dengan cepat aku segera turun dari atas punggungnya ketika Kou menekuk kakinya hingga tubuhnya terduduk di sana.


Aku berjalan mendekat lalu kuusap kepalanya yang menoleh ke arahku, "aku akan berjalan sendirian dari sini, jadi ... Jaga aku dari atas," ungkapku dengan kembali mengusap kepalanya.


"Aku mengerti, My Lord," tukas Kou yang kembali beranjak berdiri saat aku memundurkan langkah ke belakang.


Kepalaku mendongak, menatap Kou yang telah terbang di atasku. Aku kembali membalikkan tubuh, napasku keluar saat kedua mataku terlempar ke sekitar.


Aku menutup kuat hidung menggunakan telapak tangan saat bau anyir tiba-tiba menyeruak masuk. Dengan perlahan, kedua kakiku melangkah maju, membelah reruntuhan puing yang tercecer tak tentu arah.


Langkah kakiku terhenti, saat dua mayat laki-laki dengan tubuh berbalut lumpur hitam, berbaring menelungkup di hadapanku. Aku sedikit bergerak ke samping, melanjutkan langkah dengan menghindari kedua mayat tadi.


Langkah kakiku bergerak semakin cepat, kadangkala aku melangkahi beberapa mayat yang terkapar hanya untuk melanjutkan langkah. "Maafkan aku. Jika saja kalian masih memiliki sifat layaknya manusia, aku mungkin tidak akan melakukannya," gumamku pelan dengan tetap mempercepat langkah.


"Sachi!"


Aku mengangkat kepalaku, mencari suara yang semakin jelas terdengar memanggil namaku. Aku berjongkok dengan menutup wajah menggunakan telapak tangan, beberapa kali helaan napas lega keluar dari bibirku.


"Kau benar-benar mengejutkan kami!"


Kepalaku mendongak ke atas saat suara Lux kembali terdengar, "bagaimana dengan mereka?" Tanyaku kepadanya dengan suara bergetar.


"Semuanya baik-baik saja. Astaga, aku hampir tidak percaya, saat laki-laki itu menyampaikan pesan darimu," ungkap Lux, dia sedikit menunduk dengan tangan kanan memijat keningnya.


Aku beranjak berdiri lalu berjalan saat Lux terbang menuntunku di depan. "Kau benar-benar gila, Sachi! Satu Kerajaan hancur hanya dalam semalam karenamu," ucap Lux, dia berhenti lalu berbalik terbang mendekat.


"Aku tidak melakukan apa pun, para Duyung yang melakukannya," jawabku santai ketika dia telah duduk di pundakku.


Aku kembali melangkah, melewati dua mayat yang saling bertumpuk, "apa kalian melakukan semua yang aku pinta?" tanyaku sambil melirik ke ujung mata, berusaha untuk menatapnya.


"Benar-benar seperti mimpi buruk semalam. Dari Sore, ketika laki-laki itu membawakan kabar darimu ... Haruki, Izumi berdebat habis-habisan dengan wakil kapten yang menjaga Pangeran itu."


"Tentu saja, kedua kakakmu membelamu habis-habisan saat wakil kapten itu mengatakan bahwa kau gila. Izumi bahkan mematahkan gigi wakil kapten tersebut," ucap Lux diikuti suara tertawa kecil darinya.


"Saat keadaan memanas, Haruki menarik Izumi agar berhenti meladeni mereka. Haruki mengancam seperti ini, 'aku tidak perduli akan nyawa kalian. Kalian ingin percaya atau tidak, itu keputusan kalian. Tapi Alma, apa kau lupa siapa yang menyelamatkanmu di hutan dulu?' Kau pasti sangat paham, bukan? Bagaimana Haruki mengancam seseorang."


Aku menganggukkan kepalaku, "lalu, apa yang terjadi selanjutnya?" tanyaku lagi, kepalaku menunduk menatap sebuah lengan yang tergeletak di hadapanku.


Aku kembali berjalan maju lalu menendang kuat-kuat potongan lengan tadi hingga dia menghilang entah ke mana. "Haruki melempar tas yang dibawa Izumi, sampai semua perhiasan yang kita simpan tercecer di lantai. Dia melakukannya sambil mengatakan, 'bukan hanya kalian yang memiliki harta. Apa kau lupa siapa kami? Kami Pangeran dan juga Putri Kerajaan Sora, Kerajaan yang bahkan lebih kaya dibanding Kerajaan kalian.' Aku benar-benar sangat menyukainya, saat Haruki menyatakan hal tersebut kepada mereka," sambung Lux yang terdengar bersemangat.


"Pangeran itu, wakil kapten dan dua orang laki-laki yang bersama mereka terdiam. Perjuangan mereka berakhir, saat Pangeran itu sendiri yang membantah sindiran yang dikatakan oleh wakil kaptennya. Dia mengatakan, 'jika Sachi sudah memberi perintah seperti itu, sudah seharusnya kita melakukannya untuk selamat.'"


"Jadi, Pangeran membohongi pamannya, dia mengatakan ingin mencuci mata, mencari udara segar. Jadi, kami semua keluar dari rumah Duke, dengan membawa seluruh pasukan Kerajaan Juste."


"Haruki meminta kami untuk berkumpul di dataran tinggi sebelum memutuskan untuk berpencar. Kami membebaskan banyak sekali budak, lalu membawa mereka mengikuti kami menaiki bukit yang berada jauh di belakang Istana."


"Saat kami semua berkumpul di tengah hutan, suara gemuruh tiba-tiba terdengar. Aku, sempat tidak percaya saat Izumi mengatakan, ombak tinggi membanjiri seluruh Kerajaan, sebelum aku merasakan sendiri sihir Kou di udara, dan sihir dari para ikan itu yang mengarah dari depan."


"Aku, benar-benar tidak menyangka, jika semuanya terjadi dalam waktu semalam," sambung Lux kembali yang terdengar di samping telinga.