Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXI


"Apa kau baik-baik saja?" ucap Izumi seraya sebelah telapak tangannya menyentuh keningku.


"Apa yang terjadi?" ikut terdengar suara Haruki yang mengikuti, kuarahkan pandanganku melirik ke arahnya yang telah duduk di samping Izumi.


"Dia demam, tubuhnya panas sekali," ungkap Izumi kembali seraya diarahkannya telapak tangannya tadi dari atas keningku.


"Kau jaga dia saja Izumi, biarkan Daisuke dan aku yang pergi ke sana."


"Aku baik-baik saja, kalian bisa pergi. Lebih banyak yang pergi, semuanya akan lebih cepat terselesaikan. Setelah istirahat, aku akan baik-baik saja," ungkapku pelan menatapi mereka berdua bergantian.


"Kalau begitu, aku saja yang menjaga dia," ucap Lux terbang dan hinggap duduk di pundak Haruki.


"Mereka lebih membutuhkan bantuanmu, kau pergilah bersama mereka Lux," ungkapku balas menatapnya.


"Aku baik-baik saja, kalian terlalu mengkhawatirkanku," sambungku kepada mereka kembali.


"Baiklah, pastikan jangan membuka pintu apapun yang terjadi. Kami akan segera kembali," ungkap Haruki kembali padaku, kubalas perkataannya dengan sedikit anggukan kepala yang aku lakukan.


Masih kuarahkan pandanganku melirik ke mereka semua yang beranjak dan berjalan menjauh. Kualihkan pandanganku berbalik ke sisi lainnya saat pintu kamar kembali tertutup...


Rasa menusuk di leherku semakin terasa tatkala kepalaku sedikit bergeser di atas bantal keras yang menopang kepalaku itu. Lama kutatap dinding kayu yang ada di kamar, sesekali bau apek yang berasal dari bantal menusuk hidungku beberapa kali...


"Kepalaku sakit sekali," ungkapku seraya beberapa kali helaan napas keluar tanpa sadar.


Kugerakkan kedua tanganku mendekati kedua sisi bantal seraya ikut kugerakkan tubuhku mencoba untuk beranjak. Aku tertegun beberapa saat, rasa sakit di kepalaku seakan memudar tergantikan dengan rasa sakit yang menjalar di pundakku...


"Rasanya sakit sekali, bagaimana caranya Zeki bisa kembali bertempur saat itu? Aku meragukan kemanusiaan pada dirinya," ungkapku seraya kugerakkan kedua tanganku menggenggam kedua ujung bantal.


Kutarik napasku dalam-dalam seraya kuembuskan kembali dengan perlahan, tubuhku bergerak pelan mencoba beranjak berdiri dengan berpangku pada kedua tangan...


Kugigit kuat bibirku saat luka di pundakku kembali memunculkan rasa perihnya. Kedua kakiku bergerak pelan melangkah mendekati pintu, kugerakkan telapak tanganku meraih kunci yang terbuat dari paku dan tali yang sempat dibuat Daisuke semalam.


Kugerakkan paku tadi melewati besi kecil yang terpasang di sisi pintu seraya kugerakkan tanganku pelan mencoba menggerakkan pintu yang kembali terkunci itu...


Aku membalikkan tubuhku sembari melangkahkan kaki mendekati pintu kamar mandi yang terbuat dari kayu yang hampir lapuk. Suara besi berderit saat pintu tersebut bergeser ke dalam, kedua kakiku kembali melangkah melewatinya...


Berjalan aku mendekati sebuah ember kayu kecil yang ada di sudut kiri ruangan, kugerakkan kakiku berjongkok seraya sebelah tanganku berusaha meraih air yang ada di dalamnya. Kuarahkan air yang memenuhi telapak tanganku tadi menyentuh dan membasuh wajah...


Beranjak berdiri aku sembari sesekali kutepuk-tepuk pelan punggungku, tubuhku berbalik sembari kakiku melangkah menjauhi ember kayu kecil tadi. Kualihkan pandanganku pada telapak tangan kananku yang masih basah, kuarahkan telapak tanganku tadi menyentuh dan mengusap pelan leherku...


Rasa gerah pada leherku berkurang dengan sapuan sisa-sisa air yang ada di telapak tanganku tadi. Langkah kakiku bergerak semakin mendekati pintu kamar mandi...


Entah kenapa? Bau lembab yang memenuhi ruangan memusingkan seluruh bagian otakku.


Kuarahkan telapak tanganku meraih gagang pintu, kugerakkan gagang pintu tadi ke bawah sembari kutarik ke belakang pintu yang usang tersebut. Suara deritan kembali terdengar tatkala pintu tersebut bergerak terbuka...


Kedua kakiku melangkah melewati pintu... Tubuhku tiba-tiba terjungkal ke depan, wajahku tertunduk menyentuh lantai tatkala pundakku yang terluka bergesekan langsung dengan lantai...


Kuarahkan pandanganku yang berbinar menatap bayang-bayang berjubah hitam yang berjalan mendekati. Kugerakkan kepalaku beralih menatap pintu kamar yang telah terbuka seraya kembali kugerakkan wajahku menatapi sosok misterius tadi...


Kugerakkan tubuhku mencoba beranjak berdiri... Jatuh kembali aku hingga kerasnya lantai kayu kembali menampar wajahku dengan keras. Dadaku terasa sesak, kualihkan tatapanku menatap sebelah kakinya yang sedikit terangkat itu...


Tubuhku tak bisa digerakkan, punggungku seakan ditimpa sesuatu yang sangat berat. Tubuhku terhentak, berkali-kali aku terbatuk-batuk saat kurasakan injakan kuat yang beberapa kali menimpa punggungku...


"Apa yang ingin kalian lakukan di sini?"


"Jangan coba-coba mencampuri urusan kami," ucap sosok berjubah tadi mengeluarkan nada suara laki-laki, kembali kugigit kuat bibirku saat injakan kuat tersebut kembali menghantam punggungku.


Kugigit pelan lidahku seraya sekuat mungkin kutahan agar suaraku tak keluar. Aku tidak bisa memikirkan, apa yang akan ia lakukan jika dia tahu aku seorang perempuan...


Sosok berjubah tadi menggerakkan tubuhnya berjongkok di sampingku, lama ia menatapku yang juga balas menatapnya. Kualihkan pandanganku pada telapak tangannya yang bergerak menepuk-nepuk pelan pipiku...


Leherku tersekat saat telapak tangannya menggenggam erat leherku, genggamannya semakin kuat dan semakin kuat mencekik dari samping leherku. Pipiku basah tanpa sadar, pandangan mataku mengabur diiringi semakin derasnya air mataku yang keluar...


"Kalian mencampuri pekerjaan kami! Apa kalian tidak mengetahui, penginapan ini dibangun oleh Ketua kami!"


"Matilah! Jika Ketua kami mengetahui kami membiarkan kalian, Ketua akan menghukum kami semua. Jadi Matilah! Matilah!" Ucapnya setengah berteriak padaku, kurasakan kepalaku seakan tersengat saat cekikan di lehernya semakin kuat.


"Sial-an," ucapku dengan napas tersengal-sengal seraya kuarahkan telapak tanganku mencoba meraih lengan pria berjubah tadi. Pandangan mataku semakin mengabur dan semakin mengabur...


Aku tidak ingin mati, Tuhan. Tidak untuk saat ini...