Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXXV


Kuarahkan pandanganku menatap kedua lengan yang aku silangkan di dada, bulu-bulu halus yang memenuhi lenganku tampak berdiri tatkala suara cambukan kembali terdengar di telinga.


Air yang menggenang di lantai tak pernah sedikitpun tenang, selalu berombak dan semakin berombak ketika cambukan-cambukan yang ada kembali memukul kuat kedua laki-laki bertubuh besar tadi.


Pandangan mataku beralih pada seorang laki-laki yang berjalan melewati, tampak sebuah ember kayu berisi benda seperti kristal berwarna bening digendong di dadanya.


Kesatria yang membawa ember kayu tadi berjalan semakin mendekati Haruki. Haruki menoleh menatapnya dengan sebelah tangannya bergerak meraih dan menggenggam benda kristal tadi. Diarahkannya kembali tangannya yang telah penuh dengan benda tadi mendekati tubuh salah satu laki-laki bertubuh besar yang ada di hadapannya.


Laki-laki tersebut menjerit kesakitan tatkala Haruki menabur dan mengoleskan benda tersebut di atas lukanya yang menganga. Kualihkan pandanganku menatap laki-laki bertubuh besar tersebut yang tampak merintih menahan sakit dengan wajah tertunduk.


"Jangan membuang-buang waktuku. Atau aku akan menaburkan semua garam ini ke seluruh luka yang ada di tubuh kalian berdua," ucap Haruki kembali seraya sebelah tangannya meraih dan menggenggam garam yang masih memenuhi ember.


"Lakukan! Lakukan apapun yang kalian inginkan pada kami. Tuan kami, tidak akan meninggalkan kami," ungkap laki-laki berkulit gelap dengan kepala tertunduk.


"Tuan? Siapa dia?" sambung Niel melangkahkan kaki mendekati laki-laki tadi.


Laki-laki berkulit gelap tadi mengangkat kepalanya menatapi Niel. Niel menundukkan kepalanya tatkala laki-laki tadi meludahi wajahnya, kualihkan pandanganku menatap kedua tangannya yang telah tergenggam.


"Berikan aku pedangmu!" ungkap Niel masih tertunduk, diangkatnya tangan kanannya ke arah Kesatria yang memegang cambuk di belakang laki-laki berkulit gelap tadi.


"Apa kau berniat membunuhnya?" ucapku saat kulihat sebilah pedang dari Kesatria tadi telah berada di genggamannya.


"Menurutmu?"


"Jangan lakukan itu! Kau mendengarku Niel!" Ungkapku seraya kulangkahkan kakiku semakin mendekati mereka.


"Dia meludahi wajahku. Rakyat jelata ini berani meludahi wajahku," ungkap Niel kembali dengan nada sedikit bergetar, diangkatnya pedang yang ia genggam tadi mendekati wajah laki-laki bertubuh gelap tadi.


"Berapa? Berapa banyak yang kalian dapatkan dari Tuan kalian tersebut?" ungkapku menghentikan langkah di belakang Izumi.


"Apa kau sedang membujuk kami dengan uang yang kalian punya?" ucap laki-laki satunya diiringi suara tawa yang keras.


"Buat apa aku mengeluarkan uang untuk manusia rendahan seperti kalian berdua," ungkapku menatapi mereka bergantian.


"Bagaimana jika kau menghibur kami saja gad..."


Perkataan laki-laki bertubuh gelap tadi terhenti, digantikan dengan raungan teriakan memilukan yang ia lakukan. Kepalanya tertunduk, dengan kedua pahanya bergerak berusaha saling mendekat satu sama lain. Kualihkan pandanganku pada Izumi yang kembali menarik kaki kanannya setelah menerjang keras anggota tubuh bagian bawah laki-laki tadi.


"Tutup mulutmu! Atau akan kubuat wajah jelekmu terbang menjauh dari tubuhmu," ucap Izumi mengarahkan tatapan matanya kembali pada laki-laki tadi.


"Kalian berdua mengonsumsi serbuk tersebut bukan?"


"Apa kalian berdua paham akan bahayanya serbuk tersebut?" ucapku kembali pada mereka.


"Sepertinya aku sia-sia mencoba melakukan kebaikan untuk kalian. Bisakah kalian mengganti hukuman mereka?" ungkapku mengalihkan pandangan kepada Haruki yang juga telah mengarahkan pandangannya menatapku.


"Apa yang ingin kau lakukan, Sa-chan?" ungkapnya padaku.


"Ikat mereka berdua di atas kursi, dan tetesi dahi mereka dengan air secara terus-menerus tanpa henti," ungkapku tersenyum balas menatapnya.


"Apa kau bercanda?"


"Kau ingin aku mengizinkan kalian memberikan hukuman ringan kepada mereka?" sambung Niel, kugerakkan kepalaku balas menatapnya yang tengah mengusap-usap wajahnya dengan sehelai kain.


"Apakah aku mengatakan jika ini adalah hukuman yang ringan?" ucapku menjawab perkataannya.


"Lalu?"


"Aku akan menjelaskannya setelah kita keluar dari sini. Hanya pastikan saja hukuman tersebut terlaksana dengan baik," ungkapku kembali menjawabnya.


"Aku..."


"Niel, percayalah padaku. Aku tidak akan mengecewakanmu, lagipun... Aku tidak ingin berlama-lama disini, kakiku seakan menciut karena terendam air dari tadi," ungkapku mengalihkan pandangan darinya.


"Baiklah. Kalian dengar apa yang ia katakan? Lakukan semuanya, persiapkan semuanya seperti yang ia inginkan," ucap Niel membalikkan tubuhnya berjalan melewati.


"Laksanakan, Yang Mulia," ucap dua orang Kesatria yang berada di dalam ruangan menjawab perkataan Niel pada mereka.


"Haru-nii, jangan mengotori tanganmu untuk manusia rendahan seperti mereka. Aku akan memasakkan makanan kesukaanmu saat kita kembali ke Kastil Niel," ucapku mengarahkan telapak tanganku ke arah Haruki.


Haruki berbalik seraya dilemparkannya garam yang masih ia genggam sebelumnya. Ditariknya tanganku mengikuti langkah kakinya, kugerakkan kepalaku ke belakang, tampak Izumi telah berjalan mengikuti langkah kaki kami berdua.


"Apa kau pikir hukuman tersebut akan berhasil?" ucap Haruki saat kami telah keluar dari ruangan tadi.


"Jika hanya menyiksa fisik mereka tidak berhasil. Bagaimana jika mencoba dengan menyiksa psikologis mereka," ucapku ikut menatap lurus ke depan, kurasakan genggaman Haruki pada lenganku terlepas.


"Apa itu psikologis?" ucapnya menatapku.


"Aku bingung untuk menjelaskannya. Hanya saja, aku berniat menyerang mental dan juga pikiran mereka secara langsung."


"Mengalahkan orang yang kuat, tak harus selalu menggunakan kekuatan juga, nii-chan," sambungku seraya kuangkat lenganku tadi yang sedikit memerah dikarenakan genggaman Haruki.


"Aku ingin menghancurkan mental mereka. Seperti aku menghancurkan mental musuh-musuh kita sebelumnya," ucapku kembali padanya.