Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXXXV


"Apakah itu benar Izumi?" Tanya Zeki, matanya masih melirik ke arah Izumi yang semakin berjalan menjauh.


"Zeki," ucapku menepuk pelan pundaknya. Zeki berbalik mencoba melirik ke arahku, "ada apa?"


"Turunkan aku," jawabku membalas lirikannya.


Zeki menggerakkan tubuhnya sedikit berjongkok, dia kembali beranjak berdiri saat aku turun dari gendongannya. Dirangkulnya kembali pinggangku saat aku mencoba berjalan mendekati sisi kapal.


"Ebe," ucapku sedikit menundukkan kepala menatapnya.


Ebe masih terdiam tak bergeming, "Ebe," ucapku lagi padanya dengan sedikit lebih keras, dengan perlahan kepalanya terangkat menatapku.


"Maafkan kelakuan Kakakku," ucapku dengan menggerakkan kedua tangan yang saling menempel ke depan.


"Maaf? Untuk apa?" Ebe balik bertanya.


"Kau tahu," ucapku terpotong, lidahku terasa sangat keluh untuk mengatakannya.


"Aku baik-baik saja. Sedari awal aku juga sudah sadar, jika pangeran tampan sepertinya pasti telah memiliki pendamping," ucapnya kali ini dengan suara yang sedikit terdengar bergetar.


"Manusia ikan," kali ini suara Zeki terdengar, kepalanya sedikit bergerak ke depan menatap Ebe.


"Jika kau memang jatuh cinta pada Kakaknya. Jangan langsung menyerah hanya karena baru sekali saja ia tolak. Perlu kau ketahui, aku menghabiskan waktu sebelas tahun untuk membuatnya jatuh cinta," ucap Zeki, jari telunjuknya mengarah padaku sedangkan pandangan matanya masih menatap ke arah Ebe.


"Jadi jika kau benar-benar mencintai Kakaknya, jangan langsung menyerah hanya karena dia menolakmu sekali. Dan lagipula, setidaknya ... Berusaha terlebih dahulu, jika memang kalian tak ditakdirkan bersama, kau tidak akan menyesal melakukannya," ucap Zeki, dia kembali menggerakkan kepalanya menjauh dari sisi kapal.


"Aku mengerti, terima kasih. Sachi, Kakekku akan mengawasi kalian selama di perjalanan, jadi kalian akan baik-baik saja. Jaga diri kalian baik-baik," ucapnya kembali menenggelamkan diri ke laut.


Aku bergerak semakin maju, mataku melirik bergantian ke kanan dan ke kiri dengan bibirku yang memanggil namanya, "Ebe," namun Ebe tak muncul kembali.


Kuangkat wajahku menjauh dari samping kapal, aku menoleh ke arah Zeki yang berdiri bersandar di badan kapal, "apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengatakan hal itu kepadanya? Apa kau ingin membuatnya untuk tak berhenti berharap?" Tanyaku berulang kali kepadanya, Zeki kembali menoleh ke arahku.


"Bukan itu yang ingin aku lakukan," ucapnya dengan sedikit menghela napas. "Seseorang dapat tumbuh menjadi kuat karena cinta, siapa tahu bukan? Dia dapat menjadi senjata kuat untukmu ke depannya," sambungnya dengan menggerakkan tubuhnya semakin mendekati.


"Jangan katakan, kau sengaja melakukannya? Kau ingin memanfaatkannya?" Tanyaku hampir berbisik menatapnya.


"Aku, memang tak pernah perduli pada siapa pun, kecuali kau. Jadi, jangan berharap aku akan bersikap baik pada orang lain. Apa kau paham itu, Darling?" Zeki balas berbisik di telingaku, pandangan matanya melirik ke samping saat aku berusaha menatapnya.


"Katakan Zeki, apa yang kau lakukan untuk bisa datang ke sini?


"Aku hanya meminta Viscount Okan membantuku mengurusi masalah Kerajaan selama aku pergi."


"Lalu?" Balasku kembali melirik ke arahnya.


"Kau, masih belum bisa mempercayai seseorang Zeki?"


"Aku mempercayai Akash dan juga Kabir."


"Kau tidak mempercayai mereka, kau hanya memanfaatkan mereka ... Karena nasib Amithi dan juga Chandini, berada di tangan Julissa. Aku, benar bukan?" Tanyaku kepadanya, tampak terlihat senyum kecil yang tersungging di bibirnya.


"Seperti yang diharapkan dari tunanganku. Apa kelakuan menjijikan yang aku perbuat membuatmu mual?" Tanyanya kembali dengan sedikit membuang pandangannya berusaha menghindar.


"Aku pun melakukan hal yang sama pada semua orang. Aku melakukan semua ini juga, semata-mata hanya ingin kehidupanku tak diliputi rasa ketakutan lagi."


"Aaahhh, ini menjengkelkan sekali," ucapku menggerakkan kepala mendongak menatap langit.


"Saat umurku belum menginjak empat tahun, aku ketakutan setengah mati memikirkan bagaimana tunanganku nanti, atau bagaimana jika tunanganku itu tak berniat untuk menikah denganku. Karena itu, saat aku bertemu denganmu ... Aku menyarankan untuk melakukan perjanjian di antara kita berdua, maaf..."


"Maaf, karena aku memanfaatkanmu untuk kepentingan hidupku sendiri," sambungku kembali menatapnya, Zeki masih diam tanpa suara melirik ke arahku.


"Tapi sekarang, seperti yang Julissa dulu katakan ... Aku ingin, jika nantinya aku memiliki anak, dan dia terlahir sebagai perempuan ... Aku, tidak ingin dia merasakan ketakutan yang sama. Aku, tidak ingin dia merasakan sakitnya kulitmu dibakar menggunakan besi panas. Aku, ingin dia tumbuh dengan melakukan semua yang ingin dia lakukan tanpa merasakan ketakutan tentang apa..."


"Aku mengerti," ucap Zeki memotong perkataanku, tangannya bergerak meraih rambutku lalu diselipkannya kembali ke telingaku.


"Aku akan membantumu mewujudkannya, kita akan mewujudkannya bersama-sama. Sebenarnya, setelah pulang dari sini ... Aku akan mulai menyerang Kerajaan-kerajaan kecil yang ada di sekitar Yadgar, tentu saja Leta akan membantuku," ucapnya meraih tanganku lalu digenggamnya kuat.


"Ketika nanti aku mulai melakukannya, Kaisar pasti akan menaruh perhatian kepada kami. Aku tidak tahu, berapa lama waktu yang akan aku habiskan hanya untuk bertemu denganmu lagi. Aku, akan mengumpulkan banyak sekali pasukan untuk nantinya kau perintahkan dalam peperangan..."


"Apa kau kehilangan pikiran? Itu sangat berbahaya, sekali Kaisar menaruh perhatian padamu. Dia akan menghancurkan orang yang menarik perhatiannya itu sampai hancur tak bersisa," ucapku memotong perkataanya, kuarahkan telapak tanganku ke dadanya seraya kugenggam kuat pakaian yang ia kenakan.


"Aku tahu. Ayahmu juga telah memberikan peringatan tersebut padaku, tapi ... Semakin cepat kita mengumpulkan pasukan, semakin cepat pula peperangan itu akan terjadi. Kalian sendiri yang mengatakan, tak ada kesempatan untuk membuang-buang waktu."


Zeki tertunduk, helaan napas kuat dikeluarkan olehnya, "jujur, aku takut dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Aku takut, jika aku telah kehilangan nyawaku sebelum aku sempat mewujudkan semua impianku," ucapnya kembali, kali ini suaranya terdengar sedikit bergetar.


"Ze..."


"Sachi!" Teriakan Izumi menghentikan langkah kakiku sebelum sempat mendekati Zeki. Aku berbalik menatapnya yang tengah berdiri di samping Haruki, "ada apa nii-chan?" Tanyaku kepadanya.


"Persiapkan semuanya. Kita akan segera pergi saat menemukan daratan," ucap Izumi, beberapa orang laki-laki dari para perompak tampak berlari berlalu-lalang di pandangan kami.


"Secepat itu?" Tanyaku kepada mereka, Haruki membalas perkataanku dengan anggukan kepalanya.


"Tugas kita telah selesai, kita telah mengantarkan Jabari berserta rombongannya bergabung dengan para perompak. Aku telah mengirim kabar pada Ayah, jadi kemungkinan akan ada beberapa Kesatria yang menunggu di perbatasan untuk menjemput Yoona di sana saat Aydin mengantarnya..."


"Lagipula, ada Kerajaan yang ingin aku kunjungi. Kita akan melewatinya saat di perjalanan, jadi Izumi, bantu Sachi mempersiapkan semuanya," sambung Haruki kembali padaku.