Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCLI


"Siapa kau?" Ungkap Haruki dengan tetap bersandar di dinding kereta.


"Costa. Apa kau mengingatnya sekarang?" Ucap laki-laki tersebut menatap Haruki.


"Apa kau mengenalnya nii-chan?" Bisikku seraya kugerakkan kepalaku sedikit mundur ke belakang.


"Aahh, kau anak pedagang yang dulu mengemis di Kerajaan kami bukan?" Ucap Haruki menggerakkan kepalanya bersandar di pundakku.


"Mengemis?" Ungkapnya dengan sebelah tangan diangkat dan digenggamnya ke udara.


"Kami dahulu hanya mencoba menjalin kerja sama, bukan mengemis," ucapnya kembali dengan kedua matanya masih tertuju pada Haruki.


"Bukankah perjanjian di antara kita sudah terjalin, buktinya... Kehidupanmu lebih membaik ketika pertama kali kita bertemu," sambung Haruki kembali.


"Haruki, kau benar-benar," ucapnya lagi kepada kami.


"Baiklah. Dia temanku, Costa. Aku memintanya untuk menemani perjalanan kita selama di tempat itu," ucap Haruki mengangkat kepalanya dari pundakku.


"Teman? Kau punya teman, nii-chan?" Ucapku berbalik menatapnya.


"Dia anak salah satu pedagang yang sudah sejak lama menjalin kerja sama dengan Ayah. Dia sering ikut bersama Ayahnya dulu ketika aku dan Ayah membicarakan tentang perjanjian dagang. Jadi, secara tidak langsung aku juga mengenalnya," ucap Haruki kembali.


"Bisa dikatakan, aku mendapatkan info tentang pasar itu darinya. Sebenarnya, aku tak menyangka... Akan bertemu dengannya secepat ini, benar-benar kebetulan atau mungkin keberuntungan untuk kita," sambung Haruki dengan kedua tangannya kembali bersilang di dada.


"Mata hijau, Putri Takaoka Sachi. Aku benar bukan?" Ucap laki-laki tadi mengalihkan tatapannya padaku.


"Saat Putri masih kecil, aku seringkali melihatmu duduk di atas benda aneh yang tergantung di pohon dengan sebuah buku di tanganmu," ucapnya lagi padaku.


"Takaoka Sachi, senang berkenalan denganmu," ungkapku menganggukkan kepala ke arahnya.


"Bisakah aku mencium tanganmu sebagai penghormatan, Putri," ucapnya mengarahkan telapak tangannya padaku.


"Jika kau ingin tangan kesayanganmu itu terlepas dari tubuhmu, maka lakukan saja," ungkap Haruki menarik pundakku ke belakang.


"Lagipun," ucap Haruki terhenti, tampak mata laki-laki bernama Costa tadi melirik ke arah perempuan berselimut putih di sampingnya.


"Tak perlu khawatirkan dia, aku membayarnya hanya untuk menemaniku selama perjalanan," ucapnya mengalihkan pandangannya kembali menatapku.


"Apakah itu tempat yang dimaksud," ucap Izumi diikuti suara pukulan di dinding yang ada di belakang kami.


"Aku akan memeriksanya," sambung Costa bergerak membuka pintu sembari menggerakkan kedua kakinya ke luar.


"Berhati-hatilah dengannya, dia suka mempermainkan perempuan sama seperti Aydin," bisik Haruki tiba-tiba di telingaku, kubalas bisikan darinya dengan anggukan pelan kepalaku.


"Aku memiliki sebuah rumah di sana, kau dan adik-adikmu dapat tinggal di sana," ucap Costa kembali menatap Haruki.


"Bagaimana dengan izin masuknya?"


"Apa kau bercanda? Keretaku sudah dikenali para penjaga di sana, jadi aku tak akan kesulitan untuk masuk ke pasar itu," sambungnya tersenyum kepada Haruki.


________________________


"Apa Izu nii-chan akan baik-baik saja?" Ungkapku mengalihkan pandangan pada Costa.


"Maksudmu Pangeran Izumi?" Tukasnya yang kubalas dengan anggukan kepala.


"Aku telah memberikan arah untuk sampai ke kediaman ku padanya, jadi kupikir tak ada yang harus dilakukan. Walaupun, aku masih tak menyangka jika seorang Pangeran akan mengendarai kereta milikku," ungkapnya menggerakkan tubuh bersandar di pintu kereta.


"Aku mendengar jelas pembicaraan kalian di dalam, sialan! Jadi tutup mulutmu, atau akan kurobek hingga tak berbentuk lagi," tukas Izumi diikuti pukulan kuat di dinding kereta, kuangkat kepalaku yang bersandar seraya telapak tanganku bergerak mengusap-usap kepalaku itu.


"Kami masihlah seorang Pangeran dan juga Putri. Jadi jaga semua ucapanmu Costa," ungkap Haruki, mengangkat dan menyilangkan kedua lengannya.


"Tapi, bukankah aku juga temanmu. Jadi, tak masalah bukan jika aku berperan sebagai teman yang baik. Lagipun, akulah yang membantumu selama ini dari balik bayangan, Haruki," ungkapnya ikut menyilangkan kedua lengannya.


"Apa kau ingin bermain denganku?" Sambung Haruki memperbesar kedua matanya.


"Aku bercanda. Aku tidak ingin kehilangan sumber kekayaan, dan... Putri, aku mempunyai hadiah untukmu," ucapnya menggerakkan telapak tangannya merogoh ke dalam jubah yang ia kenakan.


"Aku membuatnya sendiri, aku ingin sekali berkenalan denganmu sejak dulu. Dan aku tak sengaja mengintip sebuah buku yang tak sengaja tertinggal olehmu di kursi taman, jadi aku mencoba membuatnya sendiri," ucapnya mengarahkan sebuah buku bersampul merah padaku.


"Untukku?" Ungkapku meraih buku tersebut, mengangguk ia dengan kuat seraya tersenyum lebar menatapku.


Kuletakkan buku tersebut di atas paha, jari-jemariku bergerak membuka ikatan pita hitam yang mengelilingi buku tadi. Pandangan mataku tertegun melihat isi buku yang ia berikan seraya jari-jariku bergerak menyusuri gambar-gambar yang terlukis di dalamnya.


"Kau membuatnya sendiri?" Ungkapku, kembali ia mengangguk membalas perkataanku.


"Terima kasih. Rasanya, sudah lama sekali aku tidak membaca cerita bergambar seperti ini. Aku dulu sempat ingin membuatnya sendiri, tapi karena aku payah sekali dalam menggambar... Aku tak pernah bisa melakukannya."


"Terima kasih," ucapku tertunduk, suaraku yang keluar terdengar bergetar. Kuarahkan sebelah lenganku mengusap kedua mataku yang entah kenapa telah basah.


Aku rindu sekali menghabiskan waktu membaca Manga maupun menonton Anime seperti yang selalu aku lakukan dulu. Apakah season tiga dari anime yang aku ikuti telah tamat? Apakah Manga yang dibuat Hiatus oleh Author nya telah lanjut kembali?


Ya Tuhan, aku merindukan kehidupan lamaku.