
Berdiri aku di samping Tsubaru, digenggamnya tanganku kuat. Tampak di hadapan kami, beberapa pelayan tengah sibuk memindahkan beberapa kotak kayu ke atas kereta.
"Apa semuanya sudah siap?" terdengar suara Raja dari arah belakang
"Semuanya telah siap, Yang Mulia" ucap para pelayan seraya membungkukkan tubuh mereka ke arahnya
"Kau sudah datang, Ayah?" ungkapku seraya berbalik menoleh ke arahnya
Raja berjalan ke arah kami, diiringi Haruki dan Izumi di sisi kanan dan kirinya. Tampak juga Satoru, Tatsuya dan Tsutomu ikut mengikuti mereka dari belakang disertai beberapa Ksatria yang lainnya.
"Apa kau sudah siap?" tukasnya seraya menepuk pelan kepalaku
"Aku sudah siap, Ayah." Jawabku seraya melepaskan genggaman tanganku dari Tsubaru
"Begitukah?" ungkapnya seraya meraih dan menggendongku, kubalas perkataannya tadi dengan anggukan pelan kepalaku
"Ayah, aku akan ikut menemanimu."
"Tidak perlu, kau tetap disini menjaga Kerajaan." ungkap Raja seraya mengalihkan pandangannya ke arah Haruki
"Kalau begitu..."
"Kau pun begitu Tsubaru. Kau harus tetap disini untuk membantu Haruki mengurus Kerajaan.." ungkapnya lagi sembari memindahkan pandangan matanya ke arah Tsubaru
"Baiklah, aku saja kalau begitu Ayah..."
"Kau juga sama, kau harus tetap disini membantu kakak mu..."
"Kalian semua harus tetap berada di Kerajaan. Ini perintah!" Tukas Raja seraya menatap mereka satu persatu
"Izumi, jika kau pergi diam-diam dan menelantarkan semua tugasmu. Aku akan mengganti semua daging dan buah yang kau makan menjadi sayuran. Apa kau mengerti?" Tukas Raja seraya menatap tajam ke arah Izumi
"Cih... Aku mengerti." ungkap Izumi seraya membuang pandangannya
"Tapi Ayah, siapa yang akan mengawal kalian berdua kesana?." Ucap Haruki menatap kami
"Duke Masashi, dia dan pasukannya telah menunggu di luar Istana." Balasnya seraya berbalik dan berjalan menjauh
"Apa kau lelah?" ucapnya seraya menatapku yang berada di gendongannya
"Sama sekali tidak, Ayah. Sachi hanya merasa lega, Ayah ikut bersamaku.." ucapku seraya memeluk lehernya
_________________
"Kau sudah bangun?" ucap Raja seraya menatapku yang berbaring di pangkuannya
"Ayah..." tukasku seraya mengusap kedua kelopak mataku
"Ada apa?" ungkapnya sembari menyentuh rambutku
"Aku ingin mengetahui semua tentangmu, Ayah..." ucapku menatapnya
"Apa yang ingin kau ketahui?" balasnya seraya mengalihkan pandangannya ke jendela yang ada di kereta
"Sebelumnya aku pernah bertanya ini padamu Ayah, setahun yang lalu lebih tepatnya..."
"Apa Ayah mencintai Ibu-ibu kami?."
"Haru nii-chan pernah menceritakan ini ke kami berdua, jika aku dan Izu nii-chan sangat mirip dengan ibu-ibu kami. Bagaimana dengan Mari nee-chan, Ayah?"
"Dia sangat mirip dengan Ayah nya." ucapnya yang kubalas dengan tatapan tajam dari kedua mataku
"Kau berbohong padaku, Ayah. Aku pernah melihat lukisan Mari nee-chan ketika bayi, dan dia tidak terlihat sama sekali mirip dengan..." ucapku tertahan
"Kau benar, Mari bukanlah Putri kandungku.." ungkapnya kembali menatapku diiringi senyuman getir di wajahnya
"Mari adalah anak dari tunangan kakakku. Kakakku menghamili tunangannya sebelum pernikahan mereka, lalu membuangnya.."
"Bisa dikatakan, Mari adalah saudara sepupu kalian.."
"Kenapa kau memberitahukan hal penting itu kepadaku, Ayah." Ucapku seraya beranjak duduk
"Anak-anakku sangat pintar, cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya.." ungkapnya seraya tersenyum menatapku
"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya Ayah?" ucapku seraya membuang pandangan ke samping
"Aku memutuskan untuk menikahi tunangan kakakku itu dan membesarkan Mari seperti putriku sendiri..."
"Akan tetapi, ia mengakhiri hidupnya sendiri tepat setelah ia mengetahui bahwa ia melahirkan seorang anak perempuan..."
"Tunanganku yang sebenarnya ialah Ibunya Haruki, Kiyomi. Jika kau ingin mengetahui sifatnya, kau bisa melihatnya langsung ke dalam diri kakakmu itu. Dia perempuan yang anggun, berpengetahuan luas dan sedikit menyeramkan jika menginginkan sesuatu..."
"Usianya sendiri lebih tua satu tahun dariku, dia menerima keputusanku untuk menjadikannya selir dan mengorbankan posisinya sendiri sebagai istri sah untuk membantuku menyelamatkan Mari dan Ibunya, dan aku sangat bersyukur mendapatkan ia sebagai tunanganku..."
"Tapi takdir kembali berkata lain, ia pun kehilangan nyawanya setelah ia melahirkan Haruki, ketika aku kembali untuk menemuinya, ia sudah bersimbah darah. Haruki yang berarti pohon musim semi, aku ingin ketika ia dewasa ia dapat merangkul semua orang layaknya musim semi itu sendiri. Begitulah kata-kata terakhir yang ia ucapkan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya..."
"Kakakmu sendiri ketika kecil diselimuti kutukan. Tubuhnya sangat lemah, bahkan kulitnya akan langsung terbakar jika terkena cahaya sedikitpun. Karena itulah, aku meminta Tatsuya untuk menjaganya di dalam Istana yang sudah aku persiapkan, Istana yang dimana cahaya pun akan sulit masuk kedalamnya..."
"Tatsuya melakukan tugasnya dengan sangat baik, akan tetapi ia sendiripun mengalami kesulitan melakukan tugasnya merawat bayi dalam kegelapan. Saat itu, aku mulai mencari informasi dan menemukan sebuah suku yang ada di pinggiran gunung, suku itu sendiri punya penglihatan yang sangat bagus dalam kegelapan..."
"Saat itulah aku bertemu dengan Isshin, Ibunya Izumi. Aku memintanya untuk ikut bersamaku, aku bahkan menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mendapat kepercayaan darinya. Dia sama merepotkan nya seperti Izumi..." Ungkap Raja disertai helaan nafas darinya
"Izumi mempunyai mata yang sama persis seperti nya, saat berada di dalam kegelapan, mata itu akan bersinar dengan sendirinya..."
"Lalu bagaimana dengan Ibuku sendiri, Ayah?" ucapku menatapnya
"Tepat dua tahun meninggalnya Isshin, saat itu sedang musim dingin. Ketika dalam perjalanan pulang dari berburu, aku tak sengaja menemukan seorang perempuan tergeletak di tengah hutan dengan kondisi tubuh penuh luka cambukan..."
"Aku membawanya pulang ke Istana. Perempuan itu memiliki kulit seputih salju, berambut cokelat sedikit bergelombang dan bermata hijau disertai dua lubang di pipi kanan dan kirinya yang akan muncul ketika ia tersenyum. Sama persis, seperti putriku yang tengah duduk di sampingku sekarang ini..." ucapnya seraya tersenyum menatapku
"Ia turut membantuku merawat Haruki dan Izumi saat itu, tidak sampai satu tahun ia tinggal di Istana, ia sudah membuat tunduk para koki Istana sama sepertimu..."
"Semenjak dirawat nya, Haruki mulai perlahan dapat menerima cahaya mengenai tubuhnya. Haruki mulai perlahan bisa melihat dunia yang ada dibalik gelapnya Istana yang ia tempati, dan aku sangat-sangat bersyukur akan hal itu..."
"Apa kau merindukan mereka, Ayah?" ungkapku menatapnya seraya menggenggam gaunku
"Sangat, aku sangat merindukan mereka..." ungkapnya tertunduk
"Kau tidak akan merasakan kesepian lagi Ayah, karena kami akan selalu bersama Ayah.." ucapku beranjak berdiri sembari memeluknya
"Mereka meninggalkan malaikat kecil yang sama persis seperti mereka. Bagaimana mungkin aku akan merasakan kesepian..." ungkapnya sembari mengalihkan pandangannya menatapku diiringi senyuman getir yang terlukis di raut wajahnya.