
"Aku tidak bermimpi bukan? Sekarang kita berada di Istana?" gumam Kabir seraya mengarahkan pandangannya ke langit-langit ruangan.
"Tutup mulutmu, Kabir!" balas Amithi yang ikut bergumam di sampingnya.
"Jadi kalian yang telah menyelamatkannya, Terima kasih. Aku ucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan hidup teman yang sangat berharga untukku," ungkap perempuan bernama Julissa tadi seraya membungkukkan tubuhnya di hadapan mereka berempat.
"Kau tidak perlu seperti itu, Putri."
"Kami hanya tidak sengaja menemukannya."
"Benar, yang mereka katakan semuanya benar," ucap Kabir, Amithi dan Chandini bergantian.
"Sachi, aku telah memberi kabar pada Zeki. Kemungkinan besok dia akan datang ke sini," ungkapnya beranjak lalu berbalik dan memeluk kembali erat tubuhku.
"Zeki? Tunanganku?" tanyaku yang dibalas anggukan kepala darinya.
"Apa kau mengenalnya?"
"Tentu, dia Pangeran sekaligus Kapten Kerajaan Yadgar. Selama enam tahun, dia tak henti-hentinya selalu mencari kabar tentangmu," ucapnya kembali tersenyum menatapku.
"Apa dia baik?"
"Entahlah, tapi yang aku tahu dengan pasti... Dia tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu. Kau berharga untuknya, dan kau juga berharga untukku," ungkapnya seraya merebahkan kepalanya di pundakku.
"Cepatlah sembuh Sachi, cepatlah mengingat semuanya. Banyak yang akan terluka jika mereka tahu kondisimu seperti ini," sambungnya dengan suara bergetar.
"Dan kau tahu? Aku berhasil bertunangan dengan Adinata, kedua tunangan kami sama-sama meninggal saat kejadian enam tahun lalu..."
"Sebenarnya, awalnya... Dia memutuskan untuk tidak ingin bertunangan pada siapapun terlebih dahulu, tapi seperti yang kau katakan... Aku tidak menyerah, aku melakukan seperti yang kau lakukan pada Zeki. Dan sekarang aku bahagia karena dia mau bertunangan denganku," sambungnya kembali menatapku dengan pipi memerah.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, tapi aku turut bahagia untukmu," ungkapku balas tersenyum padanya.
"Akupun ingin kau bahagia, akupun ingin kalian berdua bahagia," ungkapnya lagi dengan suara bergetar.
"Kau tidur bersamaku malam ini ya? Aku akan membantumu mandi seperti dulu," ungkap Julissa lagi seraya tersenyum menatapku.
"Aku juga telah menyiapkan kamar untuk kalian, aku harap kalian dapat menikmatinya," sambung Julissa mengalihkan pandangan pada mereka berempat, mengangguk Amithi, Kabir dan Chandini menanggapi perkataan Julissa.
_______________
"Kau cantik sekali, Sachi," ucap Amithi menatapku.
"Kau benar, dia cantik sekali dan bukan hanya itu... Sachi jago bela diri, memanah bahkan bertarung menggunakan pedang," sambung Julissa menanggapi perkataan Amithi.
"Benarkah?"
"Aku serius, dan apa kau tahu? Kedua kakaknya, benar-benar memanjakan mata, terlebih lagi dengan Kak Haruki," ungkap Julissa lagi seraya meletakkan kedua telapak tangannya di pipi.
"Haruki kakak pertamamu dan Izumi kakak keduamu. Mereka berdua sangat sayang padamu... Aku benar-benar ingin melihat kedua kakakmu yang kini telah dewasa," sambung Julissa kembali disertai beberapa jeritan kecil darinya.
"Akupun jadi sangat penasaran dengan mereka, Putri," ungkap Amithi menatapi Julissa.
"Kau bisa memanggilku Julissa, jika kau temannya Sachi... Maka kau adalah temanku juga. Dan aku sarankan padamu, untuk menyiapkan hati menghadapi senyuman Kak Haruki jika nanti kau bertemu dengannya," ucap Julissa seraya menepuk-nepuk pelan pundak Amithi.
"Bukankah kau mempunyai tunangan Julissa?" ucapku menatapnya.
"Aku memang mencintai Adinata, tapi aku juga mengagumi ketampanan kedua kakakmu. Ini dan itu adalah dua hal yang berbeda, aku tidak bisa memilih keduanya," ungkapnya seraya menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.
"Jadi seperti ini jika perempuan berkumpul menjadi satu," gumam Kabir, kualihkan pandanganku padanya yang tengah duduk berdampingan dengan Akash dan juga Chandini di hadapan kami.
"Putri," terdengar suara dari balik pintu diikuti suara ketukan yang berkali-kali terdengar.
"Ada apa?!"
"Pangeran Zeki Bechir beserta rombongannya ingin bertemu denganmu, dia menunggumu di ruang pertemuan bersama Raja dan juga Pangeran," ucap suara tadi.
"Aku mengerti, kami akan segera ke sana," ucap Julissa dengan suara sedikit meninggi.
"Dia datang lebih cepat dari perkiraanku. Rambut sudah rapi, riasan wajah juga sudah sempurna, gaun dan perhiasan sudah cocok dengan warna rambutmu. Baiklah Sachi, kau telah siap bertemu dengannya," ucap Julissa menatapi seluruh tubuhku.
"Apa aku pantas menggunakan semua benda ini?
"Kau seorang Putri, Putri dari Kerajaan Sora. Kerajaan yang sampai sekarang mendominasi perekonomian dunia..."
"Dengarkan aku Sachi, Sachi yang selama ini aku kenal adalah Sachi yang tegas akan semua perkataannya, Sachi yang akan melakukan apapun untuk menjaga harga diri orang-orang yang ia sayangi. Sachi yang tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain..."
"Seperti itulah Sachi, seperti itulah sahabatku, seperti itulah perempuan yang dicintai Pangeran dari Kerajaan tetangga," ucapnya lagi tersenyum menatapku.
________________
"Ada apa Sachi?"
"Entahlah, hanya saja aku gugup sekali sekarang," ucapku tertunduk seraya kugenggam dadaku dengan kuat.
"Rasa gugupmu akan hilang bersama senyuman yang akan dia buat nantinya," ucap Julissa tersenyum menatapku, ditepuknya pelan punggungku olehnya.
"Buka pintunya," ucapnya lagi pada dua Kesatria yang berada di hadapan kami.
Pintu besar di hadapan kami terbuka, didorongnya pelan punggungku oleh Julissa. Kutarik napasku sedalam-dalamnya seraya kuembuskan kembali, kulakukan hal itu berulang-ulang.
Kugenggam dengan kuat gaunku dengan sebelah tanganku, digenggamnya telapak tanganku tadi oleh Julissa seraya ditariknya tubuhku perlahan mengikutinya. Maju kami berdua melangkah ke dalam ruangan...
Kutatap seorang laki-laki yang aku lihat duduk di kereta sebelumnya, mengangguk laki-laki tadi menatapku. Pandanganku terjatuh pada seorang laki-laki yang terduduk di hadapannya dengan pandangan tertunduk, menoleh ia menatapku... Lama kutatap wajahnya yang terlihat sembab dari jauh.