
"Apakah itu benar? Jika itu benar, kita semua akan berada dalam bahaya," ucapku berbalik lalu berjalan ke arah titik-titik hitam yang semakin besar terlihat.
"Kita harus segera kembali," sambungku, aku kembali berbalik menatap Luana dan juga Sasithorn. "Baiklah," ucap Luana menjawab perkataanku diikuti Sasithorn yang menganggukkan kepalanya menatapku.
Aku melangkah mengikuti Luana dan juga Sasithorn yang telah berjalan menjauh. Langkah kakiku terhenti saat kurasakan sesuatu menarik lenganku, kepalaku menoleh ke belakang menatap laki-laki itu yang telah memegang kuat lenganku.
"Lepaskan tanganku," ancamku kepadanya, kedua mataku sedikit membesar menatapnya.
Laki-laki tersebut melangkah maju ke depan, "aku dari dulu ingin sekali bertemu denganmu, Hime-sama," bisiknya pelan di telingaku.
Kedua mataku membesar, "siapa kau?" Aku balas berbisik sembari mataku melirik ke arah empat orang laki-laki yang berdiri di belakangnya.
"Arata, nomor sepuluh. Dari sepuluh wakil kapten Kerajaan Sora," bisiknya kembali, kugerakkan kepalaku menoleh menatapnya, laki-laki tersebut tersenyum hingga kedua matanya tenggelam oleh senyumannya.
"Wa..."
"Kau bisa memanggilku Hongli," ucapnya dengan nada meninggi memotong perkataanku. "Hime-sama, aku akan mengantar kalian," ucapnya berjalan mundur, kepalanya sedikit bergerak ke samping seakan memintaku untuk berjalan menyusul Luana dan juga Sasithorn yang masih berdiri menungguku.
"Hime-sama?"
"Itu nama yang dia ucapkan," tukas laki-laki tadi membalas perkataan laki-laki lainnya saat aku melangkah berjalan membelakangi mereka.
"Kau memang hebat sekali Kakak. Kau dapat dengan mudah menaklukannya," ucap suara laki-laki yang lain ikut terdengar.
Aku menoleh ke arahnya, laki-laki yang mengaku wakil kapten Kerajaan kami itu tersenyum membalas tatapanku.
"Sachi, apa kau baik-baik saja?" Luana bersuara, dia merangkul lengan kananku diikuti Sasithorn yang melakukan hal sama di lenganku yang lain.
"Aku baik-baik saja," ucapku menjawab perkataannya.
Kutatap punggung Luana dan juga Sasithorn yang berjalan di depanku, sesekali Luana membantu Sasithorn yang hampir terjatuh saat gaun yang ia kenakan tersangkut di semak-semak yang mengelilingi kami.
"Hime-sama," suara laki-laki terdengar, aku berbalik menatap laki-laki bernama Arata itu yang telah berdiri di sampingku
"Apa para Pangeran mengetahui jika kau berada di hutan?" Tanyanya pelan menggunakan Bahasa Jepang.
"Aku pergi tanpa sepengetahuan mereka. Dan juga, Hongli?" Aku balik bertanya dengan sangat pelan kepadanya.
"Kami ditugaskan untuk mencari informasi, maka kadang diantara kami memimpin beberapa kelompok penjahat. Seperti yang aku lakukan sekarang," ucapnya berbisik di telingaku, dia kembali tersenyum saat aku sedikit melirik ke arahnya.
"Aku mengerti," ucapku, kembali kuarahkan pandangan mataku menatap lurus ke depan.
"Aku selalu mendengar kabar bagaimana menakjubkannya engkau, Hime-sama," ungkapnya kembali padaku.
"Itu semua, berkat kalian yang selalu mendukung kami. Terima kasih," ucapku membalas senyumannya.
"Harusnya aku saja yang merawatmu, kenapa Yang Mulia malah memilih Tsubaru yang jarang sekali tersenyum," ucapnya dengan kedua tangannya bergerak menutupi wajahnya.
"Aku dapat seperti ini juga karena Tsu nii-chan. Dia mengajariku banyak hal," ungkapku kepadanya, "panggil aku nii-chan juga," ucapnya membalas tatapanku.
"Hime-sama," ucapnya, aku sedikit mendongakkan kepala menatapnya yang telah membungkukkan tubuhnya ke arahku.
"Sebagai senjata maupun perisai, aku akan melakukan yang terbaik untuk mendukungmu," sambungnya, ia kembali beranjak berdiri lalu tersenyum menatapku.
"Terima kasih," ucapku kembali berbalik melangkahkan kaki mendekati Luana dan juga Sasithorn yang semakin menjauh.
"Kak, apa yang kalian berdua lakukan tadi?"
Suara laki-laki tiba-tiba terdengar, "kami? kami hanya mengungkapkan perasaan masing-masing," ucap Arata menjawab pertanyaan suara laki-laki tadi.
"Hebat, kau hebat sekali Kakak," suara laki-laki lainnya ikut terdengar, "apa kalian baru menyadari kehebatanku itu?" Suara Arata kembali terdengar menimpali perkataan dari seorang laki-laki dari arah belakang tubuhku.
"Kami menemukan mereka!"
Suara laki-laki tiba-tiba terdengar keras di telinga, aku melangkah mendekati Luana dan juga Sasithorn yang telah menghentikan langkah kaki mereka. "Darimana kalian semua?!" Suara bentakan Haruki yang terdengar benar-benar membuat bulu kudukku merinding.
Luana dan juga Sasithorn menundukkan kepala mereka, kugerakkan mataku melirik ke arah Haruki dan juga Izumi yang berjalan mendekati kami, tampak juga beberapa orang laki-laki ikut berjalan di belakang mereka.
"Apa kalian bertiga bisu? Jawab pertanyaanku, darimana kalian bertiga?!" Haruki kembali membentak kami, "Dan kau Luana! Sebagai yang tertua, harusnya kau melarang mereka pergi, bukan ikut pergi bersama mereka!"
"Maaf, tapi aku hanya ingin mencari udara segar," ucapnya tertunduk membalas perkataan Haruki, "mencari udara segar? Apa kau ingin mencelakai adikku?!"
"Mana mungkin aku melakukannya!" Luana balas berteriak, kepalanya terangkat menatap Haruki. "Aku juga tahu berterima kasih, mana mungkin aku melakukannya pada Sachi yang pernah menyelamatkan hidupku."
"Aku tahu, kau memang tidak pernah menyukaiku. Tapi menuduhku ingin menyakiti Adikmu sendiri benar-benar menyakiti perasaanku..."
"Maafkan perbuatan yang aku lakukan," ucap Luana kembali, ia membungkukkan tubuhnya ke arah Izumi sebelum berjalan menjauh meninggalkan kami.
"Nii-chan, aku sendiri yang ingin mengajak mereka keluar. Itu kesalahanku, jangan memarahi seseorang untuk kesalahan yang aku lakukan. Dan maaf, tapi aku benar-benar kecewa padamu kali ini, Haru nii-chan," ucapku, kugerakkan kedua kakiku melangkah melewatinya.
Kedua kakiku bergerak cepat mengejarnya, "kak Luana!" Teriakku berulang kali memanggil namanya saat dia semakin mempercepat langkahnya memasuki rumah.
"Kak Luana, maafkan Kakakku," ucapku lagi saat sebelah tanganku meraih lengannya. "Maafkan aku, harusnya aku tidak bertingkah kekanakan seperti ini," ucapnya, sebelah telapak tangannya bergerak mengusap kedua matanya.
"Kak, maafkan perbuatan Kakakku," ucapku kepadanya, "Kakakmu tidak bersalah, semua yang dia katakan benar. Jika aku menjadi dirinya, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama pada seseorang yang dulu selalu merepotkan Adiknya," ucapnya melangkah mendekati dinding, Luana menggerakkan tubuhnya duduk bersandar pada dinding tersebut.
"Padahal, aku telah berusaha sebisa mungkin untuk menyerah. Tapi tetap saja rasanya sakit saat dia memperlakukan aku seperti itu. Aku ingin secepatnya kalian memenangkan peperangan itu, aku ingin melepaskan status sebagai tunangannya tanpa perlu mengkhawatirkan nyawaku sendiri..."
"Padahal dia Kakakmu, tapi aku malah membicarakannya seperti ini di hadapanmu, maaf," ucapnya kembali, kedua telapak tangannya bergerak menutupi wajahnya.
"Kak," ucapku menatapnya, "kau benar-benar tidak berubah Sachi. Naif seperti biasanya," ucapnya tersenyum kepadaku.
"Aku ingin sekali punya adik seperti kalian," ucapnya beranjak berdiri, kugerakkan kepalaku mendongak menatapnya. "Jika nantinya aku tak menikah dengan Kakakmu. Aku harap, aku tetap bisa menjadi Kakak perempuanmu, Sachi," ucapnya kembali, sebelah tangannya bergerak menepuk pelan kepalaku sebelum melangkah pergi meninggalkanku.
____________
Makasih ya buat yang kemaren ngasih saran terus bantu do'a, lenganku berangsur membaik❤️ Jangan lupa, tinggalkan jejak dukungan, hitung-hitung sebagai suntikan semangat untukku biar rajin nge-up ❤️