
"Nii-chan, apa kau mengetahui sesuatu tentang Arion?" ucapku menatapnya.
"Arion? Pelayan yang satu kelompok dengan kita?" balas Haruki seraya tetap mengarahkan pandangannya pada buku yang ada di pangkuannya.
"Apa kau atau kalian berdua mengetahui sesuatu tentangnya?" tanyaku lagi.
"Tidak, dia tidak terlalu banyak berbicara. Jadi aku tidak terlalu memperhatikannya."
"Bagaimana denganmu, Izu nii-chan?" ucapku mengalihkan pandangan kepada Izumi.
"Akupun sama seperti Haruki, memangnya ada apa dengannya?" sambung Izumi menatapku.
"Tidak ada, aku hanya sedikit penasaran," ungkapku, kualihkan kembali pandanganku menembus kaca jendela kereta.
"Bagaimana dengan tanganmu?" ucap Izumi
"Tanganku? kembali seperti sebelumnya, aku pikir Kou menyembuhkannya ketika aku tidur," ucapku seraya kulepaskan kain yang melilit kedua telapak tanganku.
"Seharusnya kau lebih berhati-hati, beruntung mereka tidak ada yang menyadarinya," tukas Haruki beranjak lalu memukul kepalaku menggunakan buku yang ia pegang.
"Apa maksudmu nii-chan?" ucapku menatapi Haruki seraya kugosok-gosokkan telapak tanganku di atas kepalaku.
"Bagaimana mungkin, seseorang yang telapak tangannya melepuh dapat menggenggam sesuatu dengan mudahnya," ucap Haruki kembali menatapku, kulirik Izumi yang tengah menutup mulutnya menahan tawa.
"Aku melupakannya, aku terlalu bersemangat untuk pulang hingga melupakannya," ungkapku, kembali kututup wajahku menggunakan kedua telapak tangan.
"Sifatmu yang ceroboh itu, benar-benar tak bisa ditinggalkan sendirian," sambungnya kembali.
"Maaf," ucapku tertunduk.
Suara-suara teriakan para Kesatria Kekaisaran memekakkan telinga, Izumi mengangkat lengan kanannya seakan menyuruhku untuk tidak mendekat. Kutatap seorang Kesatria yang berlari menjauh.... Sebuah semburan api tiba-tiba membakar habis tubuhnya.
Didorongnya beberapa kali pintu kereta oleh Izumi, pintu tersebut masih menempel erat tak bergerak...
"Mundurlah!" ucap Izumi seraya kembali mengangkat lengan kirinya. Beranjak ia seraya berjongkok di depan pintu kereta, mundur ia beberapa langkah. Kuangkat kedua kakiku ke atas bangku yang ada di kereta, tampak Haruki melakukan hal yang sama untuk memberikan jalan kepada Izumi.
Beranjak Izumi setengah berdiri, lalu ditendangnya pintu kereta tersebut hingga terlepas. Ditariknya tanganku olehnya, seraya berlari kami keluar dari kereta...
Pepohonan yang ada disekitar kami terbakar semua, asap hitam mengepul membelah langit nan biru. Berlari kami bertiga dengan Izumi yang berada didepan serta Haruki yang menjagaku dari belakang...
Suhu disekitar semakin memanas, kulirik lenganku yang telah dibanjiri keringat. Dirangkulnya tubuhku oleh Izumi, kutatap hujan api yang tak henti-hentinya membakar sedikit demi sedikit hutan.
Langkah kaki kami terhenti, mundur kembali kami seraya bersembunyi di balik pohon. Kuangkat kepalaku ke atas, tampak bayangan hitam menutupi sinar matahari yang jatuh.
Haruki dan Izumi menarik lenganku bersamaan, melirik aku kebelakang... Dedaunan pada pohon-pohon yang ada di belakangku diselimuti garangnya merah api yang membakarnya...
Bruk!
Sebuah kepala manusia tiba-tiba jatuh di hadapan kami, matanya membelalak ke arah kami diiringi dengan lidahnya yang menjulur ke luar.
Kututup hidungku menggunakan telapak tanganku, asap di sekitar semakin menebal dan semakin menebal dari sebelumnya. Haruki mendorong tubuhku ke samping, menoleh aku ke sebuah batang pohon yang roboh dengan api yang menyala terang di daun-daunnya...
Kutatap Haruki yang tak henti-hentinya batuk, beberapa kali ia menepuk-nepuk dadanya untuk membantunya bernapas...
Terjatuh aku dengan kedua tanganku menyentuh tanah, napasku terasa semakin memberat, pandanganku perlahan-lahan mulai mengabur...
Kumohon siapa saja, selamatkan kami.
"Sa-chan... Sa-chan," suara Haruki berkali-kali mengetuk alam bawah sadarku.
Kubuka mataku, tampak bayangan wajahnya mengabur di hadapanku. Tetesan-tetesan air yang jatuh dari rambutnya tampak ikut membasahi wajahku...
"Nii-chan," ucapku lemah, suaraku hampir terasa sulit untuk dikeluarkan.
"Syukurlah kau baik-baik saja," ucapnya menatapku, dibantunya tubuhku untuk beranjak duduk.
"Apa yang terjadi? Kenapa tubuh kalian basah kuyup seperti itu?" tanyaku seraya menatap mereka satu persatu.
"Kau tidak sadarkan diri, jadi aku menggendongmu pergi. Dan laki-laki itu mendorongku hingga kita berdua jatuh ke sungai," ucap Izumi seraya mengarahkan jari telunjuknya pada Haruki.
"Jika tidak, kita bertiga akan terpanggang hidup-hidup disana," ucap Haruki tertunduk.
"Apa kau melihatnya Izumi?" ucap Haruki kembali, ditatapnya Izumi yang tengah menepuk-nepuk dadanya.
"Aku melihatnya."
"Apa? apa yang kalian lihat?"
"Naga, tidak seperti Kou, Naga ini berwarna sangat hitam. Aku pikir, itu adalah Naga milik Kaisar," ucap Haruki, diangkat kepalanya ke atas.
"Saat dia..." ucap Izumi terhenti, ditelannya air ludahnya beberapa kali.
"Saat dia hampir menyerang kita, Kou tiba-tiba muncul dan memberikan waktu untuk kita melarikan diri," sambung Izumi.
"Kou?"
"My Lord," terdengar suara Kou menembus pikiranku, kuarahkan pandanganku ke atas, tampak terlihat bayangan hitam besar dengan sayap yang lebar terbang di atasku.
"Syukurlah, aku tidak terlambat," ucapnya yang mendarat di hadapanku, kulirik langkah kakinya yang membekukan air dan juga tanah di sekitar.
"Apa kau baik-baik saja? Kedua kakakku mengatakan jika kau bertarung melawannya," ungkapku, kupeluk lehernya yang melewati tubuhku.
"Dia terlalu banyak membuatmu menderita. Andai saja aku sedikit lebih kuat, aku pasti telah membunuhnya."
"Tunggulah sebentar lagi, aku akan menjadi lebih kuat untuk menghancurkan musuh-musuhmu, My Lord," sambungnya kepadaku.
"Jika kau ada di sini, bukankah ia akan menemukanmu?"
"Aku tidak sebodoh dia, aku dapat mengendalikan sihirku menjadi sangat kecil hingga dia sendiri tidak akan menyadarinya. Aku memperhatikanmu, aku tidak pernah meninggalkanmu, saat di hutan pun... aku ikut memperhatikan kalian..."
"Jika saja kau memanggilku ketika ular itu menyerang kalian, dengan sekejap aku akan membekukannya."
"Tapi bukankah, kau sendiri yang mengatakan..."
"Aku mengatakannya, tidak lain tidak bukan supaya kau tidak terlalu fokus padaku. Semakin kau fokus padaku, semakin besar juga sihir yang aku keluarkan. Jadi, aku hanya melakukan seperti yang selalu kau ajarkan padaku sejak aku kecil."
"Seperti yang diharapkan dari Naga kesayanganku, tidak sia-sia aku mendidikmu dengan pengetahuan selama ini," ucapku tersenyum menatapnya, kurangkul lagi lehernya seraya kucium pipinya.
"Kou," ucap Izumi, beranjak Kou seraya menoleh ke arahnya.
"Thank you," ucap Izumi kembali seraya mengangkat telapak tangannya ke arah Kou, mendekat Kou kepadanya seraya diarahkan kepalanya menyentuh telapak tangan Izumi.