Fake Princess

Fake Princess
Chapter DCVIII


Sudah tak terhitung beberapa pekan sudah aku tinggal di Yadgar, selama itu juga aku telah menunggu kabar dari Kakakku. Namun, kabar tersebut tak kunjung datang. Aku menarik napas, dengan kedua kaki terus melangkah mendekati Taman Istana. Aku berjalan menyusuri Taman, sebelum duduk di bangku dengan memperhatikan deretan bunga yang tumbuh bersusun rapi di hadapanku.


“Ekrem, apa masih belum ada kabar dari Suamiku?” tanyaku dengan tetap membuang pandangan ke depan.


“Masalah di perbatasan telah selesai. Yang Mulia, kemungkinan akan kembali beberapa hari kedepan,” jawabnya yang terdengar dari arah belakangku.


“Bagaimana dengan Kou? Apa kalian kesulitan menjaganya?”


“Tentu tidak, Ratu. Bahkan mereka sekarang, justru terlihat akrab sekali dengannya.”


“Baguslah. Kau bisa kembali melanjutkan perkerjaanmu, aku ingin berjemur sedikit lebih lama.”


“Yang Mulia, memberikan perintah untukku agar menjaga Ratu.”


Aku menghela napas dengan menyandarkan diri di bangku, “aku tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya. Lagi pun, Kou mengawasiku dari jauh,” ungkapku sambil menunjuk ke arah Kou yang duduk mengawasiku di ujung dari sisi lain Taman.


“Baiklah Ratu. Aku akan kembali setelah menyelesaikan semuanya,” ucapnya yang aku balas dengan anggukan kepala.


Aku menarik napas dalam, lalu mengembuskannya kembali sambil tetap menyandarkan diri di bangku Taman. Zeki pergi ke perbatasan, tepat beberapa hari setelah kami pulang dari Robson. Tak ada kegiatan berarti yang aku lakukan, hanya makan, tidur, dan tentu … Tak lupa, untuk keluar-masuk kamar mandi.


Aku bosan. Jikalau mengajak Kou untuk berkeliling, dia tidak akan mengabulkannya. Aku tidak tahu, tapi semenjak aku hamil, ia justru memberikanku banyak larangan untuk melakukan apa pun. “Kou, temani aku untuk pergi ke dunia Elf! Aku ingin menemui kakakku di sana,” tukasku dengan menoleh ke arahnya.


“Tidak boleh! Kau boleh pergi, hanya jika mereka yang membuka gerbangnya, My Lord. Tubuhmu masih sangatlah rawan, untuk melakukan sihir pemanggilan.”


“Sihir pemanggilan? Tapi, aku hanya tinggal menanam kelopak bunga yang ada di tanganku-”


“Tetap saja itu sebuah sihir pemanggilan. Kaki kalian menginjak tanah saat melakukannya, bukan? Saat itulah, tanpa sadar tenaga kalian dihisap oleh tanah yang kalian pijak tersebut untuk memanggil para Elf.”


“Aku tidak mengerti, bagaimana bisa hal seperti itu terjadi-”


“Hal seperti itu terjadi, agar gerbang yang dibuka oleh para Elf tersebut, dapat langsung terhubung di mana saja tempat kalian berpijak. Jangan membantah perkataanku lagi, My Lord! Ini semua untuk kebaikanmu,” ucapnya, tampak dari kejauhan dia kembali memejamkan matanya yang menatapku.


Aku mendecakkan lidah dengan mengangkat tangan mengusap perutku yang mulai membesar, “Haru nii-chan, kau tega sekali. Padahal, aku ingin melihat anakmu itu lahir,” tukasku dengan kembali melemparkan pandangan ke depan.


Keningku mengerut, kucoba kembali menggerakkan tanganku itu mengusap perut. Namun, kali ini dengan lebih perlahan sambil kupejamkan kedua mataku. Mataku kembali terbuka dengan cepat, “aku merasakannya. Walaupun samar, aku merasakan ada yang bergerak di dalam perutku,” ucapku, aku melakukan hal itu kembali, lalu tersenyum setelah merasakan gerakan dari dalam perutku itu lagi.


Aku menarik napas dalam lalu mengembuskannya kembali dengan perlahan, sebelum aku beranjak lalu melangkahkan kaki menyusuri Taman. “Zeki, jika akhirnya aku ditinggal seperti ini. Bukankah lebih baik aku dititipkan saja di Sora? Setidaknya, di sana ada Ibu dan juga Ayah,” tukasku sambil mendongakkan kepala ke atas.


“Aku tahu, dia pergi untuk memperluas kekuasaan Yadgar. Namun, setidaknya dia bisa mengajakku untuk ikut pergi berperang-”


“Suami mana, yang akan mengajak istrinya yang sedang hamil untuk pergi berperang?!”


Gumaman yang aku lakukan berhenti, diiringi dengan langkahku yang juga turut berhenti. “Aku pulang,” ucapnya, dia berjalan semakin mendekati saat aku menoleh ke arahnya.


Aku masih diam tak bersuara saat dia duduk berjongkok di hadapanku, “apa anak Ayah baik-baik saja?” tukasnya dengan mendekatkan wajahnya menciumi perutku, “kau tidak membuat Ibumu kesusahan selama Ayah pergi, bukan?” sambungnya, seraya tersenyum dengan mengusap pelan perutku itu.


“Kenapa? Ada apa dengan wajahmu itu?” Zeki beranjak berdiri, aku sedikit mengerang saat dia mencubit pipiku, “apa kau marah? Karena aku pergi, menjaga perbatasan dibanding menemanimu?” tanyanya, lama aku menatapnya sebelum menghela napas setelah menatap wajahnya yang terlihat letih.


“Kau pasti lelah selama perjalanan, bukan? Aku akan meminta pelayan menyiapkan makan untukmu. Namun sebelum itu, bersihkan tubuhmu lalu beristirahatlah,” ungkapku, dia turut melangkah di samping saat aku merangkulkan tangan di lengannya.


“Aku dengar dari Ekrem, kalau kau terlihat selalu bermuram akhir-akhir ini. Apa kau merindukan keluargamu? Kau, pasti ingin melihat keponakan kita, bukan?”


“Aku, memang ingin bertemu mereka. Tapi Kou mengatakan, jika aku membuka gerbang … Itu, tidak akan baik untukku dan untuk anak kita-”


“Bagaimana jika aku yang membuka gerbangnya? Itu tidak ada masalah, bukan?”


“Kau baru saja sampai, jangan memaksakan diri.”


“Aku sudah berjanji untuk membahagiakan kalian, saat pertama kali mendengar tentang kehamilanmu. Lagi pun, aku akan sulit untuk tidur … Jika kau bermuram seperti itu. Coba tanyakan kepada Kou, bagaimana jika aku yang membuka gerbang? Apakah itu juga akan bermasalah untukmu?”


“Baiklah. Kou, bagaimana jika Zeki yang membuka gerbang ke dunia Elf? Itu, tidak akan menimbulkan masalah, bukan?”


“Asalkan, bukan kau sendiri yang melakukannya, My Lord,” aku tersenyum lebar saat mendengar Kou mengatakannya.


“Kou mengatakan, jika itu tidak masalah. Kita akan mengunjungi mereka, bukan?”


“Aku, ingin sekali bertemu dengan mereka kembali,” tukasku, dengan sebelah tanganku yang lain menggenggam lengan Zeki yang aku rangkul.


“Kita akan mengunjungi mereka. Namun sebelum itu, aku ingin membersihkan tubuhku … Aku tidak bisa, mengunjungi kakekmu dengan keadaanku yang seperti ini,” balasnya, aku kembali mengangguk pelan menjawab perkataannya.


“Apa kau tahu? Aku sempat merasakan gerakan di dalam perutku-”


“Benarkah? Apa aku, bisa merasakannya juga?” tukasnya, dia menoleh ke arahku dengan menghentikan langkah.


“Gerakannya masih sangat lemah, aku saja merasakannya samar-samar. Mungkin, beberapa pekan kedepan, gerakannya akan lebih kuat baru Ayahnya dapat merasakannya.”


“Ayah sudah tidak sabar, ingin ikut merasakannya juga,” ungkapnya, Zeki membungkukkan tubuhnya dengan kembali mengusap perlahan perutku.


“Apa kau memakai wewangian? Aku tidak terlalu menyadarinya, karena kita sebelumnya berada di tengah-tengah Taman. Tapi, aroma tubuhmu benar-benar harum sekali,” ucapnya, dengan mendenguskan hidungnya mendekatiku.


“Kau baru menyadarinya? Aroma ini, tiba-tiba muncul begitu saja.”


“Apa maksudmu?”


“Sekitar dua pekan yang lalu, tubuhku mengeluarkan wangi ini. Aku tidak tahu alasannya, tapi aku pikir aromanya semakin menguat dibanding sebelumnya,” ucapku yang mengangkat sebelah tanganku lalu menghirup pelan aroma yang keluar darinya.