Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLXI


"Kita kehilangan sekitar seratus Kesatria," ucapan Adofo kembali terngiang di telingaku.


Apa yang akan dilakukan Haruki? Mereka kehilangan banyak sekali pasukan di Benteng Selatan.


Aku membungkuk meraih busur dan juga anak panah yang ada di dekat kaki, langkah kakiku kembali berjalan mendekati tangga tembok benteng. "Apa yang sedang kalian lihat?" Tanyaku kepada beberapa Kesatria yang telah berbaris rapi di depan benteng.


"Hime-Sama," ucap salah seorang Kesatria yang telah berbalik menatapku.


"Kenapa?"


"Apa yang terjadi?" Tanyaku kembali kepada mereka.


Para Kesatria masih diam membisu, mereka hanya menatapku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku berjalan menerobos mereka semua, pandangan mataku membesar tatkala kedua mataku tertuju ke arah pasukan musuh. “Mereka … Apakah pasukan musuh memang sebanyak ini?” Tanyaku pada salah satu Kesatria.


“Di mana? Di mana Adofo dan juga Gritav,” Ucapku kepada mereka.


“Hime-Sama,” suara laki-laki terdengar, kugerakkan kepalaku berbalik ke arah suara tersebut.


“Gritav, darimana saja kalian?” Tanyaku seraya melangkahkan kaki ke arahnya.


“Aku baru saja meminta bantuan kepada pasukan yang menjaga benteng yang lain. Karena jika hanya kita saja yang melawan, jumlah pasukan kita lebih sedikit dibandingkan mereka,” ucap Gritav kembali padaku.


“Lalu? Apa balasan mereka?” Aku kembali bertanya kepadanya.


“Entahlah, aku baru saja memerintah anak buahku untuk meminta bantuan. Kita hanya harus bertahan, hingga bantuan tersebut segera datang, jika tidak…” Ungkap Gritav terhenti, kutatap dia yang menggelengkan kepalanya menatapku.


“Mungkinkah mereka membawa pasukan yang sebelumnya menyerang benteng lain untuk berbalik menyerang benteng utama?” Aku kembali bersuara seraya kugigit kuat ibu jariku menatapi para pasukan musuh.


“Sepertinya, karena mustahil jika mereka mendapatkan bantuan sebanyak itu dalam semalam,” Gritav membalas perkataanku.


“Dengarkan aku kalian semua! Aku tahu jika pasukan musuh yang menyerang sangatlah mengejutkan dan di luar dugaan kita semua termasuk aku. Tapi itu bukan berarti, kita akan langsung menyerah kepada mereka begitu saja. Ini wilayah kita, mereka … Tidak berhak untuk mengambil semua yang kita usahakan. Mereka, tidak berhak mengambil apa yang sudah kita capai dengan susah payah,” ucapku dengan suara yang hampir habis, kutatap para Kesatria yang telah bergantian berbalik satu per satu ke arahku.


“Aku berjanji, tidak akan membiarkan mereka semua menginjakkan kaki mereka di tempat ini. Aku berjanji, akan membawa kemenangan untuk kalian semua. Karena itu … Jangan menyerah semuanya, kumohon … Jangan menyerah,” ucapku dengan suara bergetar, kutatap buliran air yang tiba-tiba jatuh dari wajahku.


“Hime-Sama,” terdengar suara laki-laki yang terdengar, kuangkat kepalaku menatap Kesatria yang berbicara tadi.


“Siapa yang mengatakan jika kami menyerah?” Ungkap laki-laki itu kembali yang disambut dengan anggukan kepala dari yang lainnya.


“Kita akan menghancurkan mereka semua bukan?!” Teriak Adofo yang telah berdiri di tengah-tengah para pasukan dengan mengangkat tombak yang ia genggam ke atas.


“Kita akan menghancurkan mereka semua bukan?!” Teriak Adofo kembali terdengar, kali ini teriakan yang ia lakukan disambut dengan teriakan riuh yang dilakukan oleh Kesatria yang lain.


“Hime-Sama,” suara Gritav terdengar diikuti suara tepukan pelan yang menyentuh punggungku.


Kulangkahkan kakiku beberapa langkah ke depan, para Kesatria kembali menghening menatapku. Kutarik napas sedalam mungkin selama mataku masih menatapi mereka bergantian, “Apa yang kalian lakukan? Kembali ke posisi kalian! Angkat dan genggam kuat senjata kalian. Jangan berhenti melawan selama napas kalian belum berhenti!”


“Laksanakan, Hime-Sama!” Para Kesatria berteriak lantang menanggapi ucapanku, satu per satu dari mereka mulai melangkahkan kaki meninggalkan tempatnya berdiri sebelumnya.


“Kerja bagus Hime-Sama, kau melakukannya dengan sangat baik,” Gritav kembali bersuara, kali ini ia mengusap pelan kepalaku yang sedikit tertunduk.


Aku kembali mengangkat kepalaku, kedua kakiku kembali melangkah sedikit maju ke depan. Kujatuhkan pandangan ke arah para pasukan musuh yang masih membangun jembatan dari papan untuk membawa senjata-senjata perang milik mereka. “Gritav, perintahkan para pemanah untuk bersiap-siap,” ungkapku tanpa menoleh ke arahnya.


“Sesuai perintah darimu, Hime-Sama,” ucapnya yang terdengar di telingaku.


Pandangan mataku kembali tertuju ke arah pasukan musuh, kugigit kembali ujung ibu jariku seraya otakku kupaksa untuk memikirkan semua rencana yang akan aku gunakan. Suara terompet yang dibunyikan oleh pasukan musuh sedikit menghentak tubuhku, mereka mulai bergerak mendekat beriringan dengan bunyi terompet tadi.


Suara terompet yang kedua ikut berbunyi, para pasukan pejalan kaki berlari cepat ke arah benteng, “tembakkan panah!” Aku berteriak kencang.


Ratusan panah terbang melesat ke arah pasukan musuh, beberapa dari pasukan pejalan kaki tersebut dengan sigap mengangkat perisai yang ada di tangan mereka. Panah-panah milik kami yang menghujani para musuh membuat beberapa pasukan pejalan kaki yang tidak dapat mengelak jatuh terkapar. Mereka terkapar dengan panah yang menembus leher mereka, bahkan ada dari pasukan musuh menerima dua anak panah sekaligus di mata kirinya.


Sebagian pasukan pejalan kaki yang bersembunyi di balik perisai, mulai belari mendekati benteng dengan meninggalkan perisai mereka di belakang. Para pemanah milikku kembali mengarahkan anak panah mereka, pasukan pejalan musuh yang berlari tadi jatuh tersungkur satu per satu saat anak-anak panah tersebut semakin gencar menghujani tubuh mereka.


Suara dentuman diikuti getaran kuat hampir membuat tubuhku jatuh terjungkal ke depan jika saja Gritav tak segera sigap menangkapku. Kedua mataku sedikit membesar tatkala kutatap batu besar yang terbang tadi menimpa beberapa pasukanku. Senjata milik musuh tersebut kembali menembakkan batu besar lainnya hingga menghancurkan bagian depan benteng.


“Hime-Sama,” ucap suara laki-laki terdengar, kuangkat telapak tanganku ke arah suara tersebut, “belum, bertahanlah sebentar lagi,” ucapku tanpa mengalihkan pandangan.


Senjata-senjata musuh kembali bergerak maju, serangan yang mereka lakukan semakin membaabi-buta menyerang kami. “Sekarang!” Perintahku dengan sangat lantang terdengar.


Aku kembali mendongakkan kepala ke atas menatapi kendi yang berterbangan melewati kami, kendi-kendi tersebut melesat cepat hingga hancur menabrak senjata-senjata kayu raksasa milik musuh. Panah-panah api dengan cepat mengikuti kendi-kendi tadi, kutatap api yang melebar besar saat panah-panah api tadi jatuh ke senjata-senjata milik musuh.


Beberapa pasukan musuh yang berada di sekitar senjata-senjata tadi langsung bergerak melarikan diri menjauhi senjata-senjata tersebut yang semakin lama semakin dilalap oleh api yang berkobar. Asap tebal mengepul di sekitar mereka hingga membumbung memenuhi langit.


“Jangan biarkan mereka semua mendekat! Panah kembali mereka semua!” Aku kembali berteriak kuat, kutatap para pemanah yang tersisa kembali mengangkat panah mereka, lalu menembaki panah mereka tersebut ke arah pasukan musuh yang masih berlari tak tentu arah.