
Aku berjalan menyusuri lorong istana dengan mantel bulu berwarna putih yang menyelimuti tubuh, sudah hampir setengah tahun kejadian itu berlalu. Kami memutuskan untuk tinggal di Istana sementara waktu hingga kondisi Kerajaan benar-benar stabil, “Putri,” aku berbalik lalu mengangguk ke arah dua orang pelayan yang berdiri membungkuk ke arahku.
Langkah kakiku kembali melangkah meninggalkan para pelayan tadi, aku berbelok mendekati taman Istana yang telah dipenuhi oleh putihnya hamparan salju. Sepatuku yang melangkah perlahan di hamparan salju terlihat sedikit terbenam, kedua kakiku berhenti melangkah seraya kuangkat kepalaku ke atas menatap langit.
Rasa dingin menjalar di sekitar pipiku saat kepingan-kepingan salju jatuh di atasnya, “Sa-chan!” Aku kembali menurunkan kepalaku saat suara itu terdengar, “ada apa nii-chan?” Tanyaku padanya saat tubuhku telah berbalik menatapnya.
“Apa yang kau lakukan di sana? Kemarilah!” Tukasnya lagi dengan mengangkat sebelah tangannya melambai ke arahku.
Aku menggerakkan kaki berjalan mendekatinya, “aku hanya ingin mendinginkan kepala,” ucapku yang telah berdiri di hadapannya.
Haruki mengangkat telapak tangannya mengusap-usap rambut di kepalaku, “kau bisa sakit nanti, lihatlah! Rambutmu dipenuhi salju,” ucapnya kembali dengan mengangkat sebelah tangannya yang lain mengusap kepalaku.
“Apakah, urusan di perbatasan telah selesai nii-chan?” Aku bertanya saat dia telah berbalik melangkahkan kakinya berjalan, “aku telah menyelesaikan semuanya, aku pun telah memperkuat perbatasan dari semua serangan yang kemungkinan berasal dari luar,” ucapnya menoleh ke arahku.
“Bagaimana dengan mereka yang berkhianat? Apakah jejak mereka telah ditemukan?” Aku kembali bertanya padanya, dia menggeleng sebelum kembali menggerakkan kepalanya menatap lurus ke depan.
“Kalian di sini, Ayah memanggil kita berempat,” suara Izumi terdengar, diikuti suara derap langkah kaki yang mengikuti, “Ayah?” Haruki balas bertanya saat kami telah berbalik menatap Izumi.
“Ayah mencari kita, cepatlah!” Ungkap Izumi kembali berjalan melewati kami, “nii-chan, ruang kerja Ayah,” ucapku pelan dengan mengarahkan jari menunjuk ke arah yang bertolak belakang dari yang ia tuju.
“Ayah menunggu kita di kamarnya,” sambung Izumi tanpa menoleh ke belakang, aku menoleh ke arah Haruki yang juga telah membalas tatapanku itu. Haruki mengangkat tangannya hingga menyentuh punggungku diikuti kepalanya yang sedikit bergerak, seakan memintaku untuk berjalan terlebih dahulu.
Aku berbalik melangkahkan kaki mengikuti Izumi, kami bertiga berjalan beriringan semakin mendekati kamar Ayah. Izumi menghentikan langkah kakinya diikuti aku dan juga Haruki yang juga telah berdiri di sampingku, “Ayah, ini kami,” ucap Izumi diikuti tangan kanannya yang mengetuk-ngetuk pintu yang ada di hadapan kami itu.
“Masuklah,” Izumi membuka perlahan pintu tersebut saat suara Ayah meminta kami untuk masuk terdengar dari dalam, “ada apa Ayah?” Kali ini Haruki yang berbicara saat kami semua telah berdiri di hadapannya.
Ayah mengangkat tangan kanannya menepuk kasur yang ada di ranjangnya itu, “duduklah,” ucapnya dengan mengarahkan pandangan ke arah kami.
Aku berjalan maju lalu duduk di sampingnya diikuti Haruki yang juga duduk di sampingku, sedangkan Izumi berjalan memutar lalu berbaring di belakang kami, “ada apa Ayah?” Aku ikut bertanya, Ayah beranjak berdiri lalu melangkah mendekati sebuah meja kecil yang ada di sudut kamar, dia kembali berjalan mendekati kami dengan sebuah kotak kayu di tangannya.
Ayah kembali duduk di sampingku diikuti kedua tangannya bergerak memberikan kotak kayu yang ia pegang tadi padaku, “untuk kalian,” ucap Ayah tersenyum sebelum dia kembali menundukkan kepalanya.
Aku menoleh ke arah Haruki yang menganggukkan kepalanya membalas tatapanku itu, “apa isinya?” Kali ini suara Izumi terdengar sedikit berbisik di samping telingaku.
Aku menarik napas sedalam mungkin saat kedua tanganku bergerak membuka kotak tadi, “apa ini Ayah?” Haruki balik bertanya, tangannya bergerak meraih sebuah kalung yang ada di dalamnya.
“Itu kalung milik ibumu Izumi,” ucap Ayah mengalihkan pandangan matanya sedikit ke arah belakang, “Ibuku?” Aku berusaha menoleh ke belakang saat Izumi membalas perkataan Ayah.
“Untukku?” Ayah menganggukkan kepalanya membalas perkataan Haruki, “Isshin ingin, jika nantinya kau mengunjungi sukunya, kau akan dianggap keluarga oleh mereka,” sambung Ayah kepadanya.
“Tapi,” Haruki melirik ke arah belakang tubuhnya, “jika Ibu memberikannya padamu, maka kau harus menyimpannya baik-baik,” suara Izumi kembali terdengar dari arah belakang kami.
“Lalu Ayah, bunga ini?” Aku kembali bersuara dengan mengangkat sebuah bunga kering dari dalam kotak, “itu bunga yang digenggam ibumu saat aku menemukannya,” Ayah membalas perkataanku, “Ibuku? Tapi Ayah,” lanjutku kembali berbicara padanya.
“Aneh bukan? Terlihat seperti bunga yang baru saja dipetik, padahal bunga itu sudah berada di dalam kotak belasan tahun yang lalu,” ungkapnya ikut mengarahkan pandangan ke bunga mawar putih yang ada di tanganku itu.
“Ayah,” ucapku terhenti menatapnya, kugigit kuat bibirku seakan suaraku enggan untuk keluar.
“Jika kau ingin bertanya tentang ibumu. Jujur, sampai sekarang pun … Ayah tidak mengetahui apa pun tentang dia, karena saat Ayah pertama kali menemukannya. Bagaimana Ayah menjelaskannya,” ucapnya dengan menundukkan kepalanya.
“Tidak apa-apa Ayah. Tapi, bisakah aku menyimpannya?”
Ayah lama menatapku sebelum dia menganggukkan kepalanya, “tentu, simpanlah baik-baik,” ucap Ayahku yang kubalas dengan anggukan kepala.
“Apa kalian akan segera pergi?” Kali ini Ayah menatapi kami bergantian, “setelah musim dingin berakhir, kami akan segera pergi. Aku sudah menyiapkan keperluan kami di perbatasan, kemungkinan kami akan pergi menaiki Kou hingga ke perbatasan,” ucap Haruki menjawab perkataan Ayah.
“Kalian tidak ingin membuat para penduduk khawatir jika kalian pergi meninggalkan Kerajaan?” Aku menganggukkan kepalaku yang tertunduk saat mendengarnya, “Ayah mengerti. Ayah akan mengirim Sasithorn ke Leta, di sana dia akan lebih aman karena akan langsung berada di bawah perlindungan Raja Lamond, dan di sana juga ada Julissa yang akan menjaganya. Bagaimana menurutmu, Izumi?”
“Aku akan membicarakan hal ini kepadanya, Ayah,” ungkap Izumi dengan kepala tertunduk,
“Haruki,” suara Ayahku pelan terdengar.
“Jika Ayah membicarakan pernikahan. Aku tidak berniat untuk menerima lamaran mereka semua, tidak bisakah hanya adik-adikku saja yang menikah? Jika yang dimaksudkan adalah pewaris, kelak Izumi ataupun Sachi juga akan memiliki anak bukan,” ucap Haruki, aku semakin menggigit bibirku mendengarnya.
“Jika tidak ada yang akan dibicarakan lagi, aku ingin kembali ke kamar,” sambungnya beranjak berdiri, aku melirik ke arah Ayah yang menghela napasnya, “Ayah sudah selesai, kalian bisa kembali,” ucap Ayah tertunduk dengan memijat-mijat kepalanya.
Aku beranjak berdiri saat kurasakan tepukan pelan menyentuh punggungku. Kedua kakiku melangkah mengikuti Haruki yang telah membuka pintu kamar. Pandangan mataku beralih ke arah lukisan Mari ketika bayi yang digantung bersamaan dengan lukisan-lukisan kami…
Jika Ayah sendiri yang mengeksekusi Mari, kenapa dia masih mempertahankan lukisan ini?
“Sachi,” lamunanku membuyar saat kurasakan Izumi menarik pelan tanganku untuk mengikutinya.