Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXXI


"Dengan kata lain, kau ingin menguasai wilayah ini? Baik pertahanannya maupun ekonominya," ucap Izumi, kualihkan pandanganku menatapnya yang telah membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Kita akan memberikan mereka pengetahuan cara mengolah tambang emas dan menjual emas itu sendiri hingga mendapatkan keuntungan yang berkali-kali lipat. Beruntungnya, mereka selama ini tidak pernah melakukan kerja sama pada Kerajaan apapun, jadi pengetahuan mereka tentang hal itu sangatlah minim..."


"Walaupun sedikit aneh, bagaimana caranya mereka membangun kota ini tanpa bantuan apapun dari luar," sambungku sembari kugerakkan kepalaku kembali menatap langit-langit kamar.


"Jika kau menanyakan hal tersebut, mungkin karena... Geser sedikit, aku juga ingin berbaring," ucap Haruki menggerakkan tubuhnya merangkak melewatiku, kembali kugerakkan kepalaku menatapnya yang telah berbaring di belakangku.


"Mungkin karena apa nii-chan?" ucapku masih menatapinya.


"Mereka mungkin hampir mirip seperti perompak Metin, yang membedakan diantara mereka hanyalah cara mereka merampok harta," ucapnya kembali seraya diangkatnya kedua lengannya bersandar di bawah kepalanya yang terbaring.


"Aydin dulu pernah memberitahukan ini... Jika para perompak seperti Aydin, mereka menahan semua musuh yang mereka dapatkan menjadi budak yang dapat mereka manfaatkan. Beda dengan wilayah yang juga sama-sama perompak lainnya, beri aku sedikit waktu untuk sedikit mengingat perkataannya," sambung Haruki kembali, lama ia mengarahkan pandangannya menatap lurus ke depan.


"Aku sudah pernah mendengar tentang wilayah ini pada Aydin, karena itulah saat Daisuke mengatakan jika kita akan menjumpai kota perampok jika terus berjalan ke arah Utara membuatku semakin bersemangat dulunya..."


"Aku ingin sekali melihat kota sadis yang tak akan segan-segan memberikan mimpi buruk pada musuh-musuhnya terutama jika musuhnya itu adalah sebuah Kerajaan yang besar. Berita kemasyhuran yang Aydin ceritakan memang berbanding terbalik dan sedikit mengecewakanku saat kita pertama kali menginjakkan kaki disini..."


"Tapi, jika benar yang kau katakan... Jika tempat ini mempunyai sumber kekayaan yang besar seperti itu... Maka akupun ikut bersemangat untuk menjajaki tempat ini," ungkap Haruki kembali melirik ke arahku.


"Jadi itu, tujuan sebenarnya kalian datang ke sini?" terdengar suara Niel memotong perkataan Haruki, ikut kugerakkan kepalaku menatapnya yang telah berdiri di samping pintu dengan pandangan matanya tepat mengarah menatapi kami.


"Kalian ingin memanfaatkan kami dengan kedok menolong," ucapnya lagi seraya melangkah bergerak mendekati kami.


"Lebih tepatnya berkerja sama. Kami ingin mengajakmu bergabung menjadi sekutu," sambung Haruki membalikkan tubuhnya berbaring menelungkup menatap Niel.


"Sekutu? Mengajakku bersekutu dengan memberikan racun pada Anakku? Apa kalian pikir, aku akan langsung menerima pernyataan tak masuk akal tersebut," ucapnya menghentikan langkah kakinya.


"Kami ingin mengajakmu bersekutu melawan Kekaisaran berserta Kerajaan yang mendukungnya. Anggap saja bantuan kami membersihkan wilayah mu dari pengacau sebagai ucapan terima kasih karena sudah menerima kami sebagai sekutu..."


"Kau ingin..."


"Aku masih belum menyelesaikan kata-kataku. Jadi tutup mulutmu!" ungkapku menghentikan perkataannya.


Kugerakkan kembali kepalaku tertunduk menatapi kedua kakiku yang masih tergantung di sisi ranjang. Berkali-kali helaan napas keluar pelan dari balik bibirku.


"Kami menginginkan kau bergabung bersama kami memberontak pada Kekaisaran," ucapku sambil tetap tertunduk.


"Sebenarnya, itulah tujuan kami datang ke sini. Masalah yang tengah kalian hadapi sekarang, benar-benar diluar dugaan kami. Akan tetapi, saat kudengar beberapa rakyatmu menderita karena serbuk-serbuk tersebut membuatku ingin menolong mereka..."


"Aku menolaknya. Pergilah dari sini..."


"Seperti yang diduga," ucapku lagi diiringi helaan napas yang keluar seraya kuangkat kembali kepalaku menatap langit-langit kamar yang bercahaya redam.


"Bukankah kau akan berkesempatan untuk membunuh Kaisar jika bergabung dengan kami. Dibandingkan, selalu menarik diri dari Dunia dengan menimbun banyak sekali penjahat di sini," sambungku kembali mengarahkan pandangan menatap lurus ke depan.


"Apa maksudmu?"


"Lupakan tentang tiga perjanjian yang aku katakan sebelumnya. Bergabunglah bersama kami, dan akan kubantu kotamu ini menjadi tempat yang sangat layak untuk ditinggali..."


"Aku akan menumpas habis pengacau yang mengganggu wilayah kekuasaanmu. Aku akan membantumu membangun kembali kotamu, bahkan akan kubuat lebih maju dibandingkan sebelumnya."


"Jangan berbicara omong..."


"Apa kau mengenal para perompak Metin?" ungkapku memotong perkataannya.


"Metin?"


"Pemimpinnya, maksudku Aydin. Mereka bahkan telah menjalin kerja sama dengan kami. Sebagai informasi untukmu, Kaisar mengirimkan sesuatu yang membahayakan mereka..."


"Dan hanya menunggu waktu sampai ancaman Kaisar akan mendatangi kalian. Kau pasti paham benar, bagaimana Kaisar suka sekali menghancurkan kehidupan seseorang... Lupakan tentang dirimu, tapi alihkan kekhawatiran itu pada anakmu, Egil," ungkapku lagi sembari kuarahkan pandanganku meliriknya yang masih tertunduk.


Lama sekali dia meresponnya. Apa rayuanku...


"Katakan! Katakan apa yang harus aku lakukan?" ucapnya, diangkatnya kepalanya menatapi kami.


Bagus. Hanya sedikit lagi Sachi.


"Lupakan tentang hal itu sejenak, berikan kami izin penuh untuk menyelidiki masalah yang kalian alami. Anggap saja itu sebagai pelayanan yang kami berikan sebelum melakukan perjanjian, bagaimana?"


"Jika kalian gagal melakukannya?"


"Lihat aku! Apa kau pikir aku akan gagal? Apa kau meragukan kepintaran yang aku miliki?" ucapku tersenyum menatapnya.


"Akan tetapi, bagaimana jika kalian yang mengkhianati kami?" sambungku kembali padanya.


"Aku laki-laki dan juga seorang Pemimpin Tentu, aku akan memegang semua kata-kataku," ucapnya membalas tatapanku.


"Baiklah, kalau seperti itu... Berikan aku stempel kekuasaan mu, Niel," terdengar suara Haruki yang ikut menimpali.