Fake Princess

Fake Princess
Chapter LXXXII


"Kau yang membunuhnya sendirian?" ucap Adinata seraya menyentuh mayat makhluk kerdil tersebut dengan sarung pedang yang ia genggam.


"Itu karena dia ingin menyakiti Kakakku. Aku tidak akan membiarkan apapun menyentuh keluargaku," ucapku menatap mayat tersebut dari kejauhan.


"Makhluk apa ini?"


"Entahlah, seperti kurcaci. Tapi aku juga tidak terlalu yakin," jawabku membalas pertanyaan Izumi.


"Dan kau langsung membunuhnya tanpa bertanya apapun padanya?" lanjut Adinata menatapku.


"Aku sudah coba melakukannya, tapi dia langsung berteriak ingin memanggil Tuannya. Kita semua akan mati jika itu terjadi," sambungku menatapnya.


"Aku ingin pulang," tangis Sasithorn, tertunduk ia disamping Luana.


"Jika kalian masih memiliki energi untuk menangis, aku lebih menyarankannya untuk disimpan. Perjalanan kita masih panjang," ucapku yang ikut duduk ditanah tempatku berdiri sebelumnya.


"Lihat aku, apa kau terluka?" ucap Izumi yang sudah berjongkok duduk di hadapanku.


"Darahnya telah mengering, susah membersihkannya jika tanpa air," sambungnya seraya melepaskan kain yang mengikat lengannya, disapukannya kain tersebut di pipiku.


"Aku selalu mengatakan jika aku akan melindungimu, tapi malah kau yang melindungiku," ucapnya lagi, diraihnya kedua pipiku dengan kedua telapak tangannya sembari diletakkannya dahinya menyentuh dahiku.


"Kau juga telah melindungiku selama ini nii-chan, kalian berdua telah melindungiku selama ini," ungkapku membalas perkataannya.


"Aku tidak ingin terjadi apapun pada kalian berdua," ucapku lagi, kuletakkan kepalaku di bahunya.


"Terima kasih," ucapnya, ditepuknya kepalaku pelan oleh Izumi.


"Apa yang harus kita lakukan setelah ini?" ungkap Adinata menatapi Haruki.


"Apa kita hanya membiarkan mayat makhluk menjijikan ini disini?" ucap Zeki seraya menginjak-injak tubuh makhluk kerdil yang sudah tak bernyawa tersebut.


"Bagaimana menurutmu Danur? Apa kau merasakan ada makhluk yang lain?" ucap Haruki menatapi Danur yang diam membisu.


"A-aku me-merasakan su-suatu ke-kemurkaan di se-sebelah sa-sana," balasnya seraya menunjuk ke arah belakang tubuhnya.


"Ba-banyak se-sekali," ucapnya lagi, dibukanya kembali kedua matanya.


"Aku ingin sekali menghabisi salah satu dari mereka," ucap Izumi, duduk ia disebelahku.


"Akupun ingin melakukannya, entah kenapa aku ingin sekali menguliti kulitnya yang penuh kerutan ini," sambung Zeki, dibolak-baliknya kepala makhluk kerdil tersebut menggunakan kakinya.


"Bagaimana denganmu Ketua?" ucap Adinata kembali menatap Haruki.


"Mereka ingin mencelakakan kedua adikku, apa kau pikir aku akan melepaskannya," lanjut Haruki, digenggamnya kuat kedua telapak tangannya.


"Lalu bagaimana dengan pahlawan kita hari ini?" ungkap Adinata kembali mengalihkan pandangannya padaku.


"Aku merasa lebih baik setelah menghabisi salah satu dari mereka. Haruskah kita menantang maut?" ucapku menatap Izumi, Adinata, Zeki dan Haruki bergantian.


"Kita hanya punya waktu enam hari lagi. Entah kenapa akupun ikut bersemangat," balas Adinata, berjongkok ia seraya melakukan peregangan di kedua kakinya.


"Apa kalian semua telah kehilangan akal?" ucap Luana setengah berteriak.


"Kau ingin cepat pulang bukan?" ucap Haruki balas menatapnya, mengangguk ia membalas perkataannya tunangannya itu.


"Jika kita selalu menghindari mereka kita tidak akan bisa pulang dan kemungkinan besar kita akan mati disini, entah dibunuh oleh mereka ataupun karena kelaparan," ucap Haruki lagi.


__________


"Kenapa kita menyusuri sungai ini lagi? Aku tidak tahan melihat warna dan bau amis airnya," ucap Julissa seraya menutup hidungnya menggunakan telapak tangannya.


"Karena ini jalan yang lebih cepat, kita hanya perlu mengikuti arus sungainya sampai ke hulu," balasku, kuarahkan jari telunjukku ke arah depan.


"Apa kau baik-baik saja?" tukas Izumi berbicara dibelakangku.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit haus," ikut juga terdengar suara Sasithorn.


Kualihkan pandanganku ke wajahnya yang tampak pucat pasi dengan bibir yang terlihat mengering. Kuarahkan seluruh pandanganku ke arah batu-batu yang banyak tersusun di pinggir sungai, kembali aku menoleh kearah Sasithorn.


"Apa kau mempunyai kain bersih?"


"Kain?" ucapnya, mengangguk aku balas menatapnya.


"Aku tidak ada," sambungnya.


"Bagaimana denganmu Julissa?" ucapku beralih menatap Julissa yang berjalan di depanku.


"Hanya ikat rambutku saja yang tidak kotor," ucapnya, dilepaskannya kain berbentuk persegi panjang yang mengikat rambutnya.


"Terima kasih," ucapku seraya meraih kain tersebut dari tangannya.


"Kemarilah," ucapku berbalik seraya menarik lengan Sasithorn.


"Mau kemana kau?" tanya Zeki, digenggamnya lenganku dengan kuat.


"Memberinya air," ungkapku balas menatapnya.


"Air? Akupun mau Sachi," berbalik Julissa seraya menggenggam lenganku yang lain.


Kualihkan pandanganku menatap Zeki, dilepaskannya genggaman tangannya di lenganku. Berjalan aku mengajak mereka berdua mendekati sebuah batu besar yang berdiri tak terlalu jauh dari sungai...


Berjongkok aku duduk seraya meraih sebuah batu kecil yang tergeletak berhamburan dibawah batu besar tersebut. Kuarahkan batu kecil tersebut ke atas lumut-lumut yang menempel di batu besar tadi...


Kukikis lumut tersebut perlahan hingga jatuh di atas kain yang diberikan Julissa padaku sebelumnya. Kujatuhkan pandanganku ke lumut-lumut yang telah kukumpulkan, kututup lumut-lumut tersebut menggunakan kain tersebut seraty berdiri berbalik aku menatapi mereka yang mengawasi tingkahku dari belakang...


"Kau ingin minum bukan? berjongkoklah," ucapku menatap ke arah Julissa.


"Tapi itu lumut," balasnya dengan ekspresi memelas.


"Tapi lumut mengandung air, dan airnya dapat diminum," ucapku lagi padanya.


"A-apa ka-kau ya-yakin?" ucap Danurdara menatapku.


"Apa kau haus Danur, kau bisa meminumnya," sambungku, mengangguk ia seraya berjalan mendekati dan jongkok dihadapanku.


"Buka mulutmu," ucapku lagi padanya, dibukanya mulutnya mengikuti perintahku.


Kuarahkan kain berisi lumut-lumut tadi mendekati bibirnya, kutekan seraya kuperas kain berisi lumut-lumut tadi di atas mulut Danur. Setetes demi setetes air jatuh ke mulutnya...


"Te-terima ka-kasih," ucapnya, disapukannya telapak tangannya ke atas bibirnya yang basah lalu tersenyum ia menatapku.