
"Lux," ucapku menatapnya.
"Maaf, aku hanya terlalu bahagia," ungkapnya menurunkan telapak tangannya dari wajah, dibalasnya tatapanku tadi dengan senyum darinya.
"Apa kau mengetahui burung apa ini?" Ungkapku seraya kuarahkan jari telunjuk mengusap kepala bayi burung tadi.
"Aku hanya pernah mendengarnya dari legenda yang sering diceritakan oleh Ibuku. Dahulu, kami bangsa Peri adalah pelayan dari Tuan Benu, kami tercipta hanya untuk memenuhi semua kebutuhannya."
"Benu?" Ucap Haruki memotong perkataan Lux.
"Aku merasa tak asing dengan kata-kata Benu," sambung Haruki kembali dengan kedua tangannya bergerak menyilang di dada.
"Tuan Benu, adalah seekor burung yang abadi. Dia akan selalu terlahir kembali setelah kematiannya, saat kematiannya ia akan membakar tubuhnya sendiri dan lahirlah anak burung yang baru dari abu pembakarannya. Dan sudah tugas kami para Peri, untuk memenuhi kebutuhannya selama ia hidup..."
"Membakar tubuhnya sendiri, lalu dari abunya terlahir burung baru. Apakah mungkin ini burung Phoenix?" Ucapku memotong perkataanya.
"Phoenix? Aku tidak mengerti apa itu Phoenix, tapi jika diantara mereka mempunyai kesamaan, mungkin memang benar adanya," ungkap Lux terbang dan berhenti di samping anak burung tadi yang masih berselimut abu.
"Jika Naga adalah makhluk yang paling dihormati, maka Tuan Benu adalah makhluk kedua yang dihormati. Kau beruntung sekali, mendapatkan dua makhluk yang paling dihormati sekaligus, Sachi," ungkapnya kembali, digerakkannya tangannya menepis abu yang masih menutupi tubuh bayi burung tersebut.
"Phoenix ya," ucap Haruki kembali, digerakkannya kepalanya semakin mendekati burung tadi.
"Dari yang aku baca, air mata Phoenix dapat menyembuhkan luka begitupun dengan darahnya," Sambungnya, tampak terlihat senyum yang tersungging di ujung bibirnya.
"Nama apa yang ingin kau berikan padanya?" Ungkap Haruki menggerakkan kepalanya menatapku.
"Nama kah," tukasku ikut menggerakkan jari telunjuk membersihkan sisa-sisa debu yang masih menyelimuti tubuh bayi burung tadi.
"Bagaimana kalau Uki? Uki, yang berartikan harapan dan doa. Aku ingin jika dia besar, dia dapat menjadi harapan untuk semua orang," ucapku tersenyum menatapnya.
"Uki, nama yang bagus," ungkap Eneas yang juga telah duduk di sisi lain tubuhku.
"Serahkan Uki padaku, aku akan merawatnya. Akan kubuat dia jadi burung yang kuat dan tak terkalahkan ketika besar," ucap Lux memegang pipi bayi burung tadi.
"Baiklah, kami menyerahkan dia padamu Lux," ucapku balas menatapnya.
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjaganya baik-baik, Sachi," ungkapnya kembali, kutatap Lux yang tengah mengusap kepala bayi burung yang tertidur di pundaknya itu.
_____________________
"Eneas!" Teriakku, tampak terdengar langkah kaki yang berjalan mendekat.
"Kau memanggilku nee-chan?" Ungkapnya menggerakkan kepalanya hingga muncul dari balik tembok.
"Bisakah kau memanggil mereka semua? Makan malam telah siap," ungkapku, kugerakkan panci berisi sup miso yang ada di tanganku ke atas meja.
"Aku akan memanggil mereka semua," ungkap Eneas diikuti suara langkah kaki yang terdengar kian menjauh.
Kuletakkan anyaman bambu tadi ke atas meja seraya kuraih mangkuk kecil yang telah aku letakkan di atas meja sebelumnya. Kuraih dan ku isi mangkuk-mangkuk tersebut dengan nasi tadi.
"Apa kau sudah gila?!" Terdengar teriakan Izumi diikuti beberapa langkah kaki yang mendekat.
"Aku baik-baik saja, Adikku," ikut terdengar suara Haruki yang menimpali.
"Aku tak menanyakan keadaanmu," lanjut Izumi kembali terdengar.
"Ada apa?" Ungkapku menatap mereka yang berjalan masuk ke ruang makan.
"Bukan hal yang penting," ucap Haruki bergerak menarik salah satu kursi lalu mendudukinya.
"Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" Ungkapku seraya menyerahkan mangkuk berisi penuh nasi kepada Haruki.
"Izu nii-chan," ucapku kembali seraya kuarahkan semangkuk nasi lainnya pada Izumi.
"Selama kau sibuk menyiapkan makanan, kami sempat berdiskusi," ucap Izumi meraih mangkuk berisi nasi di tanganku.
"Apa yang kalian diskusikan?" Tanyaku lagi, kuambil kembali mangkuk terisi penuh nasi lalu memberikannya kepada Costa.
"Kami hanya ingin menunda perjalanan," ucap Haruki menatapku.
"Apakah ini ada hubungannya dengan Uki?" Ungkapku balas menatapnya, seraya tanganku bergerak menyerahkan mangkuk berisi nasi kepada Eneas.
"Kau benar. Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan membawa bayi burung kemana-mana, Lux pun melarang keras kita melanjutkan perjalanan," ucapnya kembali, beranjak ia berdiri dengan sebelah tangannya meraih mangkuk kosong yang ada di meja.
"Aku pun memikirkan hal yang sama," ucapku bergerak menduduki kursi kosong yang ada di hadapan.
"Tapi berlama-lama di sini juga berbahaya untuk kalian," ungkap Haruki menggerakkan tangannya menuangkan sup miso yang aku masak sebelumnya ke dalam mangkuk yang ia pegang.
"Apa kau mengkhawatirkanku, Izu-nii dan juga Lux?" Ungkapku meraih sisa mangkuk berisi nasi lalu memberikannya kepada Solana yang duduk di sampingku.
"Aku hanya tidak ingin, kejadian tadi siang menimpamu lagi," ucap Izumi meraih potongan daging bakar menggunakan sumpit yang ada di tangannya.
"Aku pikir tidak akan ada masalah jika kita tidak terlalu sering keluar rumah," ungkapku meraih sumpit yang tergeletak di samping tanganku.
"Jadi sudah diputuskan, kita akan tetap disini hingga Uki bisa diajak berpergian. Lagipun, siapa tahu kita akan menemukan benda seperti itu lagi di sini," ucap Haruki, diangkatnya mangkuk berisi sup yang ada di tangannya mendekati bibirnya.
"Baiklah, terserah kalian," ucap Izumi, dilahapnya tumpukan daging yang ia letakkan di atas nasi sebelumnya.
"Aku tak menyangka, jika masakanmu akan seenak ini, Putri," ucap Costa menatapku, tampak kulihat nasi yang ada di dalam mangkuknya telah habis tak bersisa.
"Terima kasih. Apa kau ingin menambah nasi?" Ungkapku seraya kuangkat telapak tanganku ke arahnya.