
"Kita sudah sepakat, jadi kau harus menepati janjimu padaku," ucapnya tersenyum menatapku.
"Aku mengerti, tapi jika kau mengkhianati kepercayaan yang aku berikan. Aku akan membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri," sambungku mengalihkan pandangan darinya sembari kulangkahkan kakiku berjalan mengikuti langkah kakinya di samping.
"Namamu?"
"Sachi, Takaoka Sachi. Dan kau anak kecil, siapa namamu? Dan berapa usiamu?" sambungku kembali menatapnya.
"Egil, delapan tahun. Dan kau? Usiamu?"
"Lima belas," jawabku singkat sembari kuarahkan pandanganku kembali menatap lurus ke depan.
"Lagipun, aku juga tidak terlalu peduli berapa usiamu," ucapnya dengan datar terdengar.
"Rasanya, aku ingin sekali membuatmu enyah dari pandanganku sekarang juga," ungkapku kembali tersenyum menatapnya.
"Terima kasih, kata-kata mu membuatku bersemangat," sambungnya balas tersenyum menatapku.
"Apa yang kalian berdua lakukan?"
Terdengar suara laki-laki dari arah belakang, kugerakkan tubuhku berbalik menatapnya yang telah berdiri menatapi kami bergantian. Pandangan mataku beralih pada Egil yang telah berjalan mendekatinya...
"Ayah, apa kau mencariku?" ucapnya yang dibalas anggukan pelan dari Niel.
"Darimana saja kau?" sambungnya menatapi anaknya itu.
"Aku hanya tengah berbincang dengan Kakak itu. Benar kan Kak Sachi?" ucapnya mengalihkan pandangannya dan tersenyum menatapku.
"Jangan sembarangan mendekati orang asing. Kita tidak tahu pengaruh buruk apa yang dia bawa untukmu," ungkapnya mengalihkan pandangan dari Egil seraya digerakkannya kedua kakinya melangkah melewati.
"Baiklah Ayah, aku akan mengikuti semua perintahmu," sambung Egil ikut berjalan melewati, tampak terlihat senyum tipis keluar dari bibirnya saat kedua mata kami tak sengaja bertemu.
"Sialan," bisikku pelan tertunduk sembari kugenggam kuat kedua telapak tanganku.
"Sia apa? Apa kau mengatakan sesuatu Kakak?" kembali terdengar suara Egil, kugerakkan tubuhku berbalik menatapnya.
"Tidak, aku tidak mengatakan apapun," sambungku balas tersenyum menatapnya.
Egil kembali berbalik melangkahkan kaki menyusul Niel, ikut kugerakkan kakiku mengikuti langkah kaki mereka berdua dari belakang. Bias-bias cahaya yang terpantul oleh obor di sepanjang lorong, tampak memperlihatkan jelas ukiran-ukiran yang terpatri di seluruh dinding lorong...
Langkah kaki kami bertiga terhenti, kualihkan pandanganku menatapi kedua penjaga yang berdiri di hadapan sebuah pintu berwarna putih yang ada di hadapan kami. Salah satu penjaga berbalik membuka pintu tersebut, sedangkan penjaga yang satunya membungkukkan tubuhnya di samping kami.
Niel dan Egil menggerakkan kaki mereka kembali melewati pintu yang terbuka tersebut, ikut kuarahkan kedua kakiku mengikuti mereka berjalan masuk ke dalam. Tampak terlihat, Haruki, Izumi, Eneas maupun Daisuke telah duduk di masing-masing kursi...
Aku melangkah dan duduk di samping Haruki, kuarahkan pandanganku balas menatap laki-laki paruh baya yang menyambut kami sebelumnya. Masih kutatap, laki-laki tersebut yang mengalihkan pandangannya menghindari tatapanku...
"Silakan dinikmati hidangan yang telah kami persiapkan," ucap Niel seraya menggerakkan sebelah tangannya meraih sendok yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk.
"Tidak terjadi apapun padaku."
"Kau yakin? Bagaimana dengan lukamu?" sambungnya menatapku.
"Lukaku telah sembuh nii-chan, aku baik-baik saja," sambungku lagi tersenyum menatapnya.
"Ayah, kak Sachi tadi menceritakan padaku jika Ayah menghilang karena ingin bersenang-senang. Apa itu bersenang-senang?" terdengar suara Egil, segera kugerakkan kepalaku menatapnya yang juga melirik padaku.
"Apa yang kau beritahukan pada Putraku?" ucap Niel ikut mengarahkan tatapan matanya menatapku.
"Apakah ada yang salah dengan perkataanku?" ucapku balas menatapnya.
Ayah dan anak sialan, anaknya ingin menjebak ku sedangkan Ayahnya sendiri... Aaahh kenapa juga aku harus ikut campur dalam drama keluarga mereka.
"Kau bertanya apa yang salah?"
"Bukan itu yang aku maksudkan, hanya saja... Apa kau ingin Egil mengetahui tentang keadaanmu saat..."
"Baiklah, tutup mulutmu! Jangan dilanjutkan perkataanmu itu," ucapnya mengalihkan pandangannya dariku.
"Dengan senang hati akan kututup bibiku," sambungku seraya tersenyum melirik pada Egil yang masih menatapku.
"Apa yang ingin kau makan?" ucap Haruki, kuarahkan pandanganku menatapnya yang tengah menggerakkan sendok di genggamannya memutari bibir piring kosong yang ada di hadapannya.
"Namamu Niel bukan?"
"Yang Mulia Ni..."
"Tutup mulutmu pelayan rendahan!" sambung Haruki memotong perkataan laki-laki paruh baya yang berdiri di samping Niel.
"Apa kau tidak tahu siapa aku?" ungkap Haruki lagi melirik ke arahnya.
"Aku Pangeran pertama Kerajaan Sora, Pangeran Takaoka Haruki. Dan yang duduk di sampingku, Putri yang tidak lain adalah adikku sendiri, Putri Takaoka Sachi..."
"Terutama untukmu Niel, begitukah caramu memperlakukan seseorang yang telah menyelamatkanmu. Jika kau, memperlakukan adikku seperti itu lagi, aku akan menghancurkan wilayah kekuasaanmu ini," sambung Haruki kembali menatapnya.
"Kau mungkin Pangeran Kerajaan lain. Tapi apa kau lupa, sekarang sedang berada di mana?" ungkap Niel membalas perkataan Haruki.
"Heh! Apa kau pikir, kami akan takut akan ancaman murahan yang kau lakukan?" lanjut Haruki lagi padanya.
"Haru nii-chan," ungkapku mencoba menghentikannya.
"Jangan mencoba ikut campur urusan di antara laki-laki," perkataan Niel mengarahkan pandanganku menatapnya, kutatap dia dengan beberapa kali helaan napas keluar dari dalam bibirku.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak terlebih dahulu, aku hanya membantu menyelamatkan nyawamu. Asal kau tahu, perkataan kakakku Haruki adalah mutlak... Saat dia mengatakan pergi, maka saat itu juga kami akan pergi. Dan saat dia mengatakan hancurkan tempat ini, aku sendirilah yang akan memastikan perkataannya tersebut terwujud dengan sangat baik," ucapku balas menatap tajam padanya.