Fake Princess

Fake Princess
Chapter LVIII


Masuk aku menyusuri semak-semak yang tumbuh di dalam hutan dengan kugenggam sekeranjang penuh ikan menggunakan sebelah tanganku...


Semenjak apa yang terjadi di Yadgar, Ayah melarangku untuk meninggalkan Istana. Haruki membantuku mengalihkan perhatian Ayah, setidaknya aku memiliki sedikit waktu untuk bisa menemui Kou.


Bayang-bayang Izumi semalam sebenarnya masih menghantui pikiranku, ada banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan padanya... Tapi, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menanyakannya langsung padanya...


Berhenti aku di bawah salah satu pohon besar, kuangkat kepalaku ke atas. Kupanggil Kou berulang-ulang, muncul ia dengan sayapnya yang terbuka lebar. Melompat ia dari ranting pohon dan jatuh ke tubuhku...


Terbaring aku jatuh ke tanah dengan dia duduk diatas tubuhku, berat dari tubuhnya membuat dadaku sesak...


"Apa kau ingin membunuhku, Kou?" tukasku menggunakan bahasa Inggris


"Aku mengkhawatirkanmu, My Lord." ucapnya berbicara melalui pikiranku


Semenjak satu tahun yang lalu, entah kenapa kami berdua sama-sama dapat berkomunikasi satu sama lain melalui pikiran kami. Hanya aku yang dapat mendengar suaranya...


"Aku juga sangat mengkhawatirkanmu, Kou." Kupeluk lehernya yang panjang, disandarkannya kepalanya ke leherku. Nafasnya yang dingin terasa menggelitik leherku.


Beranjak ia turun dari atas tubuhku, duduk ia disampingku. Akupun ikut beranjak duduk, kuraih keranjang berisi ikan yang aku bawa. Kubuka keranjang tersebut, kuambil seekor ikan dari dalam keranjang. Kulemparkan ikan tersebut ke udara...


Ditangkap ikan tadi menggunakan mulutnya yang lebar, ikan tersebut masuk ke dalam perutnya tanpa perlu ia kunyah seperti dulu. Tinggi tubuhnya sendiri telah hampir mencapai setengah dari tinggi tubuhnya Haruki, aku tidak menyangka jika pertumbuhan Naga akan secepat ini...


"Apa kakak-kakakku menjagamu dengan sangat baik?"


"Mereka memberikanku banyak makanan."


"Benarkah? Syukurlah..."


"Kou, ada yang ingin aku tanyakan padamu..."


"Dengan senang hati, My Lord."


"Apakah ada yang aneh padaku?"


"Kalian tidak bisa terbang, kalian tidak punya kekuatan, kuku kalian tidak tajam untuk memanjat pohon. Kalian memang aneh."


"Aku mengerti." ucapku, tersenyum aku menatapnya


"Makanlah, dan habiskan semuanya. Aku membawanya khusus untukmu." Tukasku lagi, kuraih dan kuletakkan sekeranjang penuh ikan di hadapannya.


"Kau disini, Tupai?"


"Aku mencarimu kemana-mana." Tukasnya lagi dari arah belakangku


"Ada apa, nii-chan?" ucapku seraya menoleh ke arahnya


"Ada sekumpulan perempuan yang ingin bertemu denganmu."


"Sekumpulan perempuan?" tanyaku bingung


"Mereka mengatakan jika kau telah menyelamatkan mereka di sekitar Kerajaan Yadgar."


"Aahh aku ingat sekarang." Tukasku, beranjak aku berdiri


"Aku pergi dulu, Kou. Aku akan menemui mu lagi." kutepuk pelan kepalanya yang tengah sibuk memakan ikan dariku


Berjalan aku mendekati Izumi, kutatap matanya yang terlihat sembab, dibuangnya pandangannya kesamping menghindari tatapan mataku...


"Kau benar. Aku sangat ceroboh bukan?" ucapnya tersenyum menatapku, diangkatnya telapak tangannya yang terluka ke belakang kepalanya.


Itu luka akibat duri dari bunga Mawar yang kau genggam semalam, bukan?


Aahh, aku ingin sekali mengatakannya langsung padanya. Tapi...


"Kau benar-benar ceroboh, nii-chan. Jangan sampai terluka lagi, aku tidak menyukainya..." Ucapku seraya berjalan melewatinya


"Aku tahu. Aku belum melihat senyummu hari ini, tersenyum lah sedikit untuk kakakmu ini..." Tukasnya berjalan merangkul ku, tersenyum ia menatapku


"Seperti ini?" balasku tersenyum ke arahnya


"Kau benar, seperti itu." Ucapnya mengalihkan pandangannya, ditepuknya kepalaku pelan beberapa kali


Berjalan kami melewati jalan rahasia yang kami buat sembunyi-sembunyi, dituntunnya aku oleh Izumi menyusuri Istana. Kulirik kembali wajahnya yang menatap kosong kedepan...


Tampak dari kejauhan terlihat Haruki dengan Tatsuya, Tsutomu dan juga Tsubaru di belakangnya. Berdiri mereka di hadapan beberapa perempuan yang duduk beralaskan rumput...


Berjalan kami mendekati mereka, menoleh mereka semua ke arah kami. Tampak terlihat tatapan mata berbinar di pancarkan oleh para perempuan yang menatapku...


"Putri." ucap mereka satu persatu


"Bagaimana keadaan kalian?" ucapku, kulepaskan genggaman tanganku pada Izumi, berjalan aku mendekati mereka


"Kami semua baik-baik saja, Putri." ungkap salah satu dari mereka


"Syukurlah." Tukasku seraya ikut duduk di hadapan mereka


"Sebenarnya aku tidak ingin menanyakannya. Akan tetapi, bisakah kalian memberitahuku... Bagaimana kalian bisa berakhir bersama laki-laki tersebut?" ucapku tertunduk


"Salah satu laki-laki tersebut adalah suamiku, Putri. Lebih tepatnya mereka semua adalah suami-suami kami..." ucap salah satu dari mereka dengan suara bergetar


"Dia menikahiku hanya untuk kesenangannya. Aku dipaksa nya menjadi budak, melayani teman-temannya. Bahkan ia menjual anak laki-laki kami yang baru saja lahir pada seorang bangsawan yang tidak mempunyai keturunan..." sambung salah satu dari mereka, terlihat jari-jemarinya gemetaran ketika menghapus tangisan yang ia keluarkan


"Suamiku..." ucap salah satu perempuan lagi


"Dia membunuh anak yang masih tumbuh di dalam perutku, dia menendang kuat perutku... Dia berteriak mengatakan jika mempunyai anak itu merepotkan, lalu membuangku untuk memuaskan nafsu teman-temannya."


"Rasanya menyakitkan ketika ia menendang kuat perutku, akan tetapi... kehilangan anak yang belum sempat aku lihat lebih menyakitkan." Ucapnya tertunduk menangis


Beranjak aku mendekatinya, kupeluk kuat tubuhnya yang sangat kurus tersebut. Kutepuk-tepuk pelan punggungnya...


"Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak tahu apa yang dilakukan para Kesatria ku pada suami-suami kalian..." kulepaskan pelukanku dari wanita tersebut, kutatap wajah mereka satu persatu


"Kami telah melupakan mereka, Putri. Kami kesini hanya ingin memberikan ini, sebagai ucapan terima kasih kami padamu." Ucap salah satu mereka seraya memberikan bungkusan kain berwarna putih padaku


"Apa ini?" ucapku, kuraih bungkusan yang mereka berikan. Kubuka simpul yang mengikat bungkusan kain tersebut


"Ketika kami sampai ke Kerajaan ini, beberapa Kesatria mengantarkan kami ke yayasan perempuan yang Putri dirikan. Disana kami belajar banyak hal..."


"Kami membuatkan beberapa buah gaun untuk kau kenakan, Putri." sambungnya tersenyum kearahku


"Ini cantik sekali," ungkapku seraya mengangkat sebuah gaun berwarna hijau dari dalam bungkusan.


"Terima kasih banyak." sambungku, tersenyum aku seraya menatap mereka satu persatu.