Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXXI


"Nii-chan, menurut perhitunganmu, berapa lama mereka akan mencapai perbatasan?"


"Dua atau tiga hari lagi," sambung Izumi menimpali perkataanku.


"Jika jarak Kerajaan mereka lebih jauh dibandingkan Kerajaan kita, kenapa mereka bisa sampai kesini? Bukankah mereka seharusnya melewati Kerajaan lain terlebih dahulu?" ucapku seraya kugerakkan tubuhku duduk berjongkok di hadapan mereka.


"Semua bisa terjadi jika mereka memegang izin dari Kaisar, yang lebih penting... Apa kau siap, Sa-chan?" ungkap Haruki, menoleh aku menatapnya yang ikut berjongkok di hadapanku


"Apa maksudmu, nii-chan?"


"Memimpin peperangan, itu berarti... Kau lah yang akan menjadi Jenderal. Posisimu, di atas seluruh pasukan. Hidup dan mati mereka, semuanya berada di tanganmu... Dan juga..." ucap Haruki terhenti, kutatap ia yang terlihat menggigit bibirnya sendiri.


"Nii-chan," ungkapku seraya kuarahkan tanganku memegang lengannya.


"Peperangan akan berakhir jika ada kesepakatan damai di antara kedua belah pihak Kerajaan, dan juga... Matinya salah satu Jenderal yang memimpin peperangan..."


"Sa-chan, jangan lakukan. Musuh akan mengincar kepalamu, sebagai Kakak aku mempercayai kemampuanmu. Akan tetapi, sebagai Kakak juga, aku tidak ingin kehilangan Adikku," sambungnya dengan suara bergetar.


"Kau akan berada di sampingku bukan, nii-chan?" ucapku padanya, kutatap ia yang mengalihkan pandangannya dariku.


Ikut kuarahkan pandanganku mengikutinya, kutatap Raja Bagaskara yang juga balas menatapi kami. Mengangguk ia membalas tatapan kami padanya sebelumnya, kualihkan pandanganku pada Haruki yang juga telah menatapku seraya mengangguk dan tersenyum ia padaku.


"Apa kau melupakan Kakakmu yang satunya lagi," terdengar suara Izumi diikuti rasa sakit yang menimpa kepalaku, kualihkan pandanganku padanya yang menatapku dengan sebelah tangan digenggamnya.


"Dan jangan lupakan kami berdua Hime-sama," ikut terdengar suara Adinata, kembali kuarahkan pandanganku padanya dan juga Danurdara yang ikut tersenyum menatapku.


_________________


Kubuka kembali kedua mataku perlahan, beranjak aku duduk dari ranjang tempatku berbaring. Kutundukkan kepalaku dengan telapak tangan menutupi wajah, berkali-kali aku menguap oleh kantuk yang masih menempel.


Kuturunkan kembali telapak tangan yang menutupi wajahku tadi, menoleh aku ke samping menatap Julissa yang masih tertidur nyenyak. Kuangkat selimut yang menyelimuti kakiku seraya kugerakkan kedua kakiku menuruni ranjang.


Berjalan aku mendekati kamar mandi yang ada di pojok kanan ruangan, kubuka pintu kamar mandi tersebut seraya masuk aku ke dalamnya. Melangkah aku mendekati tong berisi penuh air seraya kuraih gayung dari kayu yang ada di sampingnya, kugerakkan gayung tadi ke dalam tong seraya kubasuh wajahku menggunakan air yang memenuhi gayung kayu tadi...


Melangkah kembali aku ke luar kamar mandi, bergerak aku mendekati ranjangku kembali seraya kugerakkan kedua kakiku bergantian memakai sandal yang kuletakkan di samping ranjang..


Kembali aku melangkah mendekati pintu kamar, kugerakkan tanganku membukanya seraya berjalan aku keluar. Berbalik aku kembali menutup pintu tersebut, kugerakkan tubuhku berjalan menyusuri Istana...


Pandangan mataku terjatuh pada ratusan titik cahaya yang menyala terang di lapangan Istana, kutatap para laki-laki yang hilir mudik bahu-membahu membuat benda-benda yang aku perintahkan. Kugerakkan kembali tubuhku berjalan mendekati salah satu pohon yang ada di sana seraya kusandarkan tubuhku berdiri disana...


Suara gesekan kayu yang terpotong, suara dentingan besi yang saling bersentuhan satu sama lain memenuhi telingaku. Gelapnya malam, tak membuat semangat mereka turun karenanya...


Kuarahkan pandanganku pada Aydin yang tengah menendang beberapa orang laki-laki, berlutut lima laki-laki tadi di hadapannya seraya berdiri Aydin di hadapan mereka dengan kedua lengannya menyilang di dada.


"Apa yang kau lakukan di sini?" terdengar suara laki-laki, menoleh aku ke arah Zeki yang telah berdiri di sampingku.


"Memeriksa perkembangan, apa kau melihat kedua Kakakku?" ucapku seraya berbalik berdiri di hadapannya.


"Mereka di seberang sana, mempersiapkan racun yang dibuat oleh Eneas beserta Lux," ungkapnya seraya kualihkan pandanganku darinya yang tiba-tiba menanggalkan pakaian yang ia kenakan.


"Kenakan lagi pakaianmu, apa yang kau lakukan?"


"Apa kau pikir aku akan membiarkanmu berjalan di hadapan banyak sekali laki-laki dengan hanya mengenakan gaun tidur yang kau kenakan?" ucapnya, seraya kurasakan sesuatu menyentuh pundakku.


"Bagaimana denganmu?"


"Aku melakukan pelatihan fisik dengan mereka, tubuhku akan hangat dengan sendirinya. Pergilah, aku akan mengawasimu dari sini," ucapnya menatapku, diangkatnya sebelah tangannya mengusap pelan rambutku.


"Terima kasih," ucapku, kugerakkan kedua lenganku bergantian mengenakan pakaian miliknya yang sedikit kebesaran untuk kukenakan. Berbalik aku berjalan meninggalkannya seraya kutarik kedua lenganku hingga pakaian miliknya tadi semakin menutup rapat tubuhku.


Langkah kakiku bergerak semakin mendekati Haruki yang tengah berbincang dengan Adinata di sampingnya. Ikut kuarahkan pandanganku kepada Izumi yang duduk di tanah dengan kedua tangannya memegang alat penggilingan, ikut kutatap Lux yang terbang kesana-kemari di hadapan Izumi dan juga Danurdara yang masih menggerakkan tangannya menggerakkan alat penggilingan dari bongkahan batu tersebut...


"Nii-chan," ucapku berjalan mendekati mereka .


"Apa kau..." perkataan Haruki terhenti, lama ia menatapku yang berjalan semakin mendekatinya.


"Izumi katakan, ini hanya aku... Atau memang pakaian yang ia kenakan benar-benar sudah tak terasa asing bagiku hari ini," sambungnya seraya mengalihkan pandangannya kepada Izumi.


"Ini seperti aku melihat pakaian itu berseliweran di hadapanku beberapa waktu terakhir," lanjut Izumi meninmpali perkataan Haruki, menoleh aku menatapnya yang juga menatapku dari tempat ia duduk.


"Zeki meminjamkannya padaku karena aku hanya mengenakan gaun tidur," ucapku pada mereka bergantian.


"Aku bercanda, kemarilah!" ucap Haruki kembali mengarahkan pandangannya padaku.


Berjalan aku mendekatinya, kutatap lembaran kulit hewan yang ada di hadapannya. Tampak tersusun batu-batu berbagai ukuran di atas lembaran kulit tadi...


"Apa kalian telah membagi pasukan yang akan kalian pimpin nantinya?" ucapku seraya mengangkat salah satu batu tersebut.


"Katakan semua yang ada di dalam pikiranmu, kau Jenderalnya," ucap Haruki padaku.


"Sebenarnya aku menginginkan Zeki, Izu nii-chan, dan juga Aydin memimpin pasukan pejalan kaki. Adinata memimpin pasukan kereta berkuda, dan kau Haru nii-chan memimpin pasukan berkuda, Sedangkan Danurdara memimpin pasukan pemanah..."


"Alasannya? Kau tahu bukan, aku menginginkan alasan yang tepat untuk semuanya," ucap Haruki menghentikan perkataanku.


"Zeki, Izu nii-chan dan Aydin, insting mereka lebih tajam terhadap serangan, dengan insting tersebut mereka akan dengan mudah mengendalikan pasukan yang memang awalnya bukanlah Kesatria..."


"Adinata, aku pikir dia salah satu manusia yang seimbang..."


"Apa maksudnya itu?" ucapnya memotong perkataanku.


"Maksudku, kau tipe manusia yang bisa menggunakan insting dan juga logika disaat bersamaan. Aku memintamu untuk memimpin pasukan yang membawa kereta perang, karena aku percaya kau dapat memimpin mereka untuk maju atau berhenti saat melawan musuh, karena membawa kereta perang tak semudah kelihatannya," ungkapku seraya kuletakkan kembali batu yang aku genggam ke atas meja.


"Kakakku Haruki, aku tidak pernah meragukan kemampuan berpikirnya selama ini. Aku memintanya memimpin pasukan berkuda, karena jika musuh melakukan serangan mendadak yang tak bisa dihindarkan... Otak Kakakku, akan dengan cepat membolak-balik serangan tersebut. Karena itu, aku membutuhkannya untuk memimpin pasukan yang mempunyai pergerakan tinggi..."


"Danur, aku tidak meragukan kemampuannya dalam memanah. Aku ingin dia memimpin pasukan pemanah di bawah pimpinannya," ucapku lagi seraya kuarahkan pandanganku pada Haruki dan juga Adinata bergantian.


"Bagaimana? Apa kalian menyetujuinya?"


"Kau Jenderalnya, kami hanya akan menuruti perintah darimu," ucap Haruki menimpali ucapanku, kuarahkan pandanganku pada Adinata yang mengangguk menanggapi perkataan Haruki.


"Dan yang lebih penting, apa racunnya telah selesai?"


"Adikmu berusaha keras membuatnya, sekarang kami hanya tinggal mempersiapkan obat-obatan untuk mereka yang terluka," ungkap Haruki seraya diarahkannya pandangannya menatap Eneas yang tertidur di kursi.