Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCLV


"Empat ribu Tickla."


"Enam ribu Tickla."


"Sepuluh ribu Tickla," ucap beberapa orang bergantian seraya diangkatnya potongan kayu yang ada di tangan mereka.


"Costa, kumohon. Aku akan mengganti semua uang milikmu," ucapku kembali menatapnya, semakin erat genggaman tanganku di lengan pakaian yang ia kenakan.


"Seratus ribu Tickla," ucap Costa dengan sebelah tangannya mengangkat potongan kayu yang ia genggam.


Bisikan-bisikan memenuhi ruangan dengan sesekali mereka melirik ke arah Costa yang mengangkat potongan kayu itu. Costa diam tanpa suara dengan pandangannya hanya tertuju ke depan menggubris semua lirikan yang ia terima.


"Terjual dengan harga Seratus ribu Tickla," ucap laki-laki yang berdiri di hadapan kami.


"Orang seperti apa yang mengeluarkan banyak sekali uang hanya untuk kotak kayu."


"Itu hanya kotak kayu biasa, untuk apa mengeluarkan uang sebanyak itu," bisikan demi bisikan kembali terdengar di telinga.


"Terima kasih, Costa," ucapku tersenyum menatapnya.


"Tidak perlu berterima kasih. Semua kekayaan yang kami miliki, berasal dari kebaikan hati keluarga kalian," ucapnya balas tersenyum menatapku.


"Aku akan mengurus semua pembayarannya, tunggulah di depan tenda. Dan jangan pergi kemanapun," ucapnya beranjak berdiri, berjalan ia melewatiku.


"Berhati-hatilah," ungkapnya lagi menghentikan langkah kakinya berbalik menatapku.


"Aku mengerti," ucapku ikut beranjak lalu berjalan mendekati tirai merah yang kami lewati sebelumnya.


Aku berjalan mengikuti kerumunan orang keluar dari dalam tenda. Langkah kakiku berhenti saat tubuhku berhasil keluar dari dalam sana, kugerakkan tubuhku berjalan ke samping... Sesekali, kugerakkan kaki kananku menginjak-injak tanah seraya kepalaku bergerak menatapi tirai pintu tenda, berharap Costa keluar dari sana secepatnya.


"Maaf membuatmu menunggu," ucapnya saat menyingkap tirai pada tenda, Costa berjalan mendekat dengan kotak kayu yang aku lihat di dalam telah berada di tangannya.


"Benda yang kau inginkan," ucapnya menggerakkan benda tersebut ke arahku.


"Terima kasih," ucapku meraih kotak kayu tersebut darinya.


Hangat. Ini perasaanku, atau memang kotak kayu ini terasa sangat hangat.


Lama kutatap kotak kayu tersebut sembari jari-jari tangan kananku menelusuri ukiran bunga mawar yang memenuhi kotak. Sihir waktu, benda yang diselimuti sihir tersebut... Tak akan rusak, seperti piano yang aku temui di Yadgar.


"Kita pulang," ucapnya meraih dan menggenggam lengan kananku.


"Bagaimana dengan Kakak dan juga Adikku," ucapku berjalan mengikuti langkahnya yang menarikku.


"Kita akan bertemu dengan mereka di lorong perumahan, kau tidak perlu mengkhawatirkannya," ucapnya tanpa menoleh sedikitpun.


Kami berdua berjalan melewati kerumunan, tangan kiriku memeluk erat kotak kayu tersebut sedangkan tangan kananku digenggam erat oleh Costa. Samar-samar kurasakan rasa hangat mengalir dari ujung jari tangan kiriku... Aku tidak tahu, apa yang ada di dalamnya.


"Nee-chan!" Teriak Eneas saat mata kami saling bertemu.


"Aku mencarimu kemana-mana," ucapnya lagi yang telah berdiri di hadapanku.


"Apa Haru dan Izu nii-chan belum kembali," ucapku menggerakkan kepala memutari sekitar.


"Mungkin sebentar lagi. Lagipun, kotak apa itu?" Ungkapnya mengalihkan pandangan pada kotak yang aku bawa.


"Costa membelinya saat sedang di perjalanan," ucapku padanya, tampak ikut terdengar suara decakan lidah yang samar terdengar.


Mataku teralihkan pada Solana yang berdiri dengan kedua lengannya bersilang di dada. Wajahnya langsung menghadap ke sisi lain tubuhku saat mata kami saling bertemu... Aahh merepotkan sekali, aku akan berbicara dengannya lagi nanti.


"Darimana saja kau! Kau membuatku ketakutan setengah mati," terdengar suara lantang dari arah belakang diikuti jeweran keras yang kurasakan di telinga.


"Izu nii-chan, aku minta maaf... Aku tidak sengaja tersesat," ungkapku menggerakkan tangan kananku menggenggam tangannya yang masih menjewer kuat telingaku.


"Aku menyesal, bisakah kau melepaskannya," ucapku lagi, kugerakkan kembali tanganku mengusap-usap telinga saat kurasakan jeweran yang ia lakukan terlepas.


"Jangan menakuti kami seperti itu lagi Sa-chan. Kau tahu betapa berbahayanya tempat ini," ikut terdengar suara Haruki, berbalik aku menatapnya yang berdiri tertunduk di belakang Izumi.


"Maafkan aku nii-chan. Tapi aku, merasa terpanggil oleh kotak ini," ucapku mengangkat kotak yang ada di tanganku ke arahnya.


"Kotak, memang ada apa dengan kotak ini," ungkapnya meraih dan mengamati kotak kayu tadi.


"Bisakah kita pulang ke rumah Costa terlebih dahulu, aku akan menjelaskannya di sana," ungkapku menatapnya, dibalasnya perkataanku tadi dengan helaan napas olehnya.


"Aku mengerti," ungkapnya berjalan melewati, aku ikut berbalik berjalan mengikutinya dari belakang.


"Dan juga nii-chan, apa kita punya uang sebanyak seratus ribu Tickla?" Bisikku pada Haruki saat aku berjalan di sampingnya.


"Untuk apa uang sebanyak itu," ungkapnya balas berbisik padaku.


"Untuk dibayarkan pada Costa. Aku mendapatkan kotak tersebut dari pelelangan, dan Costa membantu membayarnya tadi," bisikku kembali padanya.


"Kalian ke pelelangan?" Ungkapnya menatapku.


"Aku tak sengaja merasakan sesuatu, saat ku pinta Kou menuntunku, aku telah berada di depan tenda pelelangan. Jadi nii-chan, apakah uang kita cukup?"


"Aku akan meminta Ayah yang membayarnya, atau kau ingin menjual kalung yang ada di lehermu untuk membayarnya?"


"Kalung?" Ungkapku menggerakkan tangan meraba kalung yang ada di leherku.


"Zeki akan langsung membunuhku jika ia tahu aku menjualnya. Apa kau ingin, Adikmu ini mati terbunuh olehnya," ucapku tersenyum menatapnya.


"Dia akan mengerti, lagipun... Kau hanya tinggal meminta dia untuk membelikan kalung yang baru," ungkap Haruki, kugerakkan kepalaku tertunduk menghindari tatapannya.


"Ini pertama kalinya dia membelikan perhiasan mahal untukku. Aku tahu, dia pasti menyisihkan banyak sekali uang dari gaji yang ia terima sebagai Kapten hanya untuk membelikan aku kalung ini. Aku tak bisa melakukannya," ucapku pelan terdengar.


"Akupun masih menyimpan kado yang nii-chan berikan ketika masih di Paloma. Aku menghargai semua pemberian kalian," ucapku kembali, kugerakkan wajahku tersenyum menatapnya.


"Aku tahu," ungkap Haruki ikut tersenyum dengan sebelah tangannya mencubit kuat pipiku.