Fake Princess

Fake Princess
Chapter XLIV


"Kau kenapa?" ungkap Lux


"Entahlah..." ucapku tertunduk menatapnya


"Sihir di ruangan ini, kuat sekali." Ucap Lux terdengar bergetar


"Begitukah?" tukasku singkat


Kuarahkan kembali telapak tanganku mendekati pundakku, kembali Lux berjalan dan duduk di atasnya.


Kuarahkan pandanganku ke sekitar, tampak dinding-dinding tanah berukiran Naga memenuhi sekeliling kami.


Kutarik kembali nafasku dalam-dalam seraya kuhembuskan perlahan. Bersusah payah aku mencoba beranjak berdiri dengan kedua kakiku yang bergemetar hebat.


Berjalan aku perlahan menuju ke sebuah Altar yang ada dihadapan kami. Kuletakkan telapak tanganku ke punggung seraya ku tepuk-tepuk pelan untuk sekedar menghilangkan rasa sakit yang menusuk...


Pandangan mataku terjatuh pada sebuah tulisan yang terukir di meja batu. Berjalan kudekati meja batu tersebut...


Teka-teki lagi kah?


"Sisik putih, nafas beku. Sebuah tali baik atau buruk, meregangkan genggaman atau menutup genggaman..."


"Bagaimana? Apa kau bisa menyelesaikannya?" bisik Lux


"Beri aku sedikit waktu," tukasku diiringi dahi yang mengerut, berusaha mencari maksud dari teka-teki tersebut


"Sisik putih, nafas beku. Naga?" ungkapku pelan


"Kenapa bisa Naga?"


"Nafas beku, bukankah senjata utama Naga ialah nafasnya? Dan juga, coba perhatikan ukiran yang ada di dinding..." ucapku seraya membuang pandangan mataku ke sekitar


"Kau mungkin benar, tapi apa maksudnya?"


"Aku akan mencoba menjawabnya akan tetapi Lux, persiapkan dirimu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita setelah ini..."


"Aku mengerti." Ucap Lux pelan di telingaku


Kutarik nafasku dalam-dalam, kuhembuskan kembali secara perlahan. Adrenalin ku kembali terpacu...


Aku takut? ya, aku takut. Tapi apa aku punya pilihan yang bisa aku pilih sekarang?


"Aku menerimanya, untuk menyelamatkan semua orang, untuk memberikan kebahagiaan pada semua orang. Aku menerimanya..." tukasku dengan suara bergetar


Tanah yang aku pijak kembali bergetar, meja batu dihadapanku tiba-tiba retak. Retakan itu menjalar dari tengah meja menuju ke empat sisinya.


Brakk!!


Meja batu itu tiba-tiba pecah berhamburan. Kugigit kuat bibirku menahan sakit yang mengalir di kedua kakiku, sebuah bongkahan batu berukuran lumayan besar jatuh tepat di ujung kakiku.


Kepalaku terasa seperti tersengat listrik, tubuhku gemetar menahan sakit. Gigitan di bibirku semakin kuat, berusaha kucoba sekuat mungkin untuk tak menangis.


Kuraih bongkahan batu yang menimpa kakiku itu, ku lempar bongkahan batu tadi ke sebelah kiri tubuhku. Kembali kutatap kakiku yang tampak memerah...


"Kau baik-baik saja?" tukas Lux seraya menyentuh leherku


"Aku baik-baik saja." Jawabku pelan dengan suara bergetar


Pandangan mataku kembali terjatuh pada sebuah telur bercangkang putih berukuran telapak tangan orang dewasa dengan beberapa kristal es mengelilinginya. Kuarahkan telapak tanganku seraya berusaha meraihnya...


Kuangkat telur tersebut ke hadapanku, lama aku menatapnya. Cangkangnya terasa sedingin es ketika di sentuh, tanganku sendiri membeku memegangnya...


Ujung telur tersebut tiba-tiba hancur dari dalam, retakannya mengalir hingga ke bagian tengah telur. Air dingin merembes keluar dari balik lubang yang ada di sisi kanan telur, tanganku gemetar menahan dingin dari air tadi yang menusuk ke pori-pori...


Sebuah cakar kecil berwarna putih tiba-tiba muncul dari balik lubang tadi. Ku kupas telur tadi secara perlahan...


Seekor Naga kecil berwarna putih menatap ke arahku, matanya yang hitam tampak menusuk jiwaku. Kuletakkan jari telunjukku ke atas kepalanya, kubelai kepalanya pelan, tampak matanya terpejam seperti halnya seekor kucing yang telah jinak...


"Putri." Terdengar suara dari arah belakangku disertai sebuah tepukan pelan di pundakku


"Sachi, perhatikan sekitar." Bisik Lux seraya menarik-narik pelan rambutku


Tubuhku terhentak pelan, kuperhatikan keadaan di sekitarku. Semuanya kembali normal, tak ada tempat gelap berdinding tanah seperti sebelumnya.


Kujatuhkan pandanganku kembali ke telapak tanganku, Naga kecil tadi kembali menatap ke arahku. Kututupi tubuhnya menggunakan mantel yang aku kenakan, berbalik aku ke belakang...


"Tsubaru?" tukasku menatapnya tak percaya


"Apa ada sesuatu yang salah, Putri?" ungkapnya terlihat bingung


"Bisakah kau membawaku ke Pangeran Haruki?"


"Kumohon." Lanjutku menatapnya


"Aku mengerti." Ucapnya seraya berjalan mendekat dan menggendong tubuhku


"Apa yang terjadi pada kakimu, Putri?" Tukas Tsubaru seraya menatapku


"Aku akan menceritakannya nanti." balasku balik menatapnya


"Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu, Putri." ucapnya pelan seraya menatap ke depan


"Aku tidak akan bisa menyembunyikan apapun darimu, Tsu nii-chan." balasku berbisik


"Aku bersyukur kau mempercayaiku, Putri."


Berjalan ia semakin mendekati Raja dan rombongannya. Kutatap Haruki yang juga menatapku dari kejauhan, berjalan Tsubaru ke arah kuda yang ditunggangi Haruki...


"Haru nii-chan..."


Lama Haruki menatap ke arahku, diliriknya tangan kananku yang kusembunyikan di balik mantel yang aku kenakan. Diraih dan diangkatnya tubuhku duduk di depannya...


"Ayah, sepertinya Sachi sedang tidak enak badan. Aku akan membawanya kembali ke tenda." Ucap Haruki setengah berteriak


"Aku mengerti." Ungkap Raja seraya menoleh ke arah kami berdua


"Yang Mulia."


"Kau tidak perlu khawatir Tsubaru, aku akan mengurusnya." Ucap Haruki seraya memutar kuda yang ditungganginya


Kuda cokelat tersebut berlari cepat, angin yang menampar benar-benar membuat tubuhku bergidik...


"Ada apa, Sa-chan? Apa terjadi sesuatu?" tukas Haruki seraya fokus menatap ke depan


"Aku mendapatkan Naga, nii-chan." bisikku pelan


"Eh?" Kuda yang ditungganginya tiba-tiba berhenti. Matanya yang berwarna cokelat tampak menatap ke arahku disertai ekspresi tak percaya.


"Aku serius, kau bisa langsung menanyakan semuanya pada Lux." tukasku balik menatapnya