Fake Princess

Fake Princess
Chapter DLVIII


Aku melangkah mengikuti Haruki, Izumi dan juga Ryuzaki yang berjalan di depanku, “nii-chan, bagaimana dengan Aniela? Apa kalian, meninggalkannya begitu saja?” tanyaku ketika kami telah masuk ke dalam sebuah kamar.


“Akan sangat berisiko jika kita mengajaknya pergi langsung dari Kerajaannya tanpa membawa izin dari Raja langsung. Jadi, aku hanya menyarankan kepadanya … Jika dia benar-benar ingin pergi, aku memintanya untuk mencari rumah Kacper yang ada di Kerajaan mereka. Jika dia berhasil melakukannya, maka aku sendiri yang akan membantunya keluar dari Aleksy,” jawab Haruki sambil melangkah lalu duduk di salah satu bangku.


“Karena, jika dia sendiri yang melarikan diri, kita bisa mengelak dari tuduhan penculikan Putri. Jika dia benar-benar tidak ingin berpisah dari Eneas, setidaknya dia haruslah bisa melakukannya,” sambung Haruki, dia menatapku dengan menyandarkan dirinya di kursi yang ia duduki.


“Bagaimana denganmu sendiri, apa kau yakin? Ini sekali seumur hidup, jadi pikirkan baik-baik,” ungkap Haruki lagi, “kemarilah!” sambungnya sambil melambaikan tangannya.


Aku berjalan lalu duduk di salah satu kursi yang ada di dekatnya, “aku, merasa tiba-tiba begitu gugup,” ungkapku dengan menundukkan kepala ketika tubuhku itu ikut bersandar di kursi.


“Jika kau benar-benar yakin, aku akan segera mengirimkan surat kepada Ayah agar menyiapkan semuanya,” ucap Haruki, dia sedikit beranjak, mengangkat tangannya mengusap pipiku. “Rasanya berat sekali melepaskan adik yang aku besarkan, tapi yang dikatakan Zeki benar adanya … Kau, akan lebih aman jika menyandang sebagai Isteri dari seseorang dengan mata yang kau miliki,” sambungnya, dia tersenyum dengan meletakkan telapak tangannya itu di pipiku.


“Apa kau, tidak ingin mengatakan sesuatu Izumi?” tukas Haruki sambil mengalihkan tatapan matanya kepada Izumi.


“Apa yang bisa aku katakan? Dia sudah dewasa, dia lebih tahu … Mana yang terbaik untuknya atau tidak. Lagi pun, jika aku menjadi Zeki, aku belum tentu dapat menunggu selama itu,” Izumi tersenyum saat aku mengangkat wajah menatapnya.


_________________.


Aku berjalan mendekati Haruki dan juga Izumi yang terlihat tengah berbincang bersama Aydin dan juga Adinata. Aydin berbalik ke belakang, menatapku yang berjalan semakin mendekati mereka. “Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanyaku dengan menoleh ke arah Haruki yang berdiri di samping.


“Aydin hanya ingin memastikan, apa benar jika Zeki akan mengunjungi Sora terlebih dahulu,” tukas Haruki saat pandangannya itu menoleh ke arahku.


“Apa perkataanku kepadamu sebelumnya belum jelas? Aku sudah lama sekali tidak berkunjung ke Sora, dan kebetulan mereka akan kembali. Jadi apa salahnya jika aku pun ikut pergi ke sana.”


Aku menoleh ke belakang ketika suara laki-laki terdengar, kutatap Zeki tengah berjalan mendekati kami dengan Duke yang berjalan di sampingnya. “Kalian, sedang tidak menyembunyikan sesuatu, bukan?” tukas Aydin, keningnya berkerut saat aku kembali berbalik menatapnya.


“Apa terjadi sesuatu?” Aku berpura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi dengan menatapi mereka.


“Bukan seperti itu, hanya saja … Zeki terlihat aneh sejak kemarin, dia tidak berhenti senyum-senyum sendiri,” ucap Adinata menjawab perkataanku.


“Aku, hanya mengkhawatirkan keadaannya. Apa dia, terkena serangan makhluk laut atau semacamnya?” Aydin maju berbisik mendekati Haruki dengan mengangkat telapak tangannya mendekati bibir.


“Apa kalian bodoh? Sejak kapan orang ini memiliki kewarasan?” tukas Izumi sambil menunjuk ke arah Zeki, “lupakan tentang ketidakwarasan yang ia alami. Jika dia mengganggu kalian, hanya lemparkan saja dia ke laut.”


“Perhatian sekali kau padaku, calon kakak ipar,” timpal Zeki, Haruki mengangkat tangannya berusaha menahan Izumi yang hendak berjalan mendekatinya.


“Tidak perlu, seperti itu saja. Tapi, bagaimana denganmu?”


“Aku? Kesepuluh Isteriku sudah pasti akan bahagia jika mereka tahu, bahwa kami akan berkeliling lautan. Jadi, tidak masalah untukku … Lagi pun, kami sudah lama sekali tidak berpergian bersama,” sambung Aydin, dia berbalik lalu berjalan menjauhi kami setelah menjawab pertanyaan Haruki sebelumnya.


Aku mengangkat wajah ke samping saat kurasakan tarikan pelan menyentuh tanganku. Zeki menggerakkan kepalanya, seperti memintaku untuk pergi bersamanya. Aku berbalik, berjalan di sampingnya mendekati barisan tong kayu yang ada di samping kapal. Langkah kaki Zeki berhenti, dia berbalik mengangkat tubuhku duduk di atas tong kayu tersebut.


Aku menoleh ke arahnya yang juga telah duduk di atas tong yang ada di sampingku. “Apa kau yakin?” kata-kata itu keluar secara bersamaan dari bibir kami berdua.


Aku melemparkan pandangan ke arah permukaan laut, kutarik napas sedalam mungkin saat jantungku semakin bergemuruh tak menentu, “jika kau belum yakin, kita bisa menundanya sebelum sampai ke Sora,” ucapnya yang membuatku kembali menoleh kepadanya.


“Zeki, ada yang mengganggu pikiranku.”


“Apa itu? Hanya tanyakan saja,” ungkapnya, dia mengangkat tangannya menyelipkan rambutku yang sebelumnya jatuh kembali ke telinga.


“Kau, kemarin sempat mengatakan … Jika hanya dia yang tulus, yang dapat menemukan jiwa seseorang, bukan? Bukankah, kau bertemu denganku saat sebelumnya merasa kecewa dengan Sachi yang sebenarnya? Jadi-”


“Aku bersikap tulus untuk mencari kebahagian saat itu. Sebelum aku bertemu denganmu, aku seringkali menyiksa mereka yang tidak bersalah hanya untuk kesenanganku saja. Aku, bergonta-ganti perempuan hanya karena aku menganggap mereka sama seperti yang laki-laki lain anggap. Sikapku mungkin saat itu, tidak lebih buruk dari Kaisar.”


Zeki mendongakkan kepalanya sambil menghela napas berat, “aku berbohong kepadamu mengenai aku menghibur perempuan tua untuk mendapatkan uang hanya karena, aku tidak tahu bagaimana masa depanku denganmu nanti. Maafkan aku, karena sejujurnya … Aku sudah tidak tertarik dengan perempuan lain, kecuali kau,” ungkapnya sambil menoleh lalu tersenyum menatapku.


Dia mengangkat kedua tangannya memeluk tubuhku, “aku bahagia sekali, kita akhirnya akan menikah,” ucapnya, pelukannya padaku semakin menguat saat dia membenamkan wajahnya di pundakku.


“Impianku untuk menikah denganmu, selalu gagal dulu. Kali ini, aku benar-benar ingin merasakan kebahagiaan,” sambungnya yang diikuti kecupan menyentuh pipiku.


“Apa kau yakin? Tidak apa-apa seperti ini?” Tanganku ikut terangkat memeluk dirinya.


“Tidak apa-apa. Karena memang kenyataannya, dunia yang kita tinggali memanglah terlalu sialan!”


“Kau, tidak akan mengubah pikiranmu, bukan?” tukasnya lagi sambil mengangkat wajahnya dari pundakku.


Kepalaku mengangguk pelan menatapnya, “aku tidak akan mengubah pikiranku. Akan tetapi, jika kau membiarkan perempuan lain menyentuhmu nanti … Kau, dan perempuan itu yang akan aku habisi.”


Zeki mengangkat sedikit kepalanya, mataku terpejam saat kecupannya itu menyentuh bibir, “laksanakan, Ratu,” ucapnya tersenyum saat kedua mata kami saling menatap kembali.