
“Tidak ada apa pun di sana,” bisik Lux di sampingku, aku kembali mendekatkan cangkir berisi air tadi padaku.
Haruki menganggukkan kepalanya saat aku melirik ke arahnya, dengan perlahan … Aku meminum sedikit demi sedikit air yang ada di cangkir tersebut. “Terima kasih,” ucapku ketika beranjak, meletakkan cangkir yang aku pegang tadi ke nampan.
Aku melirik ke arah kakek tadi yang masih diam tertunduk di samping anak laki-laki itu, “maafkan, perbuatan cucuku,” lirih kakek itu yang hampir tak terdengar.
Kakek itu mengangkat tangannya mencengkeram kepala anak laki-laki tersebut hingga dia tertunduk, “maafkan aku,” ungkap anak laki-laki tadi dengan wajahnya masih tertunduk.
“Kakek, beristirahatlah. Aku akan di sini menemani mereka,” anak laki-laki tadi berkata dengan setengah berteriak kepada kakeknya.
“Apa kau mengusirku?!” Kakek itu balas berteriak menatapnya.
“Kakek besok berkerja, mereka akan-” anak laki-laki tadi menghentikan ucapannya sambil melirik ke arahku.
Kakek itu menghela napas, dia melirik tajam ke arah cucunya sebelum beranjak berdiri meninggalkan kami, “pergilah!” Perintah anak laki-laki tadi kepada kami.
Aku melirik ke arah Haruki yang telah melirik ke arahku, “apa kau, bisa memberitahukan … Apa yang terjadi?” Haruki sedikit bergerak maju dengan setengah berbisik kepada anak laki-laki tadi.
“Tempat ini berbahaya,” ungkapnya sambil melirik ke arahku. “Berbahaya, untuk perempuan sepertiku?” Aku balik bertanya, anak laki-laki tadi hanya diam tertunduk tak menjawab.
“Berbahaya untuk kalian semua,” ucapnya melirik ke arah kami.
Aku mengernyitkan kening diikuti pandangan mataku yang melirik kembali pada Haruki, “bisa kau, menjelaskannya?” Haruki kembali berbicara pelan kepada anak tadi.
“Bisa kau memberitahu kami, sekarang kami semua berada di mana?” Haruki lagi-lagi bertanya padanya,
Anak itu melirik ke kanan dan ke kiri, “kalian sekarang sedang berada di Kerajaan Valens. Lebih tepatnya,” ucap anak itu sedikit terhenti dengan kembali melirik ke sekitar, “kalian sedang berada di perbatasan laut kerajaan itu,” sambung anak kecil itu kembali.
“Karena berbatasan dengan laut, hampir semua penduduk di sini miskin, tidak memiliki uang untuk membeli kebutuhan hidup.”
“Lalu, di mana berbahayanya?” Izumi tiba-tiba bersuara, menimpali perkataan anak laki-laki itu.
Aku melirik kembali pada anak tadi, “karena kami tidak memiliki uang, banyak orang termasuk kakekku memilih untuk menjadi budak. Kakekku, bukan laki-laki yang baik, pergilah sebelum kalian menyesal,” sambung anak itu lagi, entah kenapa … Dia meringkukkan tubuhnya setelah mengucapkan kata-kata tadi.
“Kalian telah dikutuk, air itu adalah kutukan … Kalian, tidak akan bisa keluar dari sini. Maafkan aku, harusnya aku … melarang kalian untuk me-”
“Kou,” anak itu menghentikan kata-katanya dengan melirik ke arahku, “apa air itu memiliki kutukan? Kenapa kau tidak memberitahukannya padaku?!” Aku menarik napas sangat dalam, berusaha untuk tetap tenang.
“Kutukan? Kutukan apa yang kau maksudkan, My Lord?”
“Anak itu,” ucapku sambil melirik ke arah anak tadi, “dia mengatakan, jika air yang kami minum mengandung kutukan,” sambungku lagi padanya.
“Tidak ada kutukan, aku bersumpah atas nyawaku sendiri. Bagaimana mungkin, aku membiarkan kau memasukkan kutukan di dalam tubuhmu, My Lord,” aku menggigit kuar bibirku, rasa marah, rasa lega, dan rasa malu bercampur menjadi satu karenanya.
Aku menggelengkan kepala ketika Haruki dan Izumi melirik ke arahku, “apa kau, bisa menjelaskan … Kutukan apa yang dimaksud? Maksudku, kami sudah mendapatkan kutukan itu bukan? Tidak ada ruginya jika kami juga mengetahui kutukan itu,” ucap Haruki sambil kembali mengarahkan pandangannya kepada anak itu.
“Aku, sama seperti kalian. Aku terdampar ke sini saat sedang berlayar bersama Ayahku. Kakek menyelamatku lalu merawatku, tapi dia juga menjualku kepada mereka yang berkuasa.
“Apa kalian percaya akan manusia yang memakan manusia lainnya?”
“Maksudmu kanibalisme?”
“Aku tidak tahu, apa yang kau maksudkan,” ucapnya diikuti kedua tangannya yang membuka sepatu yang ia kenakan.
Kedua mataku membelalak lebar saat pandangan mataku terjatuh pada beberapa jari-jari kakinya yang menghilang, “kakek, menjual jari kakiku untuk makan kami selama ini. Setiap bulan, orang yang kakek layani selalu menginginkan anggota tubuh manusia untuk dia santap. Karena tidak ada pilihan, dan kami harus hidup, menjual anggota tubuh pun bukanlah masalah,” ucapnya yang tertunduk diikuti kedua tangannya memasang kembali sepatu kulit itu ke kakinya.
“Sebenarnya, beberapa hari lagi, adalah hari di mana Kakek akan menyerahkanku. Karena, mungkin dia sudah tidak tega melihatku diperlakukan seperti itu … Setiap malam, dia selalu mengecek pantai, berharap ada yang terdampar lagi seperti aku dulu,” ungkapnya lagi, kali ini dia mengangkat wajahnya menatap kami bergantian.
“Lalu, bagaimana dengan air yang kau maksudkan itu?”
Anak tersebut berbalik menatap Haruki, “kau akan mati jika keluar dari tempat ini,” ucap anak tersebut diikuti matanya yang sesekali berkedip tertunduk.
“Tidak ada yang namanya kutukan itu, kau … Telah dibohongi,” ungkapku beranjak lalu berjongkok di dekatnya.
“Kou, apa kau merasakan kutukan darinya?” Aku kembali berucap pelan sambil meraih dan menggenggam tangan anak tadi.
“Tidak ada kutukan apa pun di tubuhnya, aku bisa menjaminnya, My Lord,” bisik Kou yang terngiang di kepalaku.
Aku tersenyum saat anak itu terlihat bingung menatapku, “Lux, apa kau merasakan kutukan darinya?”
Aku melirik ke samping, dengan cepat kututup mulut anak itu ketika Lux terbang di hadapannya, “aku, tidak merasakan kutukan apa pun darimu,” ucap Lux, aku melepaskan telapak tanganku yang menutupi mulutnya tadi saat dia terlihat sudah sedikit tenang.
“Tapi-”
“Kau, dibohongi,” ucapku memotong perkataannya.
“Jika benar, kenapa Kakek memberikan kalian air … Padahal,” tangisan anak itu terhenti sejenak, “aku mengorbankan jari kelingkingku untuk air yang dapat kami minum,” anak itu menutup mulutnya, berusaha untuk menahan tangisannya agar tak kuat terdengar.
“Karena Kakekmu itu pandai, dan kau yang polos, sangat mudah untuk dia bohongi,” ucapku sambil melirik ke arah gubuk yang sedikit jauh dari tempat kami duduk.
“Katakan, apa Kakekmu juga menjual tubuhnya untuk kehidupan kalian?”
Anak itu menggelengkan kepalanya, “dia bahkan menjual anak dan cucunya sendiri … Aku pikir, ejekan yang dilakukan oleh seseorang yang berada di tempat kerjanya itu salah. Karena itu, aku tidak terlalu menggubrisnya … Apa itu, ada hubungannya?” Sambungnya sambil melirik ke arah kami bergantian.
“Jika aku menjadi Kakekmu, kemungkinan … Aku akan melakukan hal yang sama,” ucap Haruki yang membuat pandangan mataku beralih padanya.
“Dari mengorbankan orang lain, kita mendapatkan keuntungan yang besar. Manusia mana pun, awalnya akan tertarik terlebih jika mereka berada di dalam posisi terdesak seperti kalian. Dengan memberikan air minum, sang kakek mendapatkan dua kepercayaan sekaligus,” sambung Haruki sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan.
“Kepercayaan kami, karena secara tidak langsung kami akan menganggap dia baik lalu menurunkan kewaspadaan kami padanya. Dan, kepercayaanmu,” lanjut Haruki dengan menunjuk ke arah anak tadi, “kau sudah termakan dengan kepercayaan air kutukan. Dengan memberikan kami air, secara tidak langsung … Dia memberitahukanmu, jika air kutukan itu benar adanya. Tipu muslihat murahan seperti ini, aku tidak menyangka jika kita jatuh ke dalamnya,” ucap Haruki lagi kepada kami.
“Lalu, apa yang ingin kau lakukan?”
Haruki melirik ke arah Izumi yang bersuara, “aku ingin mengetahui jelas tempat seperti apa ini. Jadi adik-adikku,” ucap Haruki melirik ke arah kami bergantian, “jangan berhenti berpura-pura sebelum aku meminta kalian untuk berhenti,’ ucapnya sebelum membaringkan tubuh di atas pasir.