Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXL


Izumi berjalan melewatiku lalu berjongkok di hadapan Eneas, “Eneas,” tukas Izumi dengan mencengkeram kepalanya, “jangan menuruti semua yang ia katakan. Hampir lebih dari setangah kata-kata yang ia ucapkan itu, sangat menyesatkan untuk diikuti,” tukas Izumi lagi padanya.


“Tapi dia mengatakan, jika Izu nii-san hanya memiliki mata yang sama dengan mereka saja. Soal kemampuan, dia menjamin jika kau sangatlah lemah, nii-san,” sahut Eneas menimpali perkataan Izumi.


Izumi berbalik ke arah laki-laki tadi, “dia mengatakan apa?” Ungkap Izumi mulai beranjak berdiri.


“Nii-chan,” aku berjalan mendekati mereka, “jangan memperbesar masalah. Jika penduduk suku mengetahui kita melukai salah satu dari mereka, yang lainnya tidak akan menerimanya begitu saja. Dan itu, akan menyusahkan untuk Ayah kedepannya,” sambungku yang telah menghentikan langkah di dekat mereka.


Aku menoleh ke arah laki-laki tersebut yang tak kunjung berteriak meminta pertolongan, “akan sangat merepotkan jika dia membicarakan apa yang terjadi kepadanya kepadap para penduduk. Akan tetapi, meninggalkannya seperti itu saja di sini, akan membuat Eneas terkena masalah,” ungkapku lagi dengan menyilangkan lengan menatapnya.


“Kita hanya harus menutup mulutnya bukan? Bagaimana dengan cara memotong lidahnya?” Izumi telah kembali beranjak berdiri di sampingku.


“Inilah kenapa kau masihlah anak kecil, Eneas!” Lux yang sebelumnya duduk di pundak Haruki bergerak terbang di hadapan Eneas.


“Jika ingin melakukan sesuatu, lakukan sampai selesai. Ah, merepotkan sekali, harus membereskan masalah yang dibuat anak kecil,” gerutu Lux lagi, ia semakin terbang tinggi melewati kepala mereka.


“Kau ingin ke mana Lux?”


Lux memperlambat kepakan sayapnya lalu menoleh ke arahku, “aku akan mencari dedauan yang bisa dijadikan racun di sekitar sini. Aku ingin membuat racun agar lidahnya tidak bisa digerakkan untuk sementara, atau racun yang membuat lehernya kering agar dia tidak bisa berbicara untuk beberapa waktu. Karena, akan sangat menimbulkan masalah, bukan? Jika dia nanti banyak berbicara di hadapan para penduduk sebelum kita pergi.”


“Tenang saja, serahkan semuanya padaku. Pastikan, tutup mulutnya sebelum aku kembali, agar tak seorang pun yang mendengar suara teriakannya itu,” sambung Lux lagi, dia terbang menjauh lalu menghilang ke balik rerumputan.


Aku mengangkat kepalaku saat kurasakan sesuatu menyentuh telinga. "Jangan bergerak!" Perintah Izumi diikuti telapak tangannya yang mendorong kepalaku hingga tertunduk.


"Apa yang ingin kau lakukan, nii-chan?" Tanyaku ketika rambut yang sebelumnya aku ikat malah kembali jatuh tergerai menyentuh pundak.


"Lux meminta kita untuk menutup mulutnya bukan?"


Aku berbalik, kutatap punggung Izumi yang telah berjalan mendekati laki-laki tadi. Laki-laki itu semakin kuat berteriak ketika Izumi semakin mendekatinya. Izumi bergerak duduk di punggungnya, dia mengarahkan pita kain yang mengikat rambutku mendekati bibir laki-laki itu.


Izumi kembali beranjak berdiri tatkala mulut laki-laki tersebut telah ia bungkam menggunakan pita rambutku. "Maafkan aku," aku berbalik menatapi Eneas yang duduk tertunduk di samping Haruki.


"Aku tidak bisa mengendalikan diri, maaf ... Karena aku, telah memberikan masalah untuk kalian," ucapnya kembali dengan masih tertunduk.


"Terasa seperti angin segar untukku saat Eneas meminta maaf," ungkap Izumi, aku menoleh ke arahnya yang tengah membungkukkan tubuhnya meraih tombak yang sebelumnya ia lemparkan ke tanah.


"Karena biasanya hanya Sachi, yang selalu membuat masalah lalu meminta maaf," sambung Izumi lagi ketika dia telah berjalan melewatiku.


Aku turut berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya, "aku selalu membuat masalah juga ... Karena kedua Kakak yang selalu mengajariku suatu hal yang seharusnya tak dilakukan," gerutuku dengan mengarahkan pandangan pada laki-laki tersebut yang melirik tajam ke arah kami.


"Dan lagi pun Eneas, itu bukanlah kesalahanmu. Itu kesalahan mereka yang mendidikmu, termasuk aku," ungkapku melengos lalu membenamkan wajah ke lengannya Izumi, "gara-gara Lux mengingatkan leher yang mengering, sekarang aku kembali tersadar jika kerongkonganku telah mengering sejak lama," aku kembali menggerutu tanpa mengangkat wajah dari lengannya Izumi.


"Nee-chan, apa kau ingin air?"


Eneas beranjak, dia berjalan mendekati seekor kuda yang tengah lahap memakan rumput di sekitar. Berselang, Eneas kembali berjalan mendekat dengan sebuah kantung air terbuat dari kulit di tangannya.


"Aku baru teringat jika dia membawa air di kudanya," ungkap Eneas ketika dia menghentikan langkah kakinya di hadapanku.


Aku meraih kantung yang ia arahkan padaku itu, "terima kasih, Eneas. Kau benar-benar penyelamatku," ungkapku tersenyum sebelum dia kembali berjalan lalu duduk di samping Haruki.


"Nii-chan, apa yang kau lakukan?" Tukasku ketika kantung yang ada di tanganku itu telah direbut olehnya.


Izumi membuka penutup pada kantung tersebut, lalu mengarahkannya mendekati bibirnya hingga aliran air dari kantung itu jatuh ke dalam mulutnya, "aku hanya membantumu untuk memeriksa ada atau tidaknya racun di air itu," ucap Izumi dengan kembali menyerahkan kantung itu padaku.


"Katakan saja jika kau haus," gerutuku dengan mendekati ujung bibir kantung itu mendekati mulutku.


"Eneas, kita akan pergi dari sini."


"Pergi?" Timpal Eneas pada perkataan Haruki.


Aku menundukkan kepala diikuti sebelah tanganku yang mengusap bibir, "Haru nii-chan, apa kau butuh air?" Tanyaku sambil mengarahkan kantung air yang ada di tanganku ke arahnya.


Haruki menggelengkan kepalanya, "aku tidak membutuhkannya, kalian habiskan saja sendiri," jawabnya dengan melirik kepadaku dan Izumi bergantian.


"Kita akan pergi, kita hanya harus menyusun rencana agar bisa melarikan diri dari sini."


"Apakah kita perlu meracuni mereka?"


Eneas melirik ke arah laki-laki tadi yang mencoba meronta ketika Eneas mengatakan kata-kata itu sebelumnya. "Kita bisa langsung pergi menggunakan Kou, tapi seluruh barang-barang kita ditahan oleh mereka," sahutku dengan menutup kembali kantung air yang ada di tanganku.


"Bagaimana caranya kau meracuni dia Eneas, sedangkan tas berisi racun milikmu ditahan oleh mereka?"


"Aku selalu menyembunyikan racun cadangan di balik pakaianku. Aku hanya tak sengaja menggunakan racun padanya, karena kelengahan dirinya sendiri," tukas Eneas menimpali perkataan Izumi.


"Jadi Haru nii-chan, menurutmu apa yang harus kita lakukan?"


Haruki menoleh ke arahku, "yang kau katakan itu benar. Semua uang kita juga ada di sana, jika kita pergi dengan Kou langsung. Kita tidak akan membawa uang sedikit pun," ucap Haruki yang bergerak membaringkan tubuhnya di tanah.


"Tapi itu bukan berarti mereka dapat menghentikan kita, bukan?"


"Izumi," sambung Haruki kembali bersuara, "apakah, kau telah siap untuk memberontak pada Kakekmu sendiri?"


Izumi ikut membaringkan tubuhnya, "aku tidak perduli. Lagi pun, ini masih terlalu tiba-tiba untukku menerima mereka sebagai keluarga. Hanya katakan, kapan kita akan melakukan rencana yang kau maksudkan?" Tanya Izumi, dia kembali beranjak dengan meraih kantung air yang ada di tanganku.