
“Belok kiri.” Izumi menghentikan langkahnya sejenak sebelum dia berbelok ke kiri seperti yang Lux katakan, “lalu, ke mana lagi?” Izumi balik berbisik ketika langkah kakinya terhenti membawaku.
“Di atas,” sambung Lux berbisik.
Aku menengadah ke atas saat bayangan hitam melintas di kepala, kepalaku kembali tertunduk saat Izumi yang menggendongku kembali melanjutkan langkahnya. Aku melepaskan rangkulanku pada Izumi saat dia duduk berjongkok melepaskan pegangan tangannya di pahaku, “terima kasih, nii-chan,” ungkapku saat beranjak berdiri lalu berjalan mundur menjauhinya.
Tubuhku kembali terangkat saat ekor Kou melilit pinggangku lalu mengangkatku ke atas, “Kou,” ucapku pelan sambil mengusap lehernya, “bawa kami Yadgar! Berhati-hatilah, untuk jangan terlalu mengeluarkan banyak sekali sihir. Kau masih ingat di mana Yadgar, bukan?”
Kou memiringkan kepalanya hingga wajahnya balas menatapku, “itu tempat. Di mana, kau terjatuh ke jurang. Tempat, di mana kau tidak bisa mengenali panggilan yang aku lakukan … Aku, benar-benar sangat mengingat tempat itu, My Lord,” balas Kou ketika dia kembali menjauhkan wajahnya dariku.
“Kita akan ke Yadgar?”
Aku berusaha menoleh ke belakang ketika suara Izumi terdengar, “kita membutuhkan bekal untuk melanjutkan perjalanan. Pilihan kita, hanya Yadgar atau Leta … Akan tetapi, jika kita mengunjungi Leta. Semenjak kita menyerang Tao, aku mengkhawatirkan adanya mata-mata yang berada di sana. Walaupun, di Yadgar pun aku juga merasakan hal yang sama,” gumamku dengan kembali melemparkan pandangan ke depan.
“Lagi pun, jika kita meminta bantuan uang kepada Leta … Aku tahu jika mereka tidak akan mempermasalahkannya. Akan tetapi, biarkan mereka hanya mengetahui keberhasilan kita, mereka tidak perlu tahu kesulitan yang kita dapatkan.”
“Jadi Yadgar boleh, dan Leta tidak boleh?”
“Bukan seperti itu Izu-nii. Aku hanya merasa segan kepada Ayah dan Kakaknya Julissa … Jika kalian, bukan kakakku saja, aku pun pasti merasa sangat segan untuk meminta apa pun,” cibirku dengan mengangkat pandanganku ke atas.
Lenganku memeluk erat leher Kou saat dia telah mengepakkan sayapnya, mengajak kami terbang di atas punggungnya, “hanya katakan saja, jika kau … Sudah terlalu nyaman untuk meminta apa pun kepada tunanganmu itu,” Izumi balas mencibirku.
“Aku pun mendukungnya, Izumi. Karena kemungkinan kita berada di wilayah yang ada di Barat, dibanding Leta … Tentu, Yadgar lebih dekat,” timpal Haruki yang juga ikut terdengar di sampingku.
“Dan juga, karena mereka bertetangga, kita bisa meminta Julissa untuk mengunjungi Yadgar. Sekali dayung, dua, tiga pulau terlampaui,” ungkapku kembali berbicara.
“Aku mengerti, aku hanya, masih sedikit terbayang saat kau diculik dulu di sana.” Aku tersenyum sambil menyandarkan kepalaku di leher Kou, “kalian terlihat mirip,” bisikku sambil mempererat pelukanku di lehernya.
___________
“Sa-chan.”
Aku mengangkat wajahku dari leher Kou saat bisikan Haruki terdengar, “ada apa, nii-chan?” tanyaku sambil berusaha menoleh ke arahnya.
“Makanlah. Kau lapar, bukan?”
Aku melirik ke kanan saat sebutir apel tiba-tiba muncul dari arah belakang, “kalian membawa apel?” tanyaku bersemangat sambil meraih apel yang dijulurkan oleh tangan Haruki dari belakang.
“Eneas menyimpan buah-buahan di dalam tasnya. Jadi makanlah,” ungkap Haruki kembali terdengar.
“Eneas? Kapan?”
“Saat kalian sedang berbincang, aku diam-diam mengambil buah-buahan untuk bekal perjalanan,” sambung suara Eneas yang menimpali perkataanku.
“Benarkah? Kau memang bisa diandalkan, adikku,” ungkapku sembari menempelkan apel yang aku pegang tadi mendekati kulit Kou. Aku kembali mengangkat apel tadi setelah sudah sedikit lama menempelkannya di kulit Kou, kuusap permukaan apel tersebut menggunakan telapak tangan sebelum menggigitnya.
“Ini seperti sebuah apel yang baru saja dikeluarkan dari lemari pendingin,” gumamku dengan mengunyah apel tadi.
Aku melirik ke sudut mataku ketika suara Haruki menimpali perkataan, “bukan apa-apa, nii-chan,” jawabku kepadanya.
“Apa masih jauh?”
“Percaya atau tidak, setiap terbang perutku terasa penuh oleh udara,” sambung Izumi kembali membuka suaranya.
“Bagaimana Kou, apakah masih jauh?”
“Aku tidak bisa memastikannya. Aku akan terbang lebih cepat, jadi … Pegangan yang erat, My Lord. Pinta mereka untuk melakukannya juga,” bisik Kou di pikiran yang membalas perkataanku.
____________
Sudah seharian penuh kami terbang tanpa henti di udara, beberapa kali sudah aku jatuh tertidur lalu terbangun kembali. “Astaga, tubuhku membeku,” tukas Izumi yang membuatku lagi-lagi mengangkat pandangan karenanya.
“Izumi, jika kau tidak bisa berhenti berbicara. Aku akan melemparkan tubuhmu dari atas sini,” timpal Haruki yang ikut terdengar.
“Itu karena kalian tidak mengeluarkan suara apa pun, membuatku berpikir kalian masihlah bernapas atau tidak,” gerutu Izumi yang kali ini terdengar dengan kuat.
“Apa kau tahu, Sachi? Apa yang paling suka membuatku jengkel?”
“Apa?” balasku berbisik kepada Lux. “Saat kedua kakakmu bersikap bodoh dan beradu pendapat seperti sekarang,” aku tersenyum saat bisikan Lux kembali terdengar.
“Lux, aku bisa mendengar apa yang kau bisikkan.”
Aku mengatup rapat bibirku ketika Haruki berbisik di belakangku. “Aku justru sangatlah suka beradu pendapat dengan Izumi. Karena semenjak dia tumbuh dewasa, dia berubah semakin pendiam dan itu membuatku kehilangan sosok adikku yang sangat berisik.”
“Apakah membicarakanku memberikan kebahagian untuk kalian?” Izumi lagi-lagi menimpali ucapan Haruki.
“Aku hanya mengutarakan apa yang aku rasakan sebagai kakak. Aku berharap jika adikku tidaklah pernah dewasa, karena sikap kalian semakin dingin seiring bertambahnya usia kalian,” gerutu Haruki yang terdengar.
“Entahlah, aku tiba-tiba merasa merinding saat mendengarnya.”
“Aku pun,” ungkapku menimpali perkataan Izumi.
Aku kembali mengangkat kedua lenganku merangkul kuat leher Kou saat dia tiba-tiba menukik turun dengan sangat tajam ke bawah, Kou memperlambat kepakan sayapnya hingga dia terbang dengan sedikit lebih rendah. Aku mengarahkan pandangan ke arah barisan atap dengan titik-titik hitam bergerak di sekitarnya.
“Jadi seperti ini Yadgar jika dilihat dari atas?” tukas Izumi yang kembali terdengar.
Semakin Kou terbang maju ke depan, semakin jelas terlihat sebuah Istana megah dengan benteng penuh ukiran keemasan yang semakin mengkilap saat sinar matahari menyentuhnya, “kapan benteng Istana Yadgar dipenuhi ukiran emas seperti itu?” gumamku dengan sedikit membuka mulut menatapnya.
“Sebuah gerbang istana, sebagai lambang untuk calon Ratu yang gila akan harta. Seperti yang diharapkan dari Zeki,” cibir Izumi yang lagi-lagi terdengar.
“Apa nii-chan pikir aku akan senang atau bahagia melihatnya? Jika aku menjadi penjahat di sini, aku akan mengikis emas itu, meleburkannya kembali lalu menjualnya,” gumamku dengan memperbesar pandanganku, berusaha untuk melihatnya lebih jelas ketika Kou terbang mengitari tempat itu.
“Karena itulah, kau tidak terlahir sebagai penjahat,” tukas Haruki yang ikut terdengar, “dibandingkan itu, bukankah para penduduk di sini terlihat baik-baik saja, bahkan sangat baik untuk Kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja dari Pangeran yang tak dianggap,” sambung Haruki kembali berucap.