
“Aku tidak memaksakan diri. Ini kali pertama untukku ada seseorang yang datang berkunjung ke rumah, aku … Hanya sedikit bersemangat,” ungkap perempuan tersebut dengan kepalanya yang tertunduk.
Dia menarik napas lalu mengangkat kembali wajahnya, “apa yang ingin kalian ketahui tentang tempat ini?” tanyanya sambil mengangkat wajahnya ke arah kami bergantian.
“Kau tadi sempat mengatakan banjir, bukan? Apa maksudnya?” tanyaku kepadanya.
“Ini terjadi sejak aku masih kecil, kala itu … Tanah tiba-tiba bergetar kuat hingga menghancurkan banyak sekali rumah penduduk. Tak lama setelah itu, air tiba-tiba muncul dari dalam tanah hingga meluap seperti sekarang.”
Aku mengerutkan kening, “lalu?” tukasku dengan berusaha mencari tahu lebih banyak informasi darinya.
“Hanya Istana yang tidak tenggelam, karena Istana berada di tempat yang tinggi. Jadi, untuk makan … Kami, para penduduk memakan apa pun, entah itu daun atau akar pohon yang tumbuh di sekitar luar gerbang Istana,” jawabnya dengan kembali mengangkat pandangan.
“Apakah ini, ada hubungannya dengan hutan kabut?” Haruki balik bertanya yang membuat perempuan tersebut menoleh ke arahnya.
Perempuan itu mengangguk pelan, “entah sejak kapan hutan tersebut muncul. Namun, para penduduk yang berusaha untuk melarikan diri justru kembali lagi dengan mengatakan jika hutan tersebut terkutuk. Hutan tersebut, memakan siapa saja yang berani untuk memasukinya. Karena itu, mereka yang masih hidup, berusaha sekuat mungkin untuk bertahan.”
“Kami melihat banyak sekali mayat di sana, apa kau bisa menjelaskannya?” timpal Izumi, perempuan itu kembali menundukkan kepalanya diikuti kedua tangannya yang saling menggenggam erat satu sama lain.
“Jika ada penduduk yang meninggal, mereka akan dilemparkan ke hutan kabut tersebut. Beberapa penduduk percaya, jika hutan tersebut terus-menerus diberi manusia … Kabut itu akan menghilang,” jawab perempuan itu lagi sambil mengarahkan padangannya ke arah Izumi.
“Satu-satunya cara untuk mengetahui ini semua, hanyalah mengunjungi Istana,” sambung Izumi, dia melirik ke arah Haruki yang juga telah mengangguk membalas lirikannya.
“Namamu?” tanyaku, perempuan tersebut dengan cepat menggelengkan kepalanya diikuti kedua tangannya yang bergerak menutup bibir.
Dia melepaskan telapak tangannya yang melekat di bibirnya itu, “menyebutkan nama sangatlah tidak baik di sini. Kau akan menghilang jika ada seseorang yang mengetahui namamu.”
“Tidak akan ada lagi yang menghilang, kau … Tidak perlu khawatir,” ucapku, aku melirik ke atas saat bayangan kelima Leshy yang sebelumnya kami tangkap tiba-tiba terngiang.
“Apa kau, bisa mengantar kami ke Istana, Nona?” tukas Haruki yang membuatku melirik ke arahnya.
“Untuk apa kalian ke sana? Istana bahkan tidak peduli dengan nasib kami di sini,” sahutnya, dia kembali tertunduk dengan menggigit bibirnya.
“Yang dimaksudkan kakakku, kami lapar. Makanan yang kau sajikan, tidak cukup untuk kami berempat. Kau mengatakan jika kita bisa mendapatkan makanan di sekitar Istana, bukan?”
“Jadi seperti itu, baiklah … Kalian semua, naiklah ke atas perahuku. Aku akan mengantar kalian semua ke sana,” ucapnya sembari menunjuk ke arah perahu kayu yang ada di samping rumah.
“Amanda, kalian dapat memanggilku Amanda,” ucapnya menatap kami saat dia telah beranjak berdiri.
Aku berbalik, melangkahkan kaki mendekati perahu yang telah diduduki oleh Eneas, Haruki dan juga Izumi. Kakiku bergerak perlahan menaiki perahu lalu duduk dengan melirik ke arah Amanda yang telah berjalan mendekat dengan sebuah kayu panjang di tangannya.
Amanda melangkah naik ke atas perahu, “berikan dayung tersebut kepadaku,” ucap Izumi yang menjulurkan sebelah tangannya ke arah Amanda.
“Tidak perlu, aku bisa membawa kalian ke sana. Hanya duduk saja yang baik agar tidak terjatuh,” jawab Amanda dengan melambaikan tangannya.
Perahu bergerak perlahan menjauhi rumah, “para penduduk yang lain, pasti bahagia jika dia mengetahui ada pendatang yang datang berkunjung ke sini. Kami, bahkan melupakan bahasa tradisional Kerajaan kami, kami hanya berbicara dengan bahasa Kekaisaran agar kami dapat berbicara kepada para pendatang. Karena bagi kami, pendatang sudah seperti harapan hidup baru untuk kami,” gumamnya yang terdengar dari arah belakang.
“Jadi karena itu, kau lebih memilih terjun berenang mendekati kami daripada membawa perahu yang ada di samping rumahmu itu ke arah kami?”
Suara tawa Amanda terdengar menimpali perkataan Haruki, “itu kesalahan kepalaku karena terlalu bersemangat,” ucapnya yang lagi-lagi terdengar.
“Tempat ini sunyi sekali, kau mengatakan penduduk, bukan? Tapi aku, tidak melihat satu orang pun kecuali kau yang tinggal di sini,” sahut Izumi, aku turut melemparkan pandanganku ke sekitar seperti yang ia lakukan.
“Di saat seperti ini, penduduk kebanyakan mencari makanan di sekitar Istana, sedangkan yang lain akan memilih untuk bersembunyi di dalam rumah karena takut jika namanya dipanggil dan mereka menghilang,” timpal Amanda menjawab pertanyaan Izumi.
Perahu tetap lanjut bergerak, keadaan semakin menghening ketika salah satu dari kami tidak mengeluarkan satu patah kata pun, “apa kau baik-baik saja? Hanya berikan saja dayung tersebut kepada kami!” ungkap Haruki, dia menoleh ke belakang diikuti Izumi yang juga ikut menoleh.
Kugerakkan kepalaku turut menoleh seperti yang mereka lakukan, wajah Amanda yang berdiri di belakang kami sudah penuh akan keringat. Dia mengangkat kembali sebelah tangannya lalu melambaikan tangannya tadi dengan pelan, “Istana sebentar lagi terlihat. Lihatlah, di sana!” tukas Amanda diikuti jari telunjuknya yang terangkat ke depan.
Aku membuang pandangan ke arah yang ia tuju saat perahu itu kembali bergerak. Kutatap sebuah pulau dengan sebuah benteng tinggi yang dibangun kokoh di puncak dari pulau tersebut. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, kemungkinan … Itu adalah sebuah bukit yang setengah tenggelam.
Aku beranjak berdiri, lalu melangkah dengan sangat perlahan saat perahu itu berhenti bergerak. Aku meraih tangan Izumi yang telah lebih dulu turun dari atas perahu sembari kugerakkan kakiku itu menyusulnya. Aku berjalan beberapa langkah, pandangan mataku masih terpaku ke beberapa pohon yang tumbuh di sekitar beberapa tumpukan batu.
“Jika kalian ingin mencari makanan, ikuti aku! Kita ke sebelah sini!”
Aku menoleh ke arah Amanda yang telah berdiri dengan sebuah pahatan kayu berbentuk mangkuk di pelukannya, mangkuk yang ia bawa … Bahkan lebih besar dari mangkuk yang ia suguhkan untuk dedaunan sebelumnya. Amanda berbalik lalu melangkahkan kakinya meninggalkan kami.
Kami terdiam dengan saling bertatap mata. Izumi ikut berbalik mengikuti langkah Amanda ketika Haruki menganggukkan kepala membalas tatapannya. Kedua kakiku ikut berjalan menyusul mereka dengan kedua mata yang tak henti-hentinya menatap permukaan air keruh yang menghampar di hadapan kami.
“Kenapa? Apa terjadi sesuatu Sa-chan?”
Aku menoleh ke arahnya yang telah berjalan di samping, “tidak ada. Aku hanya berpikir, jika yang ia katakan itu benar … Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana mereka dapat bertahan hidup selama ini,” ucapku sambil menatap Haruki yang kembali membuang pandangannya ke depan.