Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXVII


"Aku ingin beristirahat sebentar, hanya bangunkan aku sebelum matahari terbit," ucapku berbalik menatap Savon, balas ditatapnya aku seraya membungkuk ia dihadapanku.


Kulangkahkan kakiku di dinding yang ada di pojokan benteng, duduk aku seraya menyandarkan tubuhku di sana. Besok akan menjadi hari yang panjang, bagaimanapun aku harus menyimpan banyak tenaga untuk menghadapinya...


_______________


"Bangunlah, ini sudah hampir pagi," terdengar suara laki-laki berulang-ulang di telingaku.


Kubuka mataku kembali, mengedip aku beberapa kali untuk memperjelas penglihatanku yang sedikit mengabur. Melirik aku kepada Savon yang tengah mengetuk-ngetuk pipiku menggunakan sarung pedang yang ada di tangannya...


"Tidak bisakah kau sedikit lembut memperlakukan perempuan," tukasku, kudorong dengan kuat sarung pedang tersebut dari pipiku.


"Kami tidak pernah belajar tentang itu," jawabnya singkat.


"Kalian laki-laki memang sangat menjengkelkan," ucapku seraya menguap lebar, kututupi mulutku tadi menggunakan telapak tanganku.


"Apa semuanya telah siap?" ucapku lagi seraya menatapnya.


"Sudah, gerbang juga telah ditutup kembali. Mereka semua menunggu instruksi darimu di bawah," ungkapnya padaku.


"Begitukah?" sambungku kembali menguap, kuangkat kedua telapak tanganku memegang erat dinding benteng seraya beranjak aku berdiri disampingnya.


Berjalan aku menyusuri benteng dengan Savon yang mengikuti dari belakang, kulangkahkan kakiku menuruni tangga. Menatap mereka semua ke arahku, kubalas tatapan dari mereka dengan senyum yang aku buat.


"Apa semuanya telah selesai? Bagaimana dengan jebakannya?" ucapku mendekati mereka.


"Semuanya telah kami selesaikan seperti yang kau perintahkan," ucap salah satu Kesatria menatapku.


"Kalau begitu, dengarkan rencana dariku!" ucapku dengan suara lantang kepada mereka semua.


_________________


Menatap aku ke sekitar, sinar mentari pagi perlahan demi perlahan menerangi pandangan. Belaian hangat dari mentari pun terasa memenuhi kulit...


Berdiri aku seraya menatap para Kesatria yang telah berbaris rapi memenuhi benteng, kualihkan pandanganku kembali pada para Kesatria lainnya yang juga berdiri rapi di bawah...


Ketapel raksasa yang berada di tengah-tengah mereka tampak berdiri kokoh dengan sebuah tong kayu berisikan kendi-kendi kecil disampingnya...


Kembali kualihkan pandanganku pada para Kesatria yang tengah sibuk memasak berpanci-panci air di sisi kiri benteng, terlihat juga beberapa buah tumpukan ember-ember kayu disamping mereka lengkap dengan beberapa Kesatria yang memegang perisai tepat berada di depan Kesatria-kesatria yang aku perintahkan untuk memasak air...


Suara terompet menggema memenuhi udara, kuarahkan pandanganku mencari sumber suara tersebut. Tampak terlihat beberapa batang pohon roboh diikuti ramainya derap langkah kaki mendekati...


Satu persatu laki-laki keluar dari balik pepohonan, baju zirah berwarna perak yang mereka kenakan seakan membutakan mata. Dadaku berdetak lebih riuh dari sebelumnya...


Ya Tuhan, apakah aku harus berada di tengah-tengah pertempuran ini?


Suara-suara terompet tersebut kembali berkumandang di udara, kualihkan pandanganku kepada beberapa orang Kesatria yang tengah meniup-niupkan sebuah terompet yang terbuat dari tanduk hewan.


"Apa yang terjadi?" ucap salah satu Kesatria kami.


"Bukankah mereka..." sambung yang lainnya.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanyaku pada Savon, menoleh ia menatapku.


"Mereka adalah para Kesatria kami yang berada langsung di bawah pengawasan Duke. Bukankah kabar yang tersebar jika..."


"Pengkhianatan ya?" ucapku memotong perkataan Savon, kembali menoleh aku ke arah pasukan musuh yang berbaris rapi jauh di seberang kami.


"Apa kalian akan luluh karena mereka teman-teman kalian?!" teriakku, berbalik aku menatap para Kesatria yang ikut balik menatapku.


"Mungkin dahulu mereka teman kalian, tapi sekarang... Mereka pengkhianat, apa kalian para Kesatria akan membiarkan para pengkhianat menginjak-injak harga diri kalian? menginjak-injak harga diri Kerajaan kalian?!" teriakku kembali menatap mereka.


Menoleh mereka semua ke arah pasukan musuh. Tidak... mereka tidak lagi menatap pasukan tersebut dengan pandangan seakan tak percaya, tatapan mereka... mata mereka, penuh akan kemarahan yang meluap.


Suara terompet tanduk itu semakin gencar beriringan dengan langkah-langkah kaki pasukan musuh. Kutatap mereka yang maju, begitupun dengan para Kesatria yang masih menunggu perintah dariku...


Semakin siang, angin yang berembus semakin lemah terasa. Kulirik kepulan asap putih yang dihasilkan oleh kayu yang memasak air seraya kutatap para Kesatria itu yang sibuk meniup-niupkan udara supaya api tersebut tetap menyala...


Suara berisik juga datang dari arah belakang, menoleh aku seraya menatap para Kesatria yang tengah menyusun beberapa kendi ke atas ketapel raksasa yang ada di sebelah mereka.


"Berhasil," ucap salah satu Kesatria, menoleh aku ke arah dimana pandangan matanya terjatuh.


Tampak terlihat beberapa Kesatria musuh duduk tertunduk seraya memegang kaki-kaki mereka. Sebagian dari mereka, jatuh terkapar akibat tak kuasa menahan dorongan dari para Kesatria yang berjalan di belakangnya...


Kesatria-kesatria yang jatuh tadi diam tak bergerak, diinjaknya tubuh Kesatria-kesatria yang sudah tak bernyawa tadi oleh para Kesatria yang berjalan dibelakangnya...


Beberapa mayat yang terlungkup itu tampak remuk digilas oleh ban kayu raksasa yang berputar-putar membawa battering ram itu. Kutatap percikan-percikan darah yang terlukis di sepasang ban kayu tersebut...


Mayat-mayat tadi seakan tenggelam beserta ramainya kerumunan para pasukan yang berjalan di atasnya. Bulu kudukku merinding menatapnya...


Jadi seperti ini perang? Saat kau gugur, bahkan temanmu semasa hidup akan tega menginjak-injak mayatmu. Saat kau gugur...


Mereka yang menunggu kepulanganmu, akan memeluk kenangan kosong yang telah kalian ukir bersama.