Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXXXII


“Jadi, bagaimana dengan Alvaro sekarang?”


“Dia bersama Uki. Aku meninggalkannya bersama Uki,” jawabku dengan mengangkat wajah menatap Izumi.


“Aku mengerti. Aku akan menemuinya, kau … Hanya bantu saja Haruki,” tukasnya, dia menepuk pundakku sebelum berbalik melangkahkan kakinya menjauh.


“Kenapa? Apa kau memikirkan sesuatu lagi sekarang?”


Mataku melirik ke arah Haruki yang telah berdiri membelakangi. "Aku hanya sedang memikirkan, bagaimana rasanya … Saat kau bersikap egois tidak ingin menolong seseorang walau sebenarnya, kau dapat menolongnya.”


“Menolong seperti apa yang kau maksudkan? Menolong dengan mengorbankan orang lain? Atau menolong dengan mengorbankan dirimu sendiri? Lalu, bagaimana dengan mereka yang selalu berada di dekatmu? Apa perasaan mereka tidak begitu penting untukmu?”


“Kau bukanlah Deus, Sa-chan. Kau, tidak akan bisa menanggung setiap penderitaan orang-orang yang ada di sekitarmu. Biarkan mereka, bergulat dengan permasalahan mereka sendiri. Begitu pun denganmu, hanya bergulat saja dengan permasalahanmu sendiri,” sambung Haruki sembari menggerakkan kepalanya menoleh ke belakang.


“Aku tahu semuanya … Apakah kalian pikir, dengan menyembunyikannya dariku membuatku tidak mengetahui apa pun? Aku tidak ingin melihat adikku mengorbankan hidupnya demi orang lain, jika kau melakukannya … Aku sendiri yang akan menghabisi mereka semua,” tukasnya sambil melangkahkan kaki menjauhi.


Aku menarik napas dalam dengan tetap menatap punggung Haruki yang kian menjauh. Aku menoleh ke sekitar ketika beberapa kelopak bunga terbang di hadapanku, “Kakek?” gumamku saat pandangan mataku terjatuh ke arah sebuah bayangan yang berdiri di samping pohon.


Aku melangkahkan kaki mendekati pohon tersebut, “Kakek, ada apa tiba-tiba datang, apa terjadi sesuatu?” tanyaku ketika langkahku berhenti di depannya.


“Apa terjadi sesuatu di antara kalian?”


Bola mataku bergerak ke sudut kanan, “tidak ada apa-apa. Hanya pembicaraan antar saudara,” jawabku dengan kembali menatapnya.


“Jangan memiliki pikiran untuk memakai sihir terlarang. Sihir Robur Spei, tidak dipakai hanya untuk kepentinganmu sendiri. Lebih baik, bersikap seakan kau tidak mengetahui apa pun. Apa kau lupa, dengan apa yang Ryuzaki katakan? Jangan membuat rumor mata hijau menjadi kenyataan, jangan membahayakan nyawamu sendiri. Atau Kakek, akan membawamu secara paksa ke dunia Elf,” ucapnya, dia berbalik berjalan memasuki batang pohon yang menyeruak sebelum batang pohon itu kembali tertutup.


______________.


“Apa yang kau lakukan?”


Aku menoleh ke belakang, “membuatkan sesuatu untuk Alvaro,” ucapku sambil kembali mengarahkan pandangan ke arah beberapa Kesatria yang tengah melakukan apa yang aku perintahkan.


“Apa yang kau buat?”


“Sebuah kursi roda. Di mana Uki? Dan, bagaimana keadaannya?” tanyaku dengan meliriknya yang telah berdiri di samping.


“Uki bersama Eneas sekarang, sedangkan Alvaro sendiri … Dia tertidur di kamarnya, dia … Juga mencarimu.”


“Benarkah? Hanya katakan saja, aku memiliki banyak hal yang mesti diurus.”


“Apa kau menghindarinya?”


“Entahlah, aku hanya merasa tidak sanggup untuk bertemu dengannya setelah apa yang terjadi,” jawabku, aku kembali melangkah ke depan lalu berjongkok dengan memberikan perintah kepada Kesatria yang tengah memotong kayu.


“Jangan-”


“Nii-chan, jika benda yang aku buat telah selesai. Bantu aku untuk memberikannya kepada Alvaro, dan bantu aku untuk membawanya keluar menggunakan benda ini … Dia, pasti sudah lama sekali tidak melihat Kerajaan maupun Istananya,” ucapku yang langsung memotong perkataannya.


“Aku mengerti. Hanya katakan saja kepadaku jika semuanya telah selesai,” kepalaku mengangguk menjawab perkataannya.


_______________.


“Aku telah meminta para Kesatria menyimpan baik-baik setengah dari harta Kerajaan untuk bekal mereka di dunia luar, sedangkan setengahnya lagi aku perintahkan kepada mereka untuk dibagikan kepada penduduk. Eneas yang langsung mengawasi mereka-”


“Tapi nii-chan, bagaimana dengan Alvaro dan para Kesatrianya?”


“Mereka akan tinggal di perbatasan Sora, para wakil kapten yang akan mengawal mereka selama perjalanan pulang. Sedangkan kita sendiri, setelah melakukan semuanya … Kita akan kembali melanjutkan perjalanan.”


“Aku mengerti. Apa kau telah menemukan tempat menarik yang akan kita kunjungi selanjutnya, nii-chan?”


Haruki menoleh menatapku, “banyak. Banyak sekali tempat menarik yang ingin aku kunjungi bersama kalian,” ucapnya yang kembali mengarahkan pandangannya ke depan.


Aku menatap Haruki yang telah melangkahkan kakinya ke depan, ke arah seorang perempuan yang berjalan mendekat. “Amanda?” tukasku yang juga ikut melangkahkan kaki lalu berhenti di dekat mereka.


“Aku memintanya untuk mengumpulkan mereka yang telah tua di satu tempat,” ungkap Haruki yang menerima sebuah bungkusan kain darinya.


Haruki membuka bungkusan kain yang diberikan Amanda kepadanya, “jadi hanya ini yang kau dapatkan?” tukas Haruki dengan kembali menutup bungkusan berisi perhiasan yang ada di tangannya.


“Hanya itu yang aku dapatkan, sebenarnya … Untuk apa benda berkilau itu?”


“Jika kau menjualnya, kau dapat memiliki banyak uang untuk membeli banyak makanan lezat yang kau inginkan di luar sana. Jangan menjualnya sekaligus, jual satu per satu agar penjahat tidak mendatangi kalian,” ucap Haruki yang membuatku mengerutkan kening menatapnya.


“Para pengawal kami akan mengantarkan kalian ke tempat yang aman. Aku ingin, kau menjaga baik-baik mereka yang telah tua, gunakan semuanya dengan baik. Dunia luar, tidak sebaik yang kau pikirkan,” ungkap Haruki sambil mengangkat bungkusan kain berisi perhiasan ke arah Amanda.


Amanda mengangkat tangannya meraih lalu memeluk bungkusan tersebut, “aku paham. Akan kulaksanakan dengan baik, apa aku boleh pergi sekarang?” Amanda berbalik lalu berjalan menjauh saat Haruki menganggukkan kepalanya.


“Nii-chan, aneh sekali,” gumamku dengan tetap menatap punggung Amanda yang telah berjalan semakin jauh menuruni bukit.


“Apa yang aneh?” Haruki balas bertanya, aku menoleh ke arahnya yang telah menatapku, “melihatmu akrab dengan perempuan. Itu, seperti suatu keajaiban.”


Alis Haruki mengerut, “memang seperti apa aku biasanya terlihat?”


“Kau tahu, seperti seorang laki-laki yang sulit diraih. Laki-laki yang hanya bisa dikagumi namun sulit untuk dimiliki.”


Haruki memukul keningku menggunakan jari tangannya, “jangan mengucapkan kata-kata yang aneh seperti itu. Lebih baik, bantu Izumi … Jangan coba melarikan diri, atau Alvaro akan curiga jika kau selalu menghindarinya,” ucapnya yang berjalan melewatiku.


"Ini sudah hari kedua kau mengacuhkannya, bukan?" sambungnya yang kembali menoleh ke arahku.


Aku berbalik menyusul langkahnya, “aku mengerti, aku akan menemuinya kembali. Lagi pun nii-chan, apa terjadi sesuatu kepadamu?”


“Apa yang terjadi kepadaku?”


“Aku adikmu, aku bisa merasakannya. Terjadi sesuatu kepadamu, bukan?”


“Apa kau, pernah merasa tidak asing saat bertemu dengan seseorang yang baru beberapa kali kau temui?”


“Maksudnya?”


“Bukan apa-apa. Lupakan saja,” ungkapnya menepuk kepalaku sebelum melangkahkan kakinya semakin meninggalkanku.