
"Kau lama sekali!" Teriak Niel dari atas kuda hitam miliknya, semakin cepat kulangkahkan kakiku mendekati kuda putih milikku.
"Aku juga mesti bersiap-siap terlebih dahulu," ungkapku menggerakkan kedua kaki menaiki kuda sembari kualihkan pandanganku menatapi Daisuke dan juga Eneas yang berdiri jauh menatapku.
Aku meminta mereka untuk tetap berada di kastil. Memerintahkan mereka untuk mencari informasi atau rumor apapun yang disebarkan oleh mereka yang ada di dalam kastil. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan informasi sekecil apapun itu.
"Ayah, bisakah aku ikut bersama kalian?" terdengar suara Egil, berdiri dia disamping kuda yang ditunggangi Niel dengan kedua tangannya menggenggam telapak tangan kanan Niel.
"Tidak, aku tidak mengizinkanmu ikut. Kau akan tetap berada disini bersama Tem. Dengarkan perkataanku, apa kau mengerti?!" ungkap Niel mengarahkan pandangannya pada Egil.
Egil melepaskan genggaman tangannya pada Niel, Egil berbalik berjalan menjauh mendekati Tem yang telah berdiri di depan pintu Kastil. Kuarahkan pandanganku kembali menatap lurus ke depan seraya ikut kugerakkan kudaku mengikuti langkah kaki kuda Niel yang telah berjalan mendahului.
__________________
"Niel!" ungkapku, kugerakkan kudaku berjalan berdampingan dengan kuda miliknya.
"Ada apa?" jawabnya tanpa sedikitpun menoleh.
"Apa maksud perkataanmu pagi tadi?"
"Apa kau?" sambungku lagi padanya.
"Kau merencanakan sesuatu bersama Egil bukan? Aku telah mengetahuinya," ungkapnya kembali padaku.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," sambungku, tampak terlihat helaan napas yang jelas sekali terlihat dilakukan olehnya.
"Aku mengenal Putraku sendiri, penjara bawah tanah? Aku tidak tahu darimana dia mendapatkan kabar tersebut, akan tetapi... Kalian melakukan sesuatu yang sia-sia, tidak ada apapun di penjara tersebut."
"Kau menyembunyikan sesuatu darinya bukan?"
"Aku hanya menjauhkan dia dari perempuan yang tak berguna."
"Jangan katakan..."
"Kau benar, aku menjauhkan dia dari Ibunya. Aku tidak akan pernah mengizinkannya untuk menemui perempuan tak berguna itu," ucapnya lagi memotong perkataanku.
"Bagaimana bisa? Kau mengatakannya dengan sangat mudah, bagaimana bisa kau melakukannya? Dia yang melahirkan Egil, tanpa dia... Apa kau pikir Egil akan lahir?" ungkapku membalas tatapannya.
"Ibu kah? Ibu macam apa yang mencekik anaknya sendiri tepat setelah dia melahirkannya. Bisakah kita tidak perlu membahasnya? Mengingat wajahnya saja membuatku muak," ungkapnya mengalihkan pandangannya dariku.
Niel menghentikan langkah kaki kudanya di hadapan salah seorang laki-laki. Dia bergerak turun dari atas kuda yang ia tunggangi dengan laki-laki yang ada di hadapannya meraih dan menggenggam tali kekang yang mengikat kuda miliknya.
Ikut kugerakkan kudaku berhenti di samping kuda miliknya, seorang laki-laki berjalan mendekati dengan sebelah telapak tangannya diarahkannya ke arahku. Kugerakkan tanganku yang masih menggenggam tali kekang ke arah laki-laki tadi sembari kuletakkan tali kekang yang aku genggam tadi kepadanya.
Aku bergerak turun dari atas kuda milikku, kembali kulangkahkan kakiku berjalan mendekati Niel yang berdiri menunggu di depan pintu bangunan yang telah terbuka. Kulangkahkan kakiku mengikuti langkah kaki Niel yang telah terlebih dahulu berjalan masuk ke dalam bangunan tersebut.
Seorang laki-laki yang berdiri di depan bangunan menuntun langkah kami berdua menyusuri ruangan lalu beralih ke sebuah lorong dengan beberapa puluh anak tangga yang menjadi jalannya. Obor-obor yang menerangi sepanjang jalan, membantu langkah kaki kami bertiga menuruni tangga yang terbuat dari tanah tersebut...
Jeritan-jeritan nan memilukan memekakkan telinga ku, semakin jelas dan semakin jelas terdengar saat anak tangga terakhir yang kami lalui berakhir. Jeruji-jeruji besi yang memenuhi lorong memancarkan bau busuk yang menusuk-nusuk hidungku.
Isi perutku mengetuk untuk dikeluarkan saat pandanganku tak sengaja terjatuh pada tumpukan kotoran yang memenuhi sebuah sel penjara, sepasang mata yang berada di dalamnya tampak memandang tajam ke arah kami yang berjalan di hadapannya.
Tubuhku mundur ke belakang tanpa sadar, kepalaku seketika pusing saat kurasakan benda keras menghantam bagian belakang kepalaku. Ikut kurasakan rasa sakit saat rambutku semakin tertarik ke belakang...
Niel maju beberapa langkah mendekati, masih kutatap lengan kirinya yang bergerak melewati kepalaku. Teriakan meminta untuk dilepaskan kembali terdengar menggema di telinga.
Sebilah pedang ke luar dari sisi pinggang Niel yang lainnya, pedang tadi bergerak cepat melewati atas kepalaku. Kembali terdengar suara teriakan memekakkan, yang akhirnya meredam hingga tak terdengar lagi diikuti suara benda jatuh yang terdengar begitu keras. Aku melangkah maju beberapa langkah seraya kugerakkan tubuhku berbalik sekedar melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Seorang laki-laki bertubuh besar terbaring terlentang di dalam sel penjara, tampak pedang yang sebelumnya dipegang oleh Niel tertancap tepat di dahi laki-laki yang terbaring tadi. Masih kutatap tubuh laki-laki tersebut yang mengejang-ngejang tanpa suara...
Suara langkah kaki menjauh membuat pandanganku teralihkan, ikut kugerakkan tubuhku berjalan mengikuti langkah kaki Niel yang kembali berjalan menyusuri lorong penjara.
Suara besi yang dipukul berulang-ulang memenuhi ruangan, kugerakkan mataku melirik ke arah kanan dan juga kiri. Mereka semua, maksudku para tahanan... Tak henti-hentinya memukul bahkan menendang jeruji-jeruji besi yang mengurung mereka.
"Bebaskan aku Sialan!"
"Semua orang disini adalah penjahat, seharusnya kalian tangkap juga mereka!"
"Sialan! Bangsawan pengecut sialan! Bebaskan aku!"
Begitulah teriakan-teriakan yang selalu terdengar di sepanjang lorong. Niel masih diam menatap lurus ke depan, sedikitpun pandangan matanya tak teralihkan oleh teriakan-teriakan di sekitar.
"Kita akan sampai ke ruangan dimana dua tahanan tadi ditahan, Yang Mulia," ikut terdengar suara laki-laki dari arah belakangku.
"Baiklah, tuntun kami berdua ke sana! Dan kau, berjalanlah sedikit lebih dekat padaku," ungkapnya mengalihkan pandangannya menatapku.