Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXCVII


Izumi lama membalas tatapanku, “aku?” Tanyanya dengan mengangkat jari telunjuk ke arah dirinya sendiri.


Dia sedikit mengangkat kepalanya ke samping dengan tangan kiri menggaruk belakang kepalanya, “aku diam-diam mengintip saat kau mengajari Tsubaru bahasa kuno dulu. Jadi aku, sedikit dapat membacanya walau sebenarnya aku tidak mengetahui apa artinya,” ucapnya kembali tersenyum menatapku.


“Izumi-chan.”


“Jangan menambahkan Chan di belakang namaku,” ucap Izumi yang langsung berbalik menatap Haruki, “kenapa? Kakakmu ini, hanya ingin memanggil namamu dengan panggilan kesayangan,” balas Haruki dengan tersenyum menatapnya.


“Menjijikan, kau benar-benar membuat tubuhku merinding mendengarnya,” Haruki beranjak berdiri di belakang Izumi, diangkatnya lengan kanannya melingkar di leher Izumi sedangkan kedua kakinya bergerak mengunci tubuh Izumi, “apa kau ingin membunuh adikmu sendiri?” Izumi sedikit mengangkat kepalanya, tubuhnya bergerak … Berusaha untuk lepas dari cengkeraman Haruki.


“Seorang Kakak, berkewajiban mendidik adiknya. Sudah lama sekali rasanya bukan? Aku tidak mendidikmu seperti ini?” Haruki memperkuat lengannya yang mengunci leher Izumi, “aku menyesal, sekarang lepaskan aku,” ucap Izumi dengan kembali berusaha untuk melepaskan diri.


“Aku tidak mendengarnya.”


“Maafkan aku Kakak. Aku menyesal,” Izumi tertunduk dengan sebelah tangan memegang lehernya saat Haruki melepaskan lengannya di leher Izumi, “kau benar-benar gila,” sambung Izumi melirik ke arahnya yang telah kembali duduk di tempat sebelumnya.


Haruki kembali menoleh ke arah Izumi, “persiapkan semuanya, kita akan beristirahat di sini malam ini,” ucapnya dengan sedikit melirik ke arah kami bergantian.


_______________


Aku duduk dengan mengangkat telapak tangan ke arah api unggun yang ada di hadapanku itu, mataku sedikit terpejam saat rasa hangat mengalir di ujung-ujung jariku, “kau tidak tidur?”


“Aku belum mengantuk,” ucapku menoleh ke arah Haruki yang telah duduk di samping, “apa kau memerlukan sesuatu, nii-chan?” Aku balik bertanya saat dia sedikit beranjak melempar beberapa rating kayu ke dalam api unggun.


Haruki kembali duduk dengan kedua matanya masih menatapi api unggun yang ada di hadapan kami, “kontrak,” ucapnya terhenti, “apa kau akan baik-baik saja? Apa tubuhmu akan baik-baik saja, jika Kou melakukan kontrak paksa dengan beberapa makhluk kedepannya?” Dia kembali melanjutkan perkataannya dengan menoleh ke arahku.


Aku tertunduk dengan sedikit tersenyum menatap bara api yang tercecer di sekitar api unggun, “seperti yang diharapkan dari Kakakku. Sejak kapan kau mengetahuinya nii-chan? Jangan katakan, kau sudah mengetahui ini sejak awal?”


Haruki menghening, hanya suara ranting dipatahkan api yang memenuhi telingaku, “maaf. Aku memanfaatkan kalian,” ucapnya, dia tertunduk dengan menggigit bibirnya saat aku menoleh ke arahnya.


Aku mengangkat telapak tanganku menyentuh pipinya, “aku baik-baik saja. Aku sungguh-sungguh, baik-baik saja, Kakak. Karena itu, Haru-nii, haruslah lebih kuat dibanding kami … Kakak yang paling aku kagumi, jangan biarkan kekagumanku itu menghilang,” ucapku menarik kembali telapak tanganku yang menyentuh pipinya.


“Sakura,” mataku sedikit membelalak saat mendengarnya, “terima kasih, karena telah lahir kembali sebagai Adikku. Maaf, jika kau harus terlahir di keluarga yang membuatmu kesulitan,” ucapnya, aku menggigit kuat bibirku saat mendengarnya.


“Aku bahagia terlahir sebagai adik kalian. Aku mendapatkan banyak kasih sayang yang sebelumnya tidak pernah aku dapatkan, aku mendapatkan banyak sekali perhatian yang sebelumnya tidak aku dapatkan … Aku berjuang, karena aku tidak ingin kehilangan keluarga yang menyayangiku itu. Aku berjuang, untukku sendiri … Jadi jangan katakan lagi, jika kau memanfaatkan aku, nii-chan,” ucapku pelan dengan mengangkat kembali telapak tangan mendekati api unggun yang sedikit bergoyang ke samping tertiup angin.


Aku berbalik ke belakang, menatap Izumi yang tengah merangkak ke arah kami, “tidak ada nii-chan. Apa kami membangunkanmu?” Tanyaku saat dia telah beranjak duduk di sampingku.


“Itu karena kalian berdua menghalangi api unggunnya. Apa kalian berdua membicarakanku?” Izumi kembali bersuara yang ditanggapi suara tawa kecil dari Haruki, “ada apa denganmu?” Ucap Izumi kembali, dia menoleh ke samping … Menatap Haruki yang tertunduk dengan telapak tangan menutupi mulutnya.


“Aku hanya,” ucap Haruki terhenti, dia mengangkat kembali kepalanya dengan jari telunjuk mengusap ujung matanya, “aku hanya mengingat, saat di mana kita saling bersaing hanya untuk mendapatkan perhatian dari Sachi,” ucapnya menoleh ke arah kami, “aku bersyukur, Ayah menikah lagi hingga aku bisa memiliki adik seperti kalian,” sambungnya tersenyum lalu menatap kembali api unggun di hadapan kami.


____________________


“Apakah masih jauh?” Aku berbalik menatap Eneas yang telah menghentikan langkah kakinya, “aku lelah sekali,” ucapnya kembali dengan menundukkan kepala.


Pandangan mataku beralih kepada Izumi yang juga telah menghentikan langkah kakinya, “panas sekali,” gumamnya mengangkat lengan kanan mengusap keningnya.


Izumi membuka jubah yang ia kenakan, diletakkannya jubahnya tadi di lengan kirinya, “apa kita akan berhenti dulu di suatu tempat?” Tanya Izumi saat dia berjalan mendekati Haruki yang tengah berdiri dengan kepalanya yang bergerak menatapi sekitar.


“Tentu,” jawab Haruki tanpa menoleh ke arahnya, “kita harus membeli kuda untuk melanjutkan perjalanan, kita juga harus membeli pakaian karena semua pakaian kita telah dirobek oleh para Manticore itu,” sambung Haruki kembali dengan menyilangkan kedua tangannya ke dada.


“Apa kita punya cukup uang untuk mendapatkan semua barang itu?” Izumi kembali bertanya dengan melangkahkan kakinya berjalan di belakang Haruki, “aku tidak yakin. Bagaimana jika nanti kita hanya membeli dua ekor kuda saja?” Dia balik bertanya kepada Izumi.


Izumi sedikit menggaruk rambut yang ada di samping kepalanya, “aku tidak masalah, tapi … Apakah itu tidak akan menghambat perjalanan kita?”


“Kau benar. Jika kita berhadapan dengan musuh, kuda yang bukan kualitas terbaik akan kesulitan membawa dua orang di punggungnya untuk melarikan diri,” ucap Haruki seraya mengangkat kepalanya menatap langit.


“Apa kalian baik-baik saja?” Izumi berbalik menatap aku dan Eneas yang berjalan di belakangnya, “aku ingin beristirahat,” ucapku mengangkat lengan kanan menurunkan penutup jubah yang aku kenakan.


“Kakiku, serasa sulit untuk digerakkan lagi,” aku berbalik menoleh ke arah Eneas yang membungkukkan tubuhnya di sampingku, “kita sudah hampir seharian berjalan. Aku pikir, sudah saatnya kita beristirahat,” ungkap Izumi menimpali perkataan Eneas.


Haruki berbalik menatapi kami bergantian, “tidak ada apa pun di sini. Tidak ada tempat untuk kita berlindung. Jika kita ingin beristirahat, setidaknya kita mencari hutan atau apa pun untuk berlindung,” ungkap Haruki mengangkat telapak tangannya ke atas.


“Jika Haruki sudah bersikap tenang seperti ini, aku mengkhawatirkan keselamatan kita semua,” ucap Izumi menundukkan kepala dengan berkacak pinggang, tampak juga terdengar suara helaan napas yang ia keluarkan.


Haruki kembali menurunkan pandangannya menatap Izumi, “apa yang kau maksudkan?” Tanyanya, Izumi masih tertunduk dengan sedikit menggelengkan kepalanya.


“Aku hanya penasaran, apa Kakakku yang jenius telah memikirkan jalan keluar untuk kami semua?” Izumi kembali mengangkat kepalanya, dia berbalik menoleh ke arah Haruki yang masih menatapnya.