
"Tunggu sebentar," ucapku kembali berbalik melangkah mendekati pantai.
Ku lirik empat buah bola-bola kaca yang aku letakkan di atas pasir sebelumnya, tampak bola tersebut mengambang bergerak mengikuti ombak yang menerjang pantai.
Kedua kakiku berhenti tepat di samping tubuh perempuan setengah aanjing laut itu, aku membungkukkan tubuh meraih pisau kecil milikku yang tergeletak di atas tubuhnya.
Aku kembali berbalik, melangkahkan kaki mendekati laut kembali. Kepalaku tertunduk, kuarahkan sebelah tanganku yang menggenggam bola kaca ke atas ujung pakaianku yang aku tarik dengan sebelah tanganku yang lain. Kutarik ujung pakaianku itu menyelimuti bola kaca, sembari ku ikat menggunakan ujung pakaianku yang lain agar bola kaca itu tak jatuh.
Ebe berenang mendekati, kuhentikan langkah kakiku di hadapannya saat air laut telah mencapai dadaku. Kuarahkan kedua lenganku merangkul lehernya saat Ebe telah berbalik membelakangi.
Ebe membenamkan dirinya ke dalam air laut, dia membawaku yang ada di punggungnya berenang semakin menyelam ke dalam lautan. Ebe kembali membawaku berenang mendekati goa gelap yang kami lewati sebelumnya.
"Ebe," ucapku saat kami berhasil keluar dari goa tersebut.
"Ada apa?" ucap Ebe, ia berenang lebih cepat dibanding sebelumnya.
"Ada sesuatu yang menggangu pikiranku, bagaimana kau bisa mengetahui jika perempuan itu yang mencelakai adikku?"
"Karena aku sudah memperhatikan aanjing itu sejak lama. Aku bahkan melihatnya sendiri, bagaimana dia memakan jiwa adikmu."
"Dan kau, membiarkannya begitu saja?" Ucapku mengarahkan pisau yang aku genggam ke lehernya.
"Jika kau membunuhku sekarang, kau tidak akan bisa sampai ke sana," ucapnya sedikit menoleh ke arahku.
"Hanya katakan, apa maksudmu melakukan semua ini?"
"Aku tidak mempunyai maksud apapun."
"Aku tidak sebodoh itu hingga dapat kau bohongi," ucapku kembali, kuarahkan pisau milikku itu semakin menekan lehernya.
"Baiklah," ucapnya dengan menghela napas, tampak terlihat buih-buih bercampur gelembung kecil keluar dari mulutnya.
"Aku, terlahir sebagai setengah manusia. Lebih tepatnya, ayahku seorang manusia," ucapnya sambil tetap membawaku berenang semakin dalam.
"Para duyung, memiliki kebiasaan... Bahwa, induk jantan lah yang merawat anak-anak mereka ketika lahir."
"Jadi," ucapnya terhenti, Ebe semakin cepat membawaku berenang mendekati laut yang semakin dalam semakin gelap terlihat.
"Ibu ku, meninggalkan aku untuk dirawat Ayahku. Ayahku, adalah salah seorang warga di sana. Aku tidak terlalu ingat, karena kejadian ini sudah lama sekali terjadi..."
"Akan tetapi, makhluk aanjing itu tiba-tiba muncul. Ayah menyembunyikan aku dengan baik di dalam rumahnya, akan tetapi... Karena sihir aanjing itu sangatlah kuat. Dia berhasil mempengaruhi semua laki-laki termasuk ayahku..."
"Ayahku, karena sihir aanjing itu. Berusaha membunuh aku yang saat itu masih kecil, Jika saja..." Ucapnya kembali terhenti.
"Jika saja?" Tanyaku saat dia berhenti menggoyangkan ekornya.
"Lalu? Bagaimana dengan Ibumu? Bukankah, kau sendiri yang mengatakan jika ibumu dibunuh oleh makhluk itu?"
"Aku menganggap Ayahku sebagai Ibuku. Ibuku sendiri, setelah ia melahirkan aku dan pulang ke lautan, nyawanya tak bisa bertahan lama," ucapnya kembali bergerak menyelam saat sebuah retakan besar terbuka di sebuah permukaan batu yang ada di dasar.
"Jadi? Apa masih ada yang ingin kau tanyakan?"
"Tidak ada. Aku, sedikit paham... Apa yang kau maksudkan," ucapku melirik ke arahnya.
"Lagi pun, yang perlu kita pikirkan sekarang. Bagaimana caranya kita membawa bola itu ke kuil bawah laut tanpa diketahui bangsa duyung lainnya," ungkapnya semakin berenang cepat melewati retakan yang ada di dasar laut.
"Tentu saja, aku mengandalkanmu untuk menuntunku ke sana. Jika kau membohongiku, kau pasti paham apa yang akan aku lakukan," ucapku, kualihkan pandangan mataku ke sekitar, tak ada bayangan apapun... Semuanya gelap, saat kami melewati retakan tadi.
"Aku tidak akan melakukannya. Hitung-hitung ini sebagai balas budi," ucap suaranya terdengar di telingaku.
"Apa kau dapat menggunakan bahasa manusia?" Tanyaku kembali tanpa menggunakan bahasa Latin.
"Tentu, Ayahku seorang manusia. Jadi, aku bisa sedikit mengerti bahasa kalian," ucapnya menjawab pertanyaanku dengan bahasa yang sama.
"Bisakah aku bertanya lagi, masih ada beberapa hal yang mengganggu pikiranku."
"Kau bisa menanyakan apapun. Jika menurutku, pertanyaan mu tak merugikan... Maka, aku akan menjawabnya," ucapnya yang kembali terdengar di telingaku.
"Jika kau setengah manusia, kenapa tidak hidup di dunia manusia untuk membalaskan dendam mu itu?"
"Yang dapat membedakan aku dengan duyung murni hanyalah, aku... Dapat berbicara di daratan, sedangkan mereka tidak bisa. Suara mereka tidak akan keluar kecuali di dalam air, dan tentu saja... Manusia biasa tidak akan bisa mendengarnya."
"Sebenarnya, sampai sekarang... Aku pun masih bingung, bagaimana kedua orangtuaku dapat bertemu. Kita hampir sampai di wilayah kekuasaan bangsa duyung, berhati-hatilah," ucapnya dengan merubah nada suaranya saat keadaan di sekitar kami kembali terang tak seperti sebelumnya.
Kuarahkan pandangan mataku ke sekitar, Ebe berenang semakin maju mendekati sebuah kabut yang jauh di hadapan kami. Aku tidak tahu, bagaimana kabut itu tercipta... Akan tetapi, aku paham kenapa manusia tidak akan sampai ke sini. Terlebih lagi, tanpa adanya perlengkapan menyelam seperti yang ada di kehidupan lamaku.
Ebe berenang semakin cepat melewati kabut putih tebal yang menghampar di hadapan kami sebelumnya. Kedua mataku kembali membelalak saat kutatap sebuah sungai dengan beberapa pohon tanpa daun berada di dalam laut yang ada di hadapan kami.
Permukaan sungai itu, diselimuti kabut tipis pada permukaannya. Airnya yang berwarna hijau, tampak kontras sekali dengan warna air laut yang sedikit kebiruan terlihat.
"Walaupun kau sekarang dapat bernapas di dalam laut, akan tetapi... Jika kau tenggelam di dalam sungai itu, kau tetap akan mati kehabisan napas. Jadi, berpeganglah yang kuat," ucap Ebe semakin cepat berenang di atas permukaan sungai itu.
Aku menolehkan pandangan ke sebelah kanan, ini seperti hutan di dalam laut. Bagaimana tidak, bahkan kau tidak hanya akan menemukan satu atau dua pohon, tapi hampir sekitar puluhan pohon yang tumbuh di sekitar sungai.
Kakiku tiba-tiba tertarik ke belakang dengan sangat kuat. Tanganku yang melingkar di leher Ebe sebelumnya telah terlepas diikuti tarikan pada tubuhku yang semakin kuat ke belakang.
"Ebe!" Teriakku, Ebe segera berbalik dengan sebelah tangannya yang memegang kuat lehernya diikuti warna merah yang mengambang di sekitar lehernya itu.
"Sachi, tanganmu. Berikan tanganmu!" Balasnya berteriak, ia berenang mendekat dengan sebelah tangannya yang lain mengarah padaku.