Fake Princess

Fake Princess
Chapter LXIV


"Tetaplah disana, jangan beranjak sedikitpun." ucap Izumi lagi menatapku, berbalik ia berjalan menjauh


Duduk aku seraya menatap kosong ke depan, kualihkan pandangan mataku ke lapisan es yang ada sisi sebelah kiriku. Kuletakkan telapak tanganku menyapu lapisan es yang membeku tersebut.


Kuarahkan kembali pandangan mataku ke arah lubang besar yang dibuat Kou sebelumnya, sinar bulan tampak ikut masuk melaluinya. Terlihat Izumi dan Haruki berdiri di sisi lain lubang besar itu, ditatapnya aku dengan mata penuh memerah oleh mereka...


Masuk Haruki perlahan melalui lubang diikuti dengan Izumi yang juga ikut berjalan dibelakangnya. Perlahan demi perlahan, mereka berdua melangkahkan kaki mendekatiku...


"Sa-chan." tukasnya, duduk ia di hadapanku dengan nafas yang sedikit tak beraturan


"Apa kau baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu padamu?" ucapnya lagi seraya diarahkannya pandangannya melihat sekeliling ruangan


"Haru nii-chan." ucapku, kuraih telapak tangannya


"Eh?" ungkapnya terkejut melihatku menarik tangannya


"Aku sudah sembuh, nii-chan. Aku sudah sembuh." sambungku, tersenyum aku menatapnya


"Benarkah? Apa kau sudah bisa melihatku lagi sekarang?" ucapnya, kubalas perkataannya tersebut dengan anggukan pelan dariku


"Terima kasih... terima kasih." ungkapnya dengan suara bergetar, direndahkannya kepalanya di pundakku


Kutatap Izumi yang berdiri di sebelah kananku, kuarahkan lengan kananku ke arahnya. Ditatapnya aku menggunakan matanya yang sembab, duduk berlutut ia disampingku. Direbahkannya juga kepalanya di pahaku, ku usap perlahan rambutnya yang hitam kecokelatan tersebut...


"Apa itu Kou?" ucap Haruki, diangkatnya kepalanya dan ditatapnya kembali aku


"Kou datang menyembuhkanku."


"Dimana dia? aku ingin berterima kasih padanya."


"Dia kembali ke tempat dimana pertama kali aku menemukannya, di dunia manusia tidak terlalu banyak sihir untuk pertumbuhannya. Dia akan datang hanya jika aku memanggilnya."


"Aku mengerti." ucapnya, menepuk pelan kepalaku


"Izu nii-chan, kau tadi membawa mangkok. Apa itu makanan untukku?" ucapku, kualihkan pandanganku kembali pada Izumi


"Apa kau lapar?" ucapnya, kembali kubalas perkataannya dengan anggukan kepala dariku


"Berdirilah, aku akan memasakkan apapun yang kau inginkan." ucapnya beranjak, diarahkannya telapak tangannya padaku


Kuraih dan kugenggam telapak tangannya tadi, Haruki sendiri membantuku beranjak berdiri perlahan. Berjalan aku dengan Izumi menuntun di sebelah kananku dan Haruki berdiri di sebelah kiriku...


"Berhati-hatilah, lantainya sedikit licin." tukas Haruki


"Lidahku telah berfungsi kembali, karena itulah aku tidak akan memakan masakan yang penuh dengan garam." ucapku mengalihkan pandangan ke arah Haruki


"Ulangi perkataanmu, ulangi sekali lagi." ucap Izumi mencubit kuat pipiku, ditariknya kembali wajahku hingga kembali menatapnya


"Bukankah itu bagus, tubuhmu akan semakin membengkak jika terlalu sering makan malam." sambung Haruki


"Tapi aku akan sulit tidur dengan keadaan lapar, terlebih kamarku hancur."


"Kau mengingatkanku, aku akan memotong uang bulanan mu untuk biaya perbaikan kamar."


"Haru nii..." ucapku sedikit berteriak


"Aku bercanda, terima kasih sudah sehat kembali." ucapnya seraya merangkul dan mencium kepalaku


Berjalan kami bertiga menyusuri Istana, langkah kami terhenti... Tampak dihadapan kami, Ayah berdiri menatapku dengan tatapan lega diikuti Tsubaru yang juga ikut berdiri dibelakangnya...


"Aku sembuh Ayah, aku bisa melihatmu lagi." ucapku yang juga ikut memeluk lehernya


"Terima kasih, Deus... Terima kasih." ucapnya menatapku dengan tatapan berbinar


"Dia baru saja sembuh, mau kemana kalian?" ucapnya lagi menatap ke arah Haruki dan Izumi


"Aku lapar Ayah, aku ingin mengajak mereka makan bersama."


"Benarkah? Apa ada yang ingin kau makan?" ungkapnya, digendongnya tubuhku olehnya.


"Aku ingin makan-makanan yang manis." ucapku tersenyum menatapnya


"Aku mengerti..."


"Tsubaru, perintahkan para koki Istana memasak makanan untuk Putri dan juga Pangeran!" sambungnya


"Laksanakan, Yang Mulia." ucapnya seraya membungkukkan tubuh, ditatapnya aku dengan matanya yang memerah disertai dua kantung hitam melekat di bawah kelopak matanya.


"Kemarilah..." ucap Ayah lagi seraya mengangkat lengan sebelah kanannya ke arah Haruki dan Izumi


Berjalan Haruki dan Izumi mengikuti di sebelah kanan dan kiri kami. Langkah kami terhenti di ruang makan, dibukanya pintu besar yang ada di hadapan kami oleh dua Kesatria yang berjaga. Masuk kami berempat kedalam ruangan...


Diturunkannya aku oleh Ayah di kursi yang ada di sebelahnya, sedangkan Haruki dan Izumi duduk di hadapanku seperti biasa. Diambilnya buah jeruk oleh Haruki dan diberikannya buah jeruk tersebut...


"Ambil dan makanlah ini terlebih dahulu." ucapnya


Kuambil buah jeruk tadi seraya kukupas, kuambil satu potong kecil jeruk tadi. Kukupas bagian atasnya seraya kubuka hingga bulir-bulir jeruknya keluar, kumakan jeruk tersebut seraya kulakukan berulang-ulang pada potongan jeruk lainnya...


"Biasanya orang makan jeruk itu ya tinggal langsung makan, kalau Sachi harus dikupasnya dulu. Aku masih heran dengan cara makannya yang seperti itu." tukas Izumi menatapku


"Kau benar, itulah kenapa aku memberikan jeruk padanya. Entah kenapa aku ingin sekali melihatnya makan seperti itu." lanjut Haruki yang juga ikut menatapku


"Makan dengan cara seperti itu lebih membuat jeruknya kaya rasa, kalian harus mencobanya." ucapku menjulurkan buah jeruk yang aku pegang ke arah mereka berdua


Diambilnya potongan buah jeruk tadi masing-masing satu oleh mereka, dimakannya jeruk tersebut oleh mereka menggunakan cara yang sama seperti yang aku lakukan...


"Sama saja, rasanya sama saja seperti jeruk biasa." ucap Izumi menatapku


"Itu karena lidahmu aneh, masak bubur saja rasanya penuh dengan asinnya garam." gerutuku pelan balik menatapnya


"Kembali ucapkan kata-kata itu, aku ingin mendengarnya sekali lagi."


"Hentikan kalian bertiga." ucap Ayah seraya memijat-mijat pelan kepalanya


"Ayah, bisakah aku tidur di kamarmu malam ini?" ucapku menatapnya


"Kamarku hancur, aku tidak tahu kenapa." sambungku


"Baiklah, tapi makanlah dulu yang banyak untuk sekarang."


"Aku mengerti, Ayah." ucapku tersenyum menatapnya


Kualihkan pandangan mataku ke arah Haruki dan Izumi, tampak Haruki tengah memakan jeruk menggunakan cara yang sering aku lakukan sedangkan lzumi sendiri sibuk membelah buah apel seraya diletakkannya di atas piring kecil...


Aku tanpa sadar menghisap sihir hitam yang menyerang mereka berdua kah?


Aku benar-benar takut oleh sihir hitam yang dimaksudkan Kou itu. Tapi entah kenapa? Aku bersyukur, yang mengalami semuanya hanya aku dan bukan mereka...