Fake Princess

Fake Princess
Chapter XCIX


"Yang mana obat yang kau berikan kepada Zeki dan juga Alma?" ucap Izumi seraya membongkar tas milikku.


"Botol yang dililit benang merah," jawabku melirik ke arahnya.


Kutatap Haruki yang memegang kedua telapak tanganku, ditiup-tiupnya telapak tanganku yang melepuh tadi olehnya...


"Yang ini?" sambung Izumi seraya menunjukkan botol kecil dililit benang merah padaku.


"Benar yang itu," jawabku menatap balik padanya.


"Berikan itu padaku!" ungkap Haruki, diangkatnya telapak tangan kirinya ke arah Izumi.


"Ini," jawab Izumi, diletakkannya botol tadi di atas telapak tangan Haruki.


Kembali kutatap Haruki yang tengah menuangkan sedikit demi sedikit bubuk obat tersebut di telapak tanganku. Diratakannya bubuk obat tadi membaluri seluruh telapak tanganku...


"Kau baik-baik saja?" ucap Zeki, kuarahkan pandanganku kepadanya yang telah berdiri dibelakang Izumi.


"Hanya melepuh sedikit."


"A-apa i-itu ka-karena ka-kau ma-masuk ke-ke da-dalam a-api se-sebelumnya, Sa-sachi?"


"Api?" ucap mereka bersamaan menatapku.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin membunuhnya?" sambung Izumi mencengkeram leher pakaian yang dikenakan Haruki.


"Apa kau pikir aku menginginkan adikku sendiri celaka?!" ikut dicengkeramnya tangan Izumi yang mencengkeram leher pakaiannya tadi.


"Nii-chan, itu kulakukan karena keinginanku sendiri. Sihir Naga yang berupa teka-teki, itu harus dipatahkan dengan perbuatan langsung..."


"Nyawa terbit nyawa terbenam, untuk raga untuk harga diri. Kedepan atau kebelakang, aku mengartikan ukiran tersebut dengan pengorbanan diri," ucapku, maju mereka semua semakin mendekati.


"Kalian pasti pernah mendengar bukan jika bahasa kuno seringkali digunakan sebagai petunjuk untuk sebuah harta karun, sihir segel yang dilakukan oleh Naga juga menggunakan bahasa kuno..."


"Jangan katakan?" ucap Alma menatapku.


"Aku dapat membaca dan melafalkannya," ungkapku membalas perkataannya.


"Apa tidak ada yang tidak dapat kau lakukan Sachi?" tukas Adinata, digaruknya kepalanya beberapa kali sembari menatapku.


"Masih banyak yang tidak dapat aku lakukan, buktinya jika kita tidak membantu sama lain, mungkin kita akan terjebak disana selamanya..."


"Lagipun, yang paling penting sekarang. Bagaimana caranya kita mengembalikan mental mereka," sambungku seraya kualihkan pandanganku pada mereka-mereka yang masih gemetar ketakutan.


"Kemarilah, aku akan menggendongmu," ucap Haruki berjongkok membelakangiku.


"Apa aku harus mengulangi perkataanku?"


"Aku mengerti," ucapku lagi, kuarahkan lenganku merangkul lehernya seraya diangkatnya aku ke punggungnya.


"Sudah berapa hari kita terjebak, aku ingin sekali membersihkan tubuhku," ungkap Julissa yang berjalan dibelakang kami.


"Tapi apa kau tahu Julissa? ini ialah hari dimana kita pertama kali sampai kesini," lanjutku tersenyum menatapnya.


Berhenti langkah Haruki yang membawaku, kualihkan pandanganku pada Kesatria dan juga pelayan-pelayan Kekaisaran yang mengantar kami sebelumnya. Tampak terlihat pandangan seakan tak percaya yang ditunjukkan oleh mereka kepada kami...


"Apa yang terjadi pada kalian?" ucap salah satu Kesatria menatapi kami.


"Apa kau..." perkataan Luana terpotong, kulirik ia seakan menyuruhnya untuk menutup mulutnya.


"Kami semua tidak sengaja jatuh ke dalam lubang di pinggir jurang," ungkap Adinata maju, balas ia melirik ke arahku.


"Kami akan membawakan Tabib dan juga lebih banyak pelayan untuk membantu kalian," ungkap salah satu Kesatria berbalik dan berjalan, tampak beberapa Kesatria lainnya ikut mengikutinya.


Kembali Haruki menggendongku mendekati pohon yang tak terlalu jauh dari tempat kami berdiri sekarang, diturunkannya tubuhku tadi di bawah pohon itu. Duduk dan bersandar aku di batang pohon, kutatapi mereka yang juga ikut duduk di sekitarku...


"Apa yang kau lakukan, kau ingin membela mereka yang hampir membunuh kita semua?!" ucap Luana lagi dengan nada sedikit berteriak.


"Bukan itu maksudku, hanya saja... jika mereka tidak ada hubungannya dengan rencana Kaisar. Apa kau pikir semua yang ingin kau ceritakan kepada mereka itu dapat diterima oleh akal mereka?"


"Mereka tidak akan percaya bukan? Dan lebih buruknya, jika kita sampai berseteru mempertahankan pendapat kita. Menurutmu siapa yang akan lebih dirugikan? Mereka yang masih sehat, segar dan bugar atau kita semua yang telah terkuras tenaga beserta pikirannya," sambungku, kembali kutatap mereka yang tampak mengalihkan pandangannya.


"Kuat, bukan berarti kau harus menantang siapapun yang setara, lemah atau lebih kuat darimu. Tapi kuat yang sebenarnya, adalah bagaimana kau menghancurkan lawanmu, disaat ia masih belum tersadar ketika ia sudah berada di genggaman kalian. Menghancurkan musuh dengan cara seperti itu, lebih memuaskan ketimbang bertindak tergesa-gesa akan tetapi malah merugikan orang yang ada di sekitarmu."


"Orang-orang seperti kami memang terbilang lamban mengambil keputusan, tapi percayalah... kami selalu memutuskan dengan memikirkan baik-baik akibat apa yang akan kita terima jika melakukannya. Aku benar bukan, nii-chan?" sambungku seraya kusandarkan kepalaku di pundaknya Haruki.


"Seorang bangsawan, seorang Pangeran, seorang Putri... Memegang suatu keputusan yang akan mensejahterakan atau menyengsarakan rakyatnya. Bukan rakyat yang harus melindungi Raja dan juga anak-anaknya, akan tetapi..."


"Raja dan anak-anaknya yang seharusnya melindungi mereka. Waktu mereka telah habis untuk menghidupi keluarganya dan juga menyisihkan harta yang mereka punya untuk membayar pajak yang telah kami tetapkan. Dari pajak itulah kami semua dapat makan-makanan yang layak setiap hari," sambung Izumi menimpali perkataan Haruki.


"Jadi, jika kami tidak pandai," ucapku.


"Jika kami tidak kuat," sambung Izumi.


"Jika kami tidak bertanggung jawab... Kami tidak akan pantas menyandang status Pangeran dan juga Putri dari Kerajaan Sora," lanjut Haruki menimpali perkataan kami berdua.


"Itulah yang sering dikatakan Ayah kepada kami bertiga," ungkapku lagi seraya tersenyum menatapi mereka.