
"Apa kalian yakin ingin masuk ke dalam sana. Di sana, sangatlah berbahaya," ucap Mas'ud menatapi Haruki dan juga Izumi yang tengah memberikan tali kekang kuda-kuda kami pada seorang laki-laki yang duduk di atas kursi dengan banyak sekali barisan kuda terikat di kandang yang ada di belakangnya.
Haruki dan Izumi kembali berjalan mendekati kami, Izumi menunduk meraih Cia lalu menggendongnya sedangkan Haruki menggenggam erat telapak tanganku.
Aku ikut melangkahkan kaki saat Haruki menarik pelan tanganku yang digenggamnya tadi. Suara bising yang berasal dari dalam semakin jelas terdengar... Suara tersebut semakin menjadi saat lorong masuk untuk sampai ke dalam habis dilalui.
Teriakan riuh menggetarkan bulu roma, aku tidak tahu... Berapa banyak manusia yang ada di dalam tempat ini. Yang aku tahu hanya, sepasang mata mereka tertuju pada seorang laki-laki bertelanjang dada dengan seikat kain menutupi bagian bawah tubuhnya tengah berlumuran darah di hadapan seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dengan ikatan kain berwarna sama menutupi bagian bawah tubuhnya.
Jeritan keriuhan semakin jelas terdengar saat laki-laki bertubuh besar tadi menusukkan pedang yang ia genggam ke perut lawannya yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil darinya.
Seorang laki-laki paruh baya melangkah maju mendekati kedua laki-laki yang bertarung tadi. Laki-laki bertubuh besar tadi mundur beberapa langkah seraya dilepaskannya genggaman tangannya di pedang tadi. Lawannya yang sudah tak bergerak sebelumnya, jatuh tersungkur dengan pedang tertancap menembus tubuhnya.
Laki-laki paruh baya tadi mengangkat lengan kanan pria bertubuh besar tadi. Teriakan riuh kembali memenuhi sekitar diikuti langkah kaki pria bertubuh besar yang berjalan menjauhi lapangan kosong tempat mereka bertanding tadi.
Dua orang laki-laki berpakaian hitam mendekati laki-laki paruh baya tadi. Kedua laki-laki tersebut membungkuk lalu mengangkat mayat laki-laki yang perutnya tertusuk pisau tadi.
Kedua laki-laki tadi berjalan dengan mengangkat mayat di kedua tangan mereka. Laki-laki paruh baya yang sebelumnya, masih berdiri di tengah-tengah lapangan itu. Sesekali dia berteriak lantang dengan sebuah benda terbuat dari kayu berbentuk corong meminta semua orang untuk tenang.
Haruki menarik tanganku, aku berbalik seraya kedua kakiku berjalan mengikutinya. Dia duduk di bangku panjang terbuat dari tanah yang ada di tempat ini, kugerakkan tubuhku ikut duduk di sampingnya seraya tanganku meraih Cia yang masih berada di gendongan Izumi.
"Peserta selanjutnya, Tiebout."
Laki-laki paruh baya tadi mengangkat sebelah tangannya. Seorang laki-laki bertubuh besar, berkulit gelap dengan rambut hitam tergerai hingga ke bahu berjalan mendekatinya. Seluruh tubuhnya dipenuhi bekas luka, dan tentu saja... Dia hanya memakai sehelai kain yang diikatkan di tubuh bagian bawahnya.
"Kami akan mencari lawannya dari para penonton. Pemenangnya akan mendapatkan uang dari kami, tapi jika diantara kalian kalah! Kalian harus menjadi budak sang pemenang, angkat tangan kalian yang ingin bertarung!" Teriak laki-laki paruh baya tadi seraya mengangkat sebelah tangannya.
"Laki-laki itu," ucap Mas'ud terdengar.
"Apa kau mengenalnya?" Sambung Izumi melirik ke sebelah kirinya.
"Dia, salah satu dari komplotan yang menyerang desaku," ucap Mas'ud kembali dengan suara bergetar.
"Apa kau yakin?" Tukas Izumi lagi padanya.
"Aku tidak menyangka akan menemukan salah satu dari mereka secepat ini," ungkap Izumi beranjak berdiri.
"Izumi," ucap Haruki yang dibalas lirikan dari Izumi padanya.
"Patahkan saja tulang-tulang tubuhnya, pastikan... Kau jangan membunuhnya."
"Aku mengerti," ungkap Izumi berjalan menjauhi kami.
Izumi mengangkat sebelah tangannya diikuti teriakannya yang menarik perhatian laki-laki paruh baya tadi. Beberapa pandangan langsung tertuju ke arah Izumi yang berjalan semakin mendekati arena pertarungan.
"Tiebout, ternyata masih ada orang bodoh yang ingin menantangmu."
"Dia benar-benar sudah ingin mati," ucapan-ucapan itu kerap kali terdengar diikuti suara tawa yang menjijikan terdengar.
"Kau dilarang mengikuti pertarungan sebelum memberikan uang untuk hiburan," ucap laki-laki paruh baya tadi yang samar terdengar di telinga.
"Aku yang akan membayar semua uangnya," ucap Haruki lantang dengan sebelah tangannya terangkat ke atas.
Seorang laki-laki berkepala botak berjalan mendekati kami, Haruki menggerakkan tangannya merogoh ke dalam tas besar yang di tinggalkan Izumi di sampingku. Diambilnya satu buah kantung kecil dari dalam tas tadi seraya dilemparkannya kantung tersebut kepada laki-laki botak tadi.
"Apakah itu cukup?" Ucap Haruki saat laki-laki tersebut mengarahkan pandangannya ke dalam kantung tadi.
Tanpa menjawab pertanyaan Haruki, laki-laki tersebut berbalik dan berjalan mendekati arena pertarungan. Dia mengangguk ke arah laki-laki paruh baya yang berdiri di samping Izumi tadi, tampak laki-laki paruh baya tersebut ikut membalas anggukan dari laki-laki berkepala botak tadi.
"Baiklah, namamu?" Ucap laki-laki tadi berbalik menatap Izumi dengan sebelah tangannya mengarahkan corong pengeras suara yang ia pegang mendekati wajahnya.
"Baiklah, kita akan menyaksikan pertarungan antara Tiebout dan juga Dante. Kami membuka taruhan sebelum pertarungan di mulai, jadi yang ingin bertaruh... Kami persilakan," ucap laki-laki tersebut kembali.
"Dante?" Ucapku pelan dengan sesekali kutepuk-tepuk pelan kepalanya Cia.
"Kau yang disana! Kemarilah! Aku ingin bertaruh," teriak Haruki ke arah seorang laki-laki yang membawa kotak kayu di dadanya.