Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLXIII


Aku menggerakan kaki merangkak keluar dari dalam tenda, suara riuh dari luar membuatku yang sebelumnya tertidur sedikit terusik. Kugerakan tubuhku beranjak berdiri, “apa yang terjadi?” Aku bertanya pada salah satu Kesatria yang lewat.


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Hime-Sama,” Kesatria tersebut menjawab pertanyaanku saat dia kembali beranjak berdiri setelah membungkuk ke arahku sebelumnya. “Benarkah?” Aku kembali bertanya untuk memastikan.


“Itu benar,” ucap Kesatria itu kembali, “Hime-Sama, jika tidak ada … Bisakah?” Kesatria tersebut kembali bersuara dengan sedikit ragu, kubalas perkataannya tadi dengan anggukan kepala yang aku lakukan.


Aku kembali melangkahkan kaki saat Kesatria tadi melangkah pergi menjauh. Langkah kakiku terhenti saat Gritav tengah berdiri dengan kedua tangannya memegang busur panah milikku, “Gritav,” ucapku memanggilnya saat kutatap dia yang masih terfokus menarik-narik tali yang melekat di panahku tadi.


“Apa yang kau lakukan?” Tanyaku saat aku telah berdiri di sampingnya, “aku hanya sedang memastikan tali pada busur panahmu ini saja Hime-Sama. Jika ada yang salah dengan busurnya, aku akan segera memperbaikinya,” ucapnya, Gritav kembali mengalihkan pandangan matanya ke arah busur panahku tersebut.


“Bagaimana dengan keadaan di benteng?” Aku kembali bertanya, kugerakan kedua kakiku melangkah mendekati tabung kayu berisi penuh anak panah yang bersandar di samping kaki meja kayu. “Semuanya masih aman terkendali. Busur panahmu, Hime-Sama,” ucap Gritav, diarahkannya busur tadi ke arahku.


“Terima kasih,” sambungku kepada Gritav, kuraih busur anak panah tadi saat tabung berisi penuh anak panah tersebut telah menggantung di punggungku.


Langkah kakiku kembali bergerak meninggalkan tempat tadi, aku sedikit berusaha melirik ke belakang, ke arah Gritav yang juga telah melangkahkan kakinya di belakangku. Aku menatap ke sekitar, semuanya menghening … Bahkan beberapa dari mereka, ada yang berbisik satu sama lain. Langkah kakiku semakin bergerak cepat menaiki tangga, sama seperti ketika di bawah. Beberapa dari Kesatria tersebut menatap ke arah pasukan musuh dengan mulut-mulut mereka yang sedikit terdengar berbisik.


“Apa yang sedang kalian lihat?”


Aku bertanya pada empat orang Kesatria yang sedang sibuk menatapi pasukan musuh, “Hime-Sama,” ucap para Kesatria itu bergantian diikuti mereka yang membungkukkan tubuhnya ke arahku, “apa yang tengah kalian diskusikan dari tadi?” Aku kembali bertanya kepada mereka.


“Kami hanya merasa aneh pada pasukan musuh, jumlah mereka hari ini berkurang banyak dari kemarin dan juga … Mereka sama sekali tidak melakukan perlawanan,” ucap salah seorang Kesatria itu kepadaku.


“Begitukah?” Aku bergumam seraya kugerakan tubuhku berbalik menatap para pasukan musuh.


Kedua kakiku melangkah maju, kedua mataku masih menatapi para pasukan musuh tersebut, sembari kedua tanganku bergerak menggenggam kuat busur panah milikku. “Gritav, perintahkan para pasukan untuk tetap berada di posisi mereka masing-masing. Katakan kepada mereka untuk tidak lengah, karena kita tidak tahu rencana apa yang akan dilakukan para pasukan musuh,” ucapku tanpa menggerakan kepala menoleh ke arahnya.


“Sesuai perintah darimu, Hime-Sama,” suara Gritav terdengar di belakangku diikuti juga suara langkah kaki yang berjalan menjauh.


Aku berdiri dengan mencengkeram sebelah lenganku yang lain, kedua mataku bergerak melirik ke samping kiri tatkala para Kesatria yang tengah berjalan menempati posisi mereka masing-masing menimbulkan suara yang sedikit mengusik telinga. Kugerakan kepalaku sedikit mendongak ke atas, sinar mentari yang mulai terbit membuat langit yang semula menggelap berangsur-angsur menerang.


“Sepertinya, aku pikir mereka menggunakan taktik yang sama dengan apa yang mereka lakukan kemarin kepada kita. Mereka ingin mencari, benteng mana yang bisa ditembus … Apakah Timur? Barat? Selatan? Ataukah kita yang berada di Utara.”


“Akan tetapi, membiarkan para pasukan kita lengah juga tidak bagus untuk kita. Entah, tipu muslihat apa yang akan mereka gunakan. Semoga saja, para pasukan kita yang menjaga benteng lain dapat menghalau mereka semua,” sambungku kembali mengarahkan pandangan ke arah pasukan musuh.


“Kau benar, Hime-Sama,” suara Gritav yang berdiri di belakang mengiringi perkataanku.


__________________


Matahari semakin menyembunyikan sosoknya ke arah Barat, meninggalkan bias-bias Jingga yang memenuhi langit. Angin sore yang berembus menampar sedikit wajahku diikuti terompet pertanda hari berakhir berbunyi. Pasukan musuh masih terdiam, mereka tidak beranjak dari tempat mereka, “Hime-Sama,” suara laki-laki kembali terdengar di telinga.


Aku berbalik menatap Gritav dan juga Adofo yang telah berdiri di hadapanku bergantian, “aku mengerti,” ucapku kepada mereka sambil berjalan melangkah pergi.


Kedua kakiku berjalan menyusuri anak tangga, kugerakan pandangan mataku yang sebelumnya tertunduk ke arah pasukan kami yang tengah membungkukan tubuh mereka ke arahku. Aku mengangguk sekali ke arah mereka sebelum kembali melanjutkan langkah mendekati tenda milikku. Tangan kiriku bergerak menyingkap kain tirai yang menutupi tenda, kuletakan busur berserta tabung kayu berisi anak panah di dekat tirai tadi sebelum aku merangkak memasuki tenda.


Kugerakan tubuhku berbaring, beralaskan sebuah kain dengan lipatan kain yang lain, yang aku gunakan sebagai bantal. Kedua mataku menatap kosong ke kain merah yang menjadi atapku bernaung itu, aku menghela napas dalam seraya tanganku bergerak menggenggam kalung pemberian Zeki yang ada di leherku.


“Hime-Sama, Hime-Sama,” suara yang memanggil itu mengetuk-ngetuk telingaku, kugerakan kedua mataku terbuka perlahan, “ada apa?” Tanyaku dengan suara yang terdengar parau.


“Aku membawakan makanan dan juga air untukmu,” ucap suara Gritav yang ada di balik tirai, “letakan saja di depan, aku akan mengambilnya,” ucapku tertunduk dengan kedua tangan mengusap mata. “Baiklah, aku akan meletakannya di sini,” ucapnya lagi, kutatap bayangan tubuhnya yang membungkuk sebelum beranjak berdiri lalu melangkah pergi.


Aku menggerakan tubuhku merangkak, mendekati pintu tirai. Kugerakan tangan kananku menyingkap kain tirai yang menutupi tendaku sebelum menggerakan tubuh kembali merangkak. Gerakanku terhenti, aku duduk di depan tendaku dengan kedua tanganku meraih mangkuk berisi sup yang masih mengepulkan asap tipis.


“Sup lagi?” Aku bergumam diikuti tangan kananku meraih sendok yang ada di dalamnya.


Kugerakan sendok tersebut berputar hingga sup tersebut membentuk suatu pusaran kecil, kuangkat sedikit sup tersebut menggunakan sendok yang aku genggam seraya kuembuskan sedikit napasku di atasnya hingga asap putih yang mengepul di atasnya itu sedikit bergoyang. Kuarahkan sendok tersebut mendekati bibirku hingga sup yang ada di dalamnya jatuh semuanya, mengalir di dalam mulutku.


Kuangkat kepalaku menatapi para pasukan kami yang tengah bercengkrama satu sama lain di depan api unggun, tawa yang mereka keluarkan memenuhi udara malam yang menusuk dingin. Pandangan mataku kembali mengarah pada mangkuk sup yang ada di atas pahaku, “aku ingin makan malam bersama kakakku lagi,” ucapku kembali mengangkat sendok berisi sup lalu menyeruputnya pelan.