
Laki-laki tadi berjalan di depan kami, kuda cokelat yang aku tunggangi ikut berjalan pelan mengikuti langkah kakinya. Tanah berpasir yang menghampar tampak meninggalkan jejak-jejak langkah kaki miliknya di sepanjang jalan.
Kutarik penutup kepala yang hampir terjatuh ke belakang, mataku masih tertunduk menatap Cia yang masih mengunyah apel yang ada di tangannya. Udara yang berembus semakin pelan terasa digantikan sinar mentari yang panasnya seakan menyengat kulitku.
Bukankah ada Kou? Pasti itu bukan yang kalian pikirkan. Tapi seperti yang kalian ketahui, menggunakan Kou benar-benar menghabiskan tenagaku, terlebih lagi... Iku akan langsung berisik jika sihir Kou terlalu kuat memenuhi tubuhku.
Aku tidak tahu, apakah ini ada hubungannya dengan mereka yang menjadi hewan pertama dan kedua yang dihormati.
"Sachi," bisik Lux yang terdengar pelan di telingaku, kubalas perkataannya tadi dengan suara batuk pelan yang aku buat.
"Aku merasakan kesedihan, besar sekali. Haruskah kita ke sana? Ini benar-benar menyiksaku," bisik Lux yang kembali terdengar.
Kesedihan kah?
"Lux," balasku berbisik pelan.
"Bisakah kau menahannya. Jika benar itu kesedihan, maka sudah sepantasnya, kita membantu mereka," bisikku kembali seraya kugerakkan kepalaku bergeleng saat mataku tak sengaja bertatapan dengan Haruki yang juga menatapku.
"Aku mengerti," tukasnya kembali dengan sangat pelan.
Laki-laki tersebut tiba-tiba berlari saat kepulan-kepulan asap hitam yang tiba-tiba membumbung. Izumi menggerakkan kudanya berhenti di samping laki-laki tadi, pembicaraan diantara mereka terjadi begitu lama.
Laki-laki tadi bergerak naik lalu duduk di belakang Izumi, Izumi mempercepat laju kuda miliknya menuju ke arah kepulan asap tadi. Kugerakkan tali kekang yang mengikat kudaku itu, kuda tersebut bergerak melaju cepat hingga kepala Cia beberapa kali menabrak dadaku saat tubuhnya terhentak karena kuda yang tiba-tiba bergerak.
Penutup kepala yang menutupi kepalaku terlepas, angin kembali berembus saat kuda milikku berlari cepat menyusul kuda yang ditunggangi Izumi. Mataku terjatuh pada butiran pasir yang terbang saat tapak kaki kuda milik Izumi berlari menginjak tanah berpasir di sekeliling kami.
Tangisan laki-laki tadi tiba-tiba pecah saat semua kuda kami berhenti di sebuah gapura yang terbuat dari tumpukan mayat manusia. Laki-laki tadi melompat turun dari atas kuda, ia berlutut dengan kedua telapak tangannya bergerak menutupi wajahnya.
Tangisan pilu yang ia keluarkan benar-benar sesak di dengar. Izumi menggerakkan kuda miliknya berjalan melewati gapura tadi, tetesan-tetesan darah segar dari tumpukan mayat tadi bergerak membasahi pundaknya.
Aku ikut menggerakkan kuda milikku berjalan melewati gapura tadi. Beberapa wajah mayat yang ikut bertumpuk tadi terlihat mengenaskan dengan kedua bola mata mereka menghilang diikuti mulut yang menganga lebar.
Tubuhku tertegun, mataku sedikit terpejam saat kutatap pemandangan di sekitarku. Rumah-rumah yang ada di sekitar hangus terbakar, aku mengetahuinya dari sisa-sisa puing kayu yang telah menghitam.
Bukan itu yang membuatku ingin mengutuk siapa orang yang melakukannya. Tapi, potongan lidah manusia dan juga bola mata yang menghampar di sepanjang tanah lah yang membuat tubuhku merinding.
Suara tangisan laki-laki tadi kembali terdengar, kutatap dia yang duduk memeluk jasad anak kecil yang hangus terbakar. Jasad tadi terlihat meringkuk dengan kedua tangannya memeluk kedua kakinya.
"Inilah kenapa, aku tidak ingin ke sini," bisik Lux dengan suara bergetar di telingaku.
"Aku, aku memintanya bersembunyi," tangis laki-laki tadi saat Izumi menggerakkan kudanya mendekati laki-laki tadi.
"Aku meninggalkannya untuk mencari bantuan... Puteri ku," tangisnya kembali, dipeluknya erat jasad kecil yang hangus itu.
"Aku Ayah yang tidak berguna, aku bahkan tidak bisa menolong Anakku sendiri. Kumohon Tuan, bunuh saja aku dengan pedang kalian," ucapnya hampir tak terdengar, dibenamkannya kepalanya menyentuh kepala jasad anaknya itu.
"Jika kau ingin mati, setidaknya... Bantu kami terlebih dahulu menguburkan jasad anakmu dan juga mereka semua," ucap Haruki ikut menggerakkan kudanya mendekati laki-laki tadi.
_____________________
Langit menggelap, pakaian yang aku kenakan telah basah oleh keringat. Tiga obor yang kami tancapkan ke tanah tampak apinya bergoyang tertiup angin. Izumi bergerak meletakkan sebongkah batu di atas galian tanah yang ada di hadapan kami.
Sebongkah batu untuk nisan terakhir dari pemakaman yang kami siapkan untuk mereka. Izumi melangkahkan kakinya mendekati kami yang telah duduk beristirahat, pandangan mataku masih terarah pada laki-laki tadi yang duduk meringkuk di samping makam anaknya.
"Apa airnya masih ada?" Ucap Izumi, kugerakkan kepalaku menatapnya yang telah duduk di hadapanku.
Tanganku yang menggenggam kantung kulit berisi air bergerak mendekatinya. Diraihnya kantung kulit yang ada di tanganku tadi olehnya, kedua tangannya bergerak membuka tutup kantung kulit tadi seraya digerakkannya kantung tadi ke atas hingga air yang ada di dalamnya jatuh ke dalam mulutnya.
"Siapa yang tega membantai desa kecil ini," ucap Haruki meletakkan kedua tangannya ke belakang seraya kepalanya mendongak menatap langit.
"Aku tidak tahu, tapi mereka benar-benar keterlaluan," ucap Izumi kembali mengarahkan kantung kulit tadi ke arahku.
"Lux, apa kau baik-baik saja?" Ucapku menatapnya yang tengah duduk di samping tas dengan Uki yang tertidur di dalamnya.
"Aku baik-baik saja, aku hanya sedikit kelelahan," ucapnya tertunduk bersandar pada tas tadi.
"Melihat laki-laki tadi mengingatkanku pada Ayah," ucap Haruki kembali memecah keheningan.
"Mungkin, seperti itulah... Saat Ayah mendapatkan kiriman mayat palsu dari Kaisar enam tahun yang lalu," sambungnya diikuti beberapa kali helaan napas yang keluar.