
Sudah beberapa minggu kami berlayar di lautan, baik Julissa dan Adinata pun telah diantar oleh Aydin kembali ke Kerajaan mereka. Dan selama perjalanan, aku baru tersadar akan kebohongan yang Haruki ucapkan di depan Raja Piotr.
Aydin, memang membawa banyak sekali kapal bersamanya, namun di setiap kapal hanya diisi oleh beberapa puluh pasukan. Saat aku mencoba menanyakan hal itu kepada Haruki, ‘mereka memang tidak membawa banyak pasukan, jika mereka membawa banyak sekali pasukan … Yang ada, mereka akan dikira ingin menyerang suatu Kerajaan selama perjalanan. Raja itu, terlalu bodoh hingga termakan oleh gertakan murahan seperti itu.’ Begitulah, jawaban yang ia lontarkan dulu.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Aku berbalik ketika suara laki-laki terdengar dari arah belakang, “aku, hanya sedang menatap laut. Bagaimana denganmu, nii-chan?” tanyaku dengan kembali melemparkan pandangan ke arah permukaan laut yang ada di belakang.
“Haruki, memintaku untuk menjagamu,” ucapnya, aku sedikit melirik ke arahnya yang telah berdiri di sampingku.
“Nii-chan, apa benar tidak ada yang ingin kau katakan?” tanyaku dengan kembali membuang tatapan ke depan.
“Aku tahu, jika saat-saat seperti ini akan datang. Sachi, walau nanti kau telah menikah, jangan merasa sungkan untuk menceritakan kesusahanmu pada kakakmu ini. Karena mau bagaimanapun, kau tetaplah adikku,” tukasnya, kepalaku sedikit tertunduk saat kurasakan tepukan pelan menyentuh kepalaku.
“Lagi pun, walau kalian menikah, kau masih tetap bersama kami hingga ini selesai. Jadi aku, tidak terlalu sedih,” sambungnya, tubuhku bergerak bersandar di badannya saat kurasakan sesuatu merangkul pundakku.
“Bagaimana denganmu sendiri, nii-chan? Apa kau, tidak berkeinginan untuk menikahinya?”
“Belum untuk sekarang, setidaknya aku harus mendapat restu dari Ibunya. Aku berharap, dapat bertemu dengan Ibunya jika nanti kita berkunjung ke sana,” jawab Izumi, aku melirik ke arahnya yang juga telah melemparkan pandangannya ke laut.
“Jadilah isteri yang baik nanti. Ingatlah, walau kalian telah mengenal sejak lama, kau harus sangat menjaga perasaannya. Jika kau, membuat keluargamu kecewa, walau pelan … Mereka akan tetap memaafkan kesalahan yang kau lakukan. Namun jika itu suamimu, walau kalian terlihat tidak dapat dipisahkan … Dia tetaplah memiliki hak untuk meninggalkanmu jika kau membuatnya kecewa.”
“Aku, mengatakan hal ini, bukan karena ingin menakutimu. Namun, aku mengatakannya agar kau nanti lebih bisa menghormati suamimu. Walau kalian berbeda pendapat kedepannya, tetap hargai pendapatnya itu. Kau mengerti, bukan?”
“Nii-chan,” ucapku sambil memeluk dirinya, “aku tidak yakin, akan bisa menjadi Isteri yang baik-”
“Apa yang membuatmu tidak yakin? Seorang Isteri dan seorang perempuan, bukannya sama? Yang membedakan hanyalah waktu dan kondisi, kau akan terbiasa seiring waktu, lagi pun … Bodoh sekali, jika Zeki menghabiskan waktunya selama ini untuk seorang perempuan yang menurutnya tidak pantas, bukan?”
“Bersiap-siaplah, kita akan segera sampai ke Sora. Perbaiki dandananmu, agar Ayah tidak berat untuk melepaskan Putri kesayangannya,” ucapnya lagi, Izumi melepaskan rangkulannya di pundakku sebelum berjalan meninggalkanku sendirian.
______________.
Aku duduk dengan mengarahkan pandangan ke luar jendela, sesekali aku melirik ke arah Sasithorn yang tertidur di sampingku. Aku melemparkan pandanganku kembali ke arah jendela, “apa masih lama?” tanyaku ke arahnya.
Izumi yang menunggangi kudanya di samping kereta menoleh ke arahku, “apakah masih lama?” Izumi balik bertanya saat tatapannya itu mengarah ke depan.
Aku mengangguk dengan kembali menyandarkan diri sambil memejamkan mata. Kadang kala, suara lonceng terdengar dari luar kereta saat kereta yang kami naiki bergerak cepat dibanding sebelumnya. Aku terus saja memejamkan mata, hingga suara hiruk-pikuk yang terdengar dari luar membuka kembali mataku itu.
Kereta tersebut bergerak semakin cepat dan semakin cepat melewati banyak sekali orang-orang yang berbaris menatap ke arah kami dari samping jalan. Aku menoleh ke arah Sasithorn, “kak, bangunlah! Sebentar lagi kita sampai,” ucapku pelan sambil sedikit menggoyangkan tubuhnya menggunakan telapak tangan.
Sasithorn mengangkat sedikit kepalanya, kedua tangannya terangkat mengusap pelan kedua matanya. Aku menoleh ke samping saat kereta berhenti diikuti pintu kereta yang terbuka. Aku turut beranjak saat Sasithorn yang duduk di sebelahku itu, telah turun dari kereta dengan meraih telapak tangan Duke Masashi yang berdiri di samping kereta.
Duke kembali mengangkat telapak tangannya ke arahku, kuraih lalu kugenggam kuat telapak tangannya itu saat kedua kakiku bergerak turun dari kereta. Aku melepaskan genggaman tanganku pada Duke sebelum berjalan lalu memeluk Ayah yang telah berdiri menunggu dengan Ibu di sampingnya.
“Kau, benar-benar membawa kabar yang sangat mengejutkan untuk kami,” bisik Ayah sambil ikut kurasakan kecupan yang ia lakukan di kepalaku.
“Maafkan aku, Ayah. Namun, menurutku ini yang terbaik untuk kami.”
“Ayah paham,” timpal Ayah, ia tersenyum, melepaskan pelukannya dengan menepuk pelan pipiku.
“Ibu,” ucapku lagi sambil mengangkat kedua tangan memeluknya.
“Ibu sangat terkejut saat mendengar kabar yang dikirimkan kakakmu,” tukasnya pelan, mataku sedikit terpejam saat dia mencium pipiku beberapa kali.
“Kalian semua pasti lelah setelah perjalanan jauh, bukan? Masuklah! Kami semua telah menyiapkan hidangan untuk kalian santap,” ungkap Ayah, dia berbalik dengan melangkahkan kakinya menjauh.
Aku melepaskan pelukanku pada Ibu sambil turut mengikuti langkah Ayah yang membawa kami ke ruang jamuan. Ayah duduk di salah satu kursi diikuti Ibu dan juga Haruki yang duduk di kanan dan kirinya. Aku melangkah mendekati Zeki yang telah menarik sebuah kursi diikuti tatapan matanya yang sebelumnya mengarah kepadaku, “terima kasih,” ucapku setelah duduk di kursi tersebut.
Zeki bergerak, menarik kursi yang ada di sampingku lalu mendudukinya. Kualihkan pandangan mataku, ke arah Izumi yang duduk bersebelahan dengan Sasithorn, kepala mereka berdua tertunduk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. “Jadi Zeki,” aku sedikit terhentak ketika suara Ayah tiba-tiba terdengar memecah keheningan ruangan.
“Kenapa mendadak sekali?” tukas Ayah kembali, aku melirik ke arah Zeki yang masih terdiam membalas tatapan Ayah.
“Tidak ada yang mendadak, aku sudah selalu bersiap untuk menikah dengannya sejak lama,” jawab Zeki, aku melirik ke arah yang lain, mereka pun sama … Tak mengeluarkan suara apa pun, hanya pandangan mereka saja yang bergantian menatap Ayah dan juga Zeki.
“Pernikahan, bukanlah sesuatu yang bisa dipermainkan. Apa kalian berdua yakin telah siap?”
Bibirku terkatup rapat, jantungku kian berdetak tak karuan. Aku tertegun, mataku melirik ke arah tangan Zeki yang menggenggam erat tanganku, “aku, sekali pun tidak pernah berniat untuk bermain dengan Putrimu. Aku mencintainya, aku ingin menghabiskan usia dengannya. Jadi, berikan kami restu, Ayah,” ucap Zeki menatapnya, genggaman tangannya di tanganku itu semakin menguat tatkala Ayah menghela napas menatapi kami berdua.
“Baiklah, Ayah paham. Makanlah terlebih dahulu, setelah ini … Ikuti Ayah, untuk menerangkan apa saja yang harus dilakukan selama prosesi pernikahan,” ungkap Ayah, Zeki mengangguk pelan, tatapannya beralih kepadaku saat aku tersenyum dengan menepuk pelan punggung telapak tangannya yang menggenggamku itu.