Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCVII


"Aku sebagai pemimpin kelompok yang dipilih langsung oleh Yang Mulia, tidak akan menyetujui rencana ini," ungkap Daisuke, digerakkannya kepalanya menatapi Haruki.


"Apa yang menyebabkan kau tidak menyetujuinya?" sambung Haruki kembali padanya.


"Terlalu berbahaya mengajak Putri juga ikut keluar mencari informasi, aku ingin Putri tetap menunggu kita di sini," ungkap Daisuke seraya diarahkannya pandangannya melirik ke arahku.


"Meninggalkannya sendirian, terlebih lagi di tempat seperti ini, lebih berbahaya untuknya," ucap Izumi, kualihkan pandanganku menatapnya yang juga telah menatapku.


"Kau akan pergi mencari informasi bersamaku Sa-chan, Izumi bersama Eneas, dan Daisuke akan mencari informasi sendirian. Aku tidak ingin ada yang menentang perkataanku," ungkap Haruki yang diikuti dengan anggukan Izumi di sampingnya.


"Kau ingin kita melakukannya sekarang?"


"Jika kalian tidak kelelahan, kita akan langsung memulainya hari ini," sambung Haruki kembali menimpali perkataan Izumi padanya.


__________________


"Sa-chan, jangan berjalan terlalu jauh dariku," ucapnya seraya kuikuti langkah kakinya yang telah berjalan di hadapanku.


Kualihkan pandanganku ke sekitar, pandangan mataku tertuju pada seorang laki-laki yang terlihat berguling-guling di hadapan seorang laki-laki bertubuh besar yang pernah aku lihat ketika menaiki tangga di penginapan sebelumnya.


Sesekali laki-laki yang berguling-guling tadi menggenggam kedua lengannya erat. Beranjak ia merangkak mendekati laki-laki bertubuh besar tadi, berkali-kali tubuh laki-laki itu ditendang menjauh oleh laki-laki bertubuh besar tersebut ke belakang.


Haruki menarik tanganku ke depan, kuikuti langkah kakinya yang menuntunku itu semakin mendekati kerumunan yang mengelilingi kedua laki-laki tadi. Laki-laki kurus itu kembali jatuh tersungkur beberapa kali diterjang oleh laki-laki bertubuh besar tersebut...


"Berikan! Berikan! Berikan benda itu!" Teriak laki-laki bertubuh kurus tersebut, bergerak kembali ia merangkak mendekati laki-laki bertubuh besar tersebut.


"Jika kau tidak punya uang untuk membelinya, menyingkirlah!" balas laki-laki bertubuh besar itu berteriak, kembali digerakkannya kaki kanannya menerjang tubuh laki-laki kurus itu.


"Aku membutuhkannya! Aku membutuhkan benda itu!" Teriak laki-laki bertubuh kurus itu kembali, bergerak merangkak kembali ia merangkul kaki laki-laki bertubuh besar tersebut.


"Berisik!" Laki-laki bertubuh besar itu kembali mengeluarkan suaranya yang semakin meninggi, digerakkannya tangan kirinya meraih kapak besar yang tertancap di samping tubuhnya.


Kapak besar tersebut bergerak cepat mendekati leher laki-laki bertubuh kurus tersebut, pandangan mataku membesar tatkala kepala laki-laki bertubuh kurus tadi jatuh ke samping.


Laki-laki bertubuh besar tadi melangkah maju, diinjaknya tubuh laki-laki kurus yang tergeletak di hadapannya itu. Beberapa orang yang berkerumun di hadapannya langsung meminggirkan tubuhnya dalam sekejap...


Kualihkan pandanganku menatap kapaknya yang masih mengalirkan sisa-sisa darah laki-laki kurus tadi. Menoleh aku ke samping menatap Haruki yang masih menatapi tubuh laki-laki kurus itu...


"Nii-chan," ungkapku seraya kugerakkan tanganku meraih lengannya.


"Ada apa?" ungkapnya menoleh menatapku.


"Kita harus mengikuti laki-laki itu nii-chan, aku pikir yang dimaksudkan laki-laki kurus itu adalah serbuk yang dimaksudkan," ungkapku berbisik pelan mendekatinya.


"Kau yakin?" sambungnya berbisik padaku.


"Apa kau ingat nii-chan bagaimana kondisi laki-laki tadi, itu adalah salah satu dari tanda-tanda jika mereka kecanduan. Benda yang dimaksudkan itu membuat kecanduan, jika tak mengonsumsinya atau mengurangi kadar konsumsinya, pemakainya akan mengalami hal seperti yang dialami laki-laki tersebut," ungkapku pelan seraya kutarik lengan Haruki berjalan mengikuti.


"Berjalanlah di belakangku Sa-chan, pastikan kau jangan terlalu jauh dariku," ucap Haruki, kurasakan genggaman di lenganku. Berbalik aku menatapnya, digerakkannya kepalanya sedikit ke samping beberapa kali seakan memintaku untuk menyingkir dari hadapannya.


Kulangkahkan kakiku berjalan melewatinya, bergerak aku berdiri di balik punggungnya. Haruki melangkahkan kakinya mengikuti laki-laki bertubuh besar yang sosoknya masih dapat kami lihat dari jarak yang sedikit jauh...


Kedua kakiku bergerak mengikuti langkah kakinya, ke kiri dan ke kanan menyelip di antara kerumunan manusia yang juga berjalan memenuhi jalan. Kuarahkan telapak tanganku menggenggam lengan Haruki, langkah kaki kami berdua semakin cepat dan semakin cepat membelah kerumunan berusaha mengejar laki-laki bertubuh besar tersebut.


Laki-laki itu menghentikan langkah kakinya, Haruki menarikku ke samping mendekati sebuah pedagang yang tengah menyusun buah-buahan dagangan miliknya. Kulirik laki-laki bertubuh besar tadi, tampak terlihat dia menggerakkan kepalanya ke kanan dan juga kiri berusaha mencari sesuatu...


Melirik aku ke arah kiri, tampak seorang laki-laki bertubuh besar lainnya dengan kulit hitam berjalan mendekati laki-laki tadi. Laki-laki berkulit hitam tadi menepuk pelan pundak laki-laki tadi, menoleh laki-laki bertubuh besar sebelumnya ke arahnya.


Lama mereka berbincang satu sama lain sebelum bergerak mereka berdua berjalan ke arah kanan. Kembali kurasakan tarikan pelan di tanganku, langkah kakiku semakin cepat mengimbangi langkah kaki Haruki yang semakin mengejar kedua laki-laki tadi...


Mereka berdua memasuki lorong sempit menurun yang terhimpit oleh dua bangunan tua di sudut pasar, kutatap mereka berdua yang melangkah masuk semakin ke dalam hingga gelapnya keadaan sekitar menyelimuti seluruh tubuh mereka...


"Sa-chan."


"Aku mengerti nii-chan, aku tidak akan membebani dirimu," ungkapku membalas perkataannya, kualihkan pandanganku menatapnya yang juga telah menatapku.