Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXXXIV


"Sachi... Sachi!"


Teriakan Julissa di sampingku membuat tubuhku terhentak, menoleh aku ke arahnya yang juga telah menatapku dengan kedua tangannya yang menggenggam lengan kananku.


"Ada apa?"


"Aku memanggil namamu berulang-ulang. Apa terjadi sesuatu padamu?" ucapnya lagi, diangkatnya kedua telapak tangannya tadi memegang pipiku.


"Julissa, katakan!"


"Katakan apa?"


"Bagaimana perasaanmu saat kau men- mencium Adinata," ungkapku, kualihkan pandanganku darinya.


"Apa kau gila? Bagaimana mungkin aku mampu melakukannya? Berdiri di sampingnya saja membuat dadaku tak beraturan," ucapnya, kugerakkan kembali kepalaku menatapnya.


"Tapi..."


"Tapi apa?" ucapnya lagi memotong perkataanku.


Zeki sialan! Aku benar-benar ditipunya kali ini.


"Bukan apa-apa, anggap saja... Pertanyaan tersebut tidak pernah muncul," balasku seraya kugerakkan tubuhku berbaring di kasur.


"Kau aneh sekali, Sachi. Jangan katakan?" ungkapnya menatapku dengan telapak tangan kanannya menutup mulutnya.


"Kalian melakukannya?" ucapnya lagi, bergerak ia ikut berbaring di sampingku.


"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," ungkapku seraya kuraih ujung selimut berwarna putih itu semakin menutupi tubuh.


"Aku tahu, pasti terjadi sesuatu pada kalian berdua. Zeki laki-laki yang baik untukmu, buktinya saat kau menghilang dia masih menunggu... Bahkan dia memintaku untuk memberikan kabar apapun yang aku ketahui jika itu menyangkut tentangmu, sebagai teman... Aku sama sekali tidak keberatan jika kau bersama dengannya," ucap Julissa, kuarahkan pandanganku padanya yang telah berbaring menyamping membelakangiku.


____________________


"Sachi, apa yang kau lakukan?"


"Julissa, bantu aku mengikat rambutku," ucapku, seraya tetap kuarahkan pandanganku menatap cermin yang ada di samping.


"Kau ingin aku menata rambutmu seperti apa?" ungkapnya, kutatap bayangannya yang dari cermin yang terpantul di hadapanku.


"Hanya jepitkan saja," ungkapku, kuarahkan sebuah jepitan terbuat dari kayu ke arahnya.


Kutatap Julissa yang mengarahkan pandangannya ke rambutku, kurasakan jari-jemarinya menyisir pelan rambut cokelat bergelombang yang aku miliki...


"Aku telah melakukannya, cepatlah... Calon Isteri Danurdara akan segera sampai," ucapnya, kurasakan tepukan pelan di punggungku olehnya.


Beranjak berdiri aku mengikuti langkah kaki Julissa yang lebih dulu berjalan meninggalkan kamar, kulangkahkan kakiku menyusuri lorong Istana...


"Aku pergi dulu Sachi," ucap Julissa berjalan meninggalkanku, kualihkan pandanganku pada Zeki yang telah berdiri bersandar di dinding lorong Istana dengan kedua lengan disilangkannya ke dada.


"Kau lama sekali," ungkapnya menoleh ke arahku, digerakkannya tubuhnya berjalan mendekati.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Menunggumu tentu saja, bagaimana jika Putri Khang itu menamparmu lagi?" ucapnya kembali, kutatap dia yang telah berdiri di hadapanku.


"Apa kau pikir dia bisa melakukan sesuatu padaku?" ucapku seraya kulangkahkan kedua kakiku berjalan melaluinya.


"Apa terjadi sesuatu?"


"Kau menipuku bukan?" ucapku, kuhentikan langkahku berbalik menatapnya.


"Julissa mengatakan jika dia tidak pernah..." ucapku terhenti, kuangkat kedua telapak tanganku yang tergenggam ke atas.


"Aahh, aku tidak menyangka kalau akan ketahuan secepat ini," balasnya, dialihkannya pandangannya dariku seraya sebelah tangannya menggaruk-garuk pelan bagian belakang kepalanya.


"Dan kenapa kau terlihat sangat bahagia sekali?" ucapku seraya tersenyum aku menatapnya.


"Karena pikiranku terasa cerah kembali setelah melakukannya," ungkapnya, kuarahkan pandanganku mengikutinya yang berjalan melalui.


"Kau menjengkelkan sekali," ucapku, ikut kugerakkan kedua kakiku mengikuti langkahnya.


"Katakan, apa kau sama sekali tidak menikmatinya?" tukasnya, kuhentikan langkahku saat dia berbalik dan berjalan mendekati.


"Me- Menikmati apa yang kau maksudkan?" sambungku, kulangkahkan kedua kakiku berjalan mundur tanpa sadar menghindarinya.


"Apa kau ingin mengulanginya lagi untuk memastikan?" ucapnya semakin berjalan mendekat, kualihkan pandanganku menatapnya yang tersenyum menatapku.


"Apa yang kalian berdua lakukan?" terdengar suara Adinata, menoleh aku ke belakang melihatnya yang tengah berjalan berdampingan dengan Raja Bagaskara.


"Salam," ucapku, kugerakkan tubuhku membungkuk ke arah Raja Bagaskara.


"Bagaimana keadaanmu?" ucap Raja Bagaskara, beranjak kembali aku berdiri menatapnya yang juga telah berdiri di hadapanku.


"Aku baik-baik saja, terima kasih karena telah sudi mengkhawatirkanku," ungkapku balas tersenyum padanya.


"Kau membawa kemenangan besar untuk kami, katakan! Apa yang kau inginkan sebagai hadiah?" ucapnya, kualihkan pandanganku padanya yang juga telah melanjutkan melangkah.


"Apa aku bisa mendapatkan apapun?"


"Asal kau tidak menginginkan posisiku sebagai Raja, aku akan memberikan apapun. Bagaimana dengan calon suami? Aku mempunyai keponakan yang tampan, dan dari kabar yang aku dengar kau sedang tidak bertunangan dengan siapapun," ucapnya lagi padaku.


"Maafkan aku Paman, tapi dia milikku. Namaku ada di belakang telinganya, selama namaku ada di sana, aku tidak akan memberikannya pada siapapun," terdengar suara Zeki diikuti sebuah lengan melingkar di leherku.


"Begitukah?"


"Haruskah aku menyiapkan pesta pernikahan untuk kalian berdua juga?" sambung Raja Bagaskara ikut menatap kami.


"Itu ide yang ba..." perkataan Zeki terhenti, kuangkat kembali kakiku yang menginjak kuat kakinya tadi.


"Abaikan apa yang dia katakan Paman," ucapku, kuangkat lengan Zeki tadi ke atas seraya melangkah aku meninggalkannya.


"Berbicara tentang hadiah..." ucapku lagi, kuangkat telapak tanganku yang tergenggam mendekati mulut seraya sekali-sekali keluar suara batuk yang mengikuti.


"Aku ingin sekali mengoleksi banyak dan banyak sekali perhiasan dari seluruh negeri, kalau kau tak keberatan Paman..."


"Tentu, aku telah menyiapkan banyak sekali perhiasan untukmu," ucapnya, yang tersenyum dengan sesekali menganggukkan kepalanya padaku.


"Terima kasih Paman, kau memang yang terbaik," ungkapku balas tersenyum menatapnya.


"Tunanganmu sangatlah mengerikan Zeki."


"Apa kau baru menyadarinya," sambung Zeki membalas bisikan Adinata yang tak sengaja terdengar, menoleh aku kebelakang menatap mereka yang telah mengalihkan pandangan ke arah kanan dan kiri tubuh mereka.


"Calon Isteri Putraku, dan seorang tamu kehormatan telah datang," ucap Raja Bagaskara.


Kugerakkan kepalaku kembali menoleh ke arah depan, kutatap banyak sekali kereta-kereta kuda diikuti ratusan Kesatria berbaris di belakangnya. Beberapa Kesatria tersebut sangat tidak asing untukku, baju zirah yang mereka kenakan....


"Ayah," tubuhku tertegun menatapnya yang tengah memeluk dua orang laki-laki di pelukannya, sesekali diciumnya kepala dua laki-laki tadi. Menoleh ia mengikuti suara yang aku keluarkan, lama aku ditatapnya dengan kedua matanya yang memerah.