
“Kak Zeki!”
Aku menghentikan langkah lalu berbalik ke belakang, ke arah suara Eneas yang terdengar, “Haru nii-san mengatakan, jika kalian berdua harus menunggu kami di luar Istana,” tukasnya, sebelum langkahnya berlanjut meninggalkan kami.
“Apa kau sudah lebih tenang? Kau, menyakiti tanganku.”
Dia melirik ke arah tangannya yang mencengkeram kuat pergelangan tanganku itu, “maafkan aku,” tukasnya diikuti cengkeraman tangannya padaku itu terlepas.
Zeki mengangkat kepalanya dengan embusan napas kuat yang mengiringi, “apa kau terluka? Beraninya dia melemparkan cangkir tersebut ke arahmu, aku benar-benar ingin sekali membunuhnya tadi,” ucapnya geram, ia mengepalkan kedua tangannya itu dengan kuat saat mataku itu melirik ke tangannya.
“Maafkan aku, ini tidak akan terjadi … Jika saja aku tidak menggodanya-”
“Kau menggodanya?”
“Aku memang menggodanya, tapi itu bukan karena aku ingin.”
Kepala Zeki kembali mendongak diikuti helaan napas yang ia lepaskan, “aku suamimu! Suami mana yang bisa menerima kalau Istrinya menggoda laki-laki lain!”
“Sudah saya duga!”
Aku menoleh ke arah suara perempuan yang berbicara dari arah samping, “sudah saya duga jika engkau menggoda adik kami. Pantas saja ketika itu, saya melihat kalian berdua keluar dari kamar yang sama-”
“Adikmu yang menyelonong masuk ke dalam kamarku, bukan aku yang memintanya datang. Apa kau paham?!”
“Apa maksudnya? Jelaskan kepadaku, Sachi!”
Aku menarik napas kuat saat tatapan matanya itu tak berkedip menatapku, "saat kami menginap di rumah Duke, laki-laki tersebut berjalan masuk begitu saja ke dalam kamar … Tapi percayalah, aku justru langsung keluar dan tidur di kamar yang ditempati saudara-saudaraku. Kau bisa bertanya kepada Lux jika ingin memastikannya."
“Lagi pun, omong kosong apa lagi ini? Untuk apa aku mencari laki-laki lain, jika suamiku saja sudah sangat memuaskanku! Jika kau, rubah! Berniat untuk mencari simpati dari suamiku … Enyahlah! Karena aku bersumpah! Akan memotong benda miliknya itu, jika sampai dia berdiri hanya karena perempuan penjilat sepertimu!”
“Apa yang kau tertawakan? Apa kata-kata dariku terdengar lucu di telingamu?!”
"Bahkan saat marah pun, kau terlihat menggemaskan," balasnya, hidungnya kembang-kempis, mulutnya terkatup mencoba untuk menahan tawa.
"Dia mencoba menjatuhkanku di depan suamiku sendiri. Hatiku panas walau tanpa melihat wajahnya, apa kau tidak bisa berhenti tertawa?!" bentakku kembali dengan mengalihkan pandangan ke arah Zeki yang tertawa dengan menundukkan kepalanya.
Zeki melangkah maju, dengan sesekali menggigit bibirnya yang bergetar menahan tawa, “kau membuatku tidak bisa berlama-lama marah. Lucu sekali,” tukasnya yang mengangkat tangannya memeluk tubuhku.
“Aku pikir Luana hidup kembali, tapi sepertinya kau orang yang berbeda. Aku tidak tahu apa tujuanmu, tapi aku sangatlah mengenalnya … Baik ketika dia berbohong, ataupun jujur. Aku akui, jika dia sangatlah menarik perhatian laki-laki … Bahkan sebelum menikah pun, sudah banyak laki-laki yang jatuh kepadanya.”
“Dia memilih menikah denganku. Itu berarti, jika aku menjadi yang terbaik dari laki-laki terbaik yang berusaha untuk mendapatkannya. Lagi pun, apa yang dapat dibanggakan dari adikmu itu? Jika dia seorang Putra Mahkota, maka aku seorang Raja … Jadi mustahil, Istriku yang gila harta ini, akan tertarik dengannya,” tukas Zeki diselingi kecupan yang ia lakukan di keningku.
"Dan juga, aku telah membuat seluruh bagian dari tubuhnya ini takluk kepadaku. Laki-laki manapun, tidak akan bisa merebutnya," ucapnya lagi, diikuti kecupannya yang telah berpindah di ujung mataku.
“Siapa dia?” sambung Zeki kembali saat Alana telah pergi meninggalkan kami berdua.
Aku melangkah dengan menarik tangannya agar mengikutiku, “dia Alana, saudari kembarnya Luana. Aku, melakukan semua itu karena ingin menggali informasi tentangnya,” tukasku, langkah kaki kami berdua terus berlanjut hingga Zeki meminta Kesatria untuk membuka gerbang agar kami dapat berjalan melewatinya.
“Lalu, ada apa dengannya?” sahut Zeki, saat kami telah sedikit jauh meninggalkan Istana.
“Seperti Miyuki Sakura, yang terlahir kembali di tubuh Takaoka Sachi … Luana pun, terlahir kembali di tubuh yang berbeda.”
“Apa maksudmu?”
“Maafkan aku, Zeki … Maaf, karena aku tidak sampai berpikir untuk menghargai perasaanmu sebagai suamiku. Tapi, aku mengetahui jika sang anak selamat, aku mengetahui jika jiwa sang ibu berada di tubuh perempuan lain … Aku hanya ingin menyatukan keluarga mereka. Aku-”
“Aku mengerti garis besarnya, tapi setelah ini. Pikirkan baik-baik sebelum melakukan apa pun, pikirkan juga risikonya. Tingkah ceroboh yang kau miliki ini, seringkali membuatku cemas.”
“Kau pun sama cerobohnya, jadi kita berdua sama dalam hal ini,” timpalku sembari menggerakkan tubuh semakin mendekatinya sebelum kupeluk tubuhnya itu dari samping.
“Apa kau tidak membenci bau tubuhku lagi?”
“Aku masih membencinya, tapi rasa sayangku mengalahkan segalanya,” tukasku sambil mencium lengannya sebelum melepaskan rangkulanku kembali dari tubuhnya.
“Jangan terlalu menggodaku … Demi anak kita, aku berusaha keras mengendalikan diri,” tukasnya dengan merangkulkan lengannya di pundakku.
“Aku harap dia akan memiliki mata besar dengan bulu mata yang lebat seperti Ayahnya. Aku benar-benar menyukai matamu itu,” ucapku sambil mengangkat jari mengusap samping matanya tersebut dengan pelan.
“Hanya mata?”
“Tentu saja semuanya. Bersabarlah untuk beberapa bulan kedepan, saat aku rasa dia sudah cukup kuat … Aku, akan melayanimu kembali sebagai seorang istri.”
“Beruntung, kita ada di tengah kota. Jika tidak, entah apa yang akan aku lakukan." Aku tertawa kecil saat mendengar apa yang ia katakan.
“Kou, datanglah! Aku membutuhkan bantuanmu! Aku menunggumu di hutan yang sebelumnya kita datangi,” tukasku pelan sebelum Zeki menarikku ke samping … Ke arah seorang laki-laki dengan banyak sekali buah-buahan yang disusun rapi di hadapannya.
“Apa ada yang kau inginkan?” tanyanya yang menoleh ke arahku saat langkah kaki berhenti di hadapan pedagang tersebut.
“Apa ya? Aku ingin yang berair, rasanya aku haus sekali sekarang,” tukasku dengan melirik ke satu per satu buahan tersebut.
“Apa ini Anggur?” gumamku sambil menatap buah kecil yang ada di samping barisan jeruk.
“Itu Jaboticaba,” jawab pedagang itu singkat.
"Jaboticaba?"
“Baiklah, aku ingin ini, dan air kelapa tentunya,” lanjutku yang tersenyum membalas tatapan Zeki.
“Berikan yang dia inginkan!” pinta Zeki kepada pedagang itu.
Zeki memberikan beberapa keping logam kepadanya sebelum kami kembali melanjutkan langkah. Aku berjalan dengan meneguk air kelapa yang dituangkan ke dalam potongan bambu, sambil sesekali aku meraih buah yang ada di dalam kantung kain yang Zeki pegang.
“Rasanya sudah lama sekali, aku dapat makan seperti ini walau hanya buah,” tukasku dengan kembali meneguk air kelapa yang ada di tangan.
“Apa kau menginginkan sesuatu yang lain?”
“Aku ingin menemui seseorang terlebih dahulu sebelum kita pulang.”
“Siapa? Laki-laki?”
Kepalaku menggeleng membalas pertanyaannya, “aku ingin menemui kak Luana. Aku, ingin memberikan titipan Haru-nii kepadanya. Kau akan menemaniku, bukan?”
“Tidak masalah. Laki-laki, kah? Jika aku tidak salah mengingat, anak laki-laki Haruki bernama Hikaru. Aku pernah melihatnya saat aku mendatangi pernikahan Eneas, dia menjadi keponakan yang sangat kau sayangi … Membicarakan nama, sepertinya aku juga harus menyiapkan nama yang bagus-”
Zeki menghentikan perkataannya, dia kembali menoleh ke arahku saat aku menyentuh punggungnya, “jangan terlalu terburu-buru, kita masih memiliki banyak waktu sebelum dia lahir … Aku ingin nama yang indah, pastikan kau memilihnya dengan baik,” ucapku yang tersenyum sebelum meneguk kembali air kelapa di genggaman.