Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXCIX


Tidurku terusik, saat suara ketukan pintu berkali-kali mengetuk telinga. Aku mencoba beranjak duduk, dengan melirik ke arah Lux yang masih terlelap di bantal yang ada di samping. Kedua kakiku terangkat menuruni kasur, meraih sandal yang ada di bawah ranjang sebelum akhirnya berjalan mendekati pintu lalu membukanya.


Kedua mataku sedikit membesar saat pandangan mataku itu terjatuh ke arahnya, ke arah sosok laki-laki yang berdiri di samping pintu kamar, “apa yang kau lakukan? Mengetuk pintu kamar di tengah malam seperti ini, apa kau tidak tahu … Aku baru saja hampir terlelap sebelumnya?” tukasku geram menatapnya.


Aku melirik, ke arah telapak tangannya yang menepuk permukaan pintu, “apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?”


“Apa pertanyaan tersebut penting untukmu? Setelah apa yang kalian perbuat? Pergilah, aku ingin beristirahat.”


Aku tertegun sejenak, ketika dia mendorong pintu kamarku itu hingga menimbulkan suara yang sedikit keras, “aku seorang Putra Mahkota, apa kau lupa? Mungkin di hutan, kau bisa melakukan apa yang kau inginkan, tapi tidak di sini … Di wilayah kekuasaanku,” ungkapnya sambil menyelonong masuk, melewatiku.


“Apa yang kau lakukan? Keluar dari sini!” perintahku sembari menunjuk ke arah luar kamar.


Dia tak menggubris apa yang aku katakan, malah justru duduk di samping ranjang menatapiku. “Kemarilah! Atau kau akan menyesal,” tukasnya seraya menepuk-nepuk kasur yang ada di ranjang.


Aku menghela napas dengan meraih lalu menggenggam erat gagang pintu, “aku tidak akan menyesali apa pun, jika kau menginginkan kamar ini. Pakai saja!” tukasku, aku menutup pintu dengan membantingnya saat lirikan mataku itu terjatuh ke arah bayangan Lux yang telah terbang keluar.


Aku berjalan meninggalkan kamar tersebut dengan Lux yang terbang di atas kepala. Langkah kakiku, terhenti di sebuah pintu … Aku menarik napas sedalam mungkin, sebelum mengetuk kuat pintu tersebut dengan memanggil mereka yang ada di baliknya berulang-ulang, “nii-chan! Eneas! Buka pintunya!” tukasku dengan semakin cepat mengetuk pintu tersebut.


“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”


Aku berjalan sedikit mundur, setelah sosok Izumi berdiri di depan pintu yang aku ketuk, “nii-chan, izinkan aku tidur di dalam,” tukasku dengan berjalan masuk melewatinya.


“Nii-chan, izinkan aku untuk tidur di sini,” ucapku sekali lagi, kali ini pada Haruki yang duduk bersandar di kursi dengan beberapa lembar kertas di tangannya.


“Bukankah mereka telah menyiapkan kamar untukmu? Apa kau tidak menyukainya-”


“Itu karena, Pangeran itu tiba-tiba masuk ke dalam kamar lalu duduk di ranjang yang kami tiduri,” Lux terbang melewatiku dengan memotong perkataan Haruki.


“Apa yang kau maksudkan, Lux?”


“Aku katakan, Pangeran itu menyelonong masuk, bahkan mengancam Sachi untuk menuruti perintahnya.”


“Pangeran sialan itu! Aku harus memberinya pelajaran!”


Kata-kata Izumi yang terdengar, membuat pandangan mataku teralihkan kepadanya. Aku menoleh ke arahnya yang rupanya telah melangkahkan kakinya semakin mendekati pintu kamar, “Izumi!” Langkah kaki Izumi berhenti saat Haruki membuka suaranya.


“Jangan sekarang. Jika kau memang ingin menghajarnya, setidaknya lakukan setelah kita bertemu dengan Raja. Bukan hanya kau, bahkan aku pun … Rasanya ingin sekali langsung mematahkan kedua kakinya. Tapi itu, tidaklah menarik, bukan?”


“Dan untukmu, Sa-chan. Tidurlah di ranjang, aku sudah sedikit memastikan ini akan terjadi dengan apa yang kau lakukan padanya di hutan, jadi aku … Meminta mereka berdua untuk tidak tidur di atas ranjang,” sambung Haruki, dia tersenyum saat aku menoleh ke arahnya.


“Di hutan? Apa yang kau lakukan di hutan?”


“Jangan katakan, jika kau menggodanya?!”


Mataku terpejam, aku menggigit bibirku saat bentakan Izumi, menepuk kuat telingaku, “aku melakukannya, karena ada sesuatu yang ingin sekali aku ketahui. Ini bukan berarti, jika aku senang menggodanya,” tukasku dengan sedikit bergumam, menghindari pandangan dari tatapan Izumi.


“Apa kau lupa, jika kau-”


Aku kembali menarik napas dalam, “aku, tidak punya pilihan selain mencari tahu,” sambungku sebelum akhirnya duduk di samping ranjang, menatapi Eneas yang lelap tertidur di sofa panjang yang ada di kamar.


“Sa-chan!”


Aku kembali mengangkat pandangan ke arahnya saat Haruki memanggil, “apa kau, melakukan apa yang aku perintahkan?”


Keningku mengerut membalas lirikan matanya, “memangnya ada yang Haru-nii perintahkan padaku?”


“Tidak ada, lupakan saja. Tidurlah, ini sudah larut,” ucapnya, yang kembali melemparkan pandangannya ke arah buku yang ada di tangan.


_____________.


Aku duduk di dalam kereta dengan menyandarkan kepala di pundak Haruki yang duduk di sampingku, “nii-chan, apa kau telah membawa tas yang aku tinggalkan di kamar?” tanyaku sambil melirik ke arah Izumi yang duduk di hadapan.


“Aku telah mengambilnya. Beruntung laki-laki itu tidak berada di dalam kamar, jika aku bertemu dengannya saja saat mengambilkan tasmu tadi … Entah apa, yang akan aku lakukan padanya,” geram Izumi sambil menggenggam erat kedua tangannya.


“Terima kasih, nii-chan.”


Aku meringis saat Izumi tiba-tiba mencubit kuat pipiku, “setelah ini, berhati-hatilah berurusan dengan laki-laki. Kau sudah menikah, tapi tetap saja membuatku sangat khawatir,” cubitan Izumi di pipiku terlepas saat dia telah kembali menyandarkan dirinya.


“Nii-chan, apa yang akan kau lakukan jika orang yang kau kenal di kehidupan dulu, tiba-tiba muncul di hadapanmu?”


“Kenapa, kau tidak menanyakan hal tersebut kepada Eneas saja?”


“Nii-chan benar. Jadi Eneas, apa yang akan kau lakukan?”


“Aku tidak akan melakukan apa pun, karena aku tidak mengingat kehidupan di masa lalu … Jadi aku tidak tahu, hal berharga apa yang telah kami lalui saat itu. Jika apa yang nee-chan maksudkan itu adalah Putri Aniela, bagiku dia sekarang hanyalah orang asing yang baru saja aku kenal.”


“Dan juga, aku menjalani hidup yang sekarang, jadi kehidupan lama yang tidak aku ingat. Aku, tidak ingin peduli,” ucap Eneas yang membuatku diam tak bersuara.


“Aniela pasti akan langsung bersedih, jika dia mendengar apa yang kau katakan, Eneas.”


“Aku, hanya ingin bersikap jujur, nee-chan. Karena memang, bagiku sekarang dia sama seperti Putri atau Bangsawan yang sering kali kita temui tiap kali bersinggah. Hanya itu, tidak lebih,” ungkapnya, dengan membuang pandangannya ke arah jendela yang ada di pintu kereta.


“Kenapa, kau menanyakan hal tersebut tiba-tiba, Sa-chan?”


“Entahlah, aku hanya ingin menanyakannya saja,” tukasku dengan membuang pandangan.


“Beberapa minggu kedepan, anak kami akan lahir. Jadi, berikan ini kepadanya dan jelaskan apa yang harus ia lakukan dengan benda itu,” tukas Haruki, dia meraih tanganku dengan meletakkan kelopak bunga kecil dari gelang pemberian kakek.


“Aku, tidak mengerti apa yang Haru-nii maksud-”


“Apa aku harus menjelaskannya? Aku, mendengar pembicaraanmu dengannya di hutan. Aku, memilih untuk mengunjungi Robson, bukan tanpa alasan,” tukasnya, aku masih mematung saat Haruki menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan kedua matanya.