Fake Princess

Fake Princess
Chapter L


Terdengar suara ketukan diiringi pintu yang terbuka pelan, tampak laki-laki yang membukakan pintu untukku tadi telah berdiri di depan pintu. Berjalan ia beberapa langkah seraya membungkuk ia ke arah Raja Ismet...


"Semuanya telah siap, Yang Mulia. Kita bisa langsung memulainya," ucap laki-laki itu kembali


"Semuanya, ikuti aku!" Berdiri Raja tadi dari tempat duduknya, melangkah ia menuju ke arah laki-laki tadi dengan diikuti dari belakang oleh semua orang yang ada di sana.


"Bangunkan anak itu!" Tukasnya seraya berbalik menatap kami, kubalas perkataannya tadi dengan anggukan kepala.


Pintu dibuka kembali oleh laki-laki tadi, Raja keluar diikuti oleh semuanya. Laki-laki tadi masih berdiri di depan pintu yang terbuka dengan menatap kami berdua yang masih terpaku di pojokan...


"Zeki... Bangun!" bisikku seraya menyentuhkan jari telunjukku beberapa kali di dahinya, terbuka kedua matanya pelan.


"Kenapa?" jawabnya malas seraya digosok-gosokkan telapak tangannya ke leher, ditatapnya aku dengan kedua bola matanya yang memerah


"Ayah dan keluargamu telah meninggalkan ruangan, dia menyuruh kita untuk mengikutinya."


"Aahh, merepotkan sekali." tukasnya seraya membalikkan tubuhnya ke samping


"Kau... cepatlah bangun!" ucapku seraya kutarik rambut-rambut halus yang tumbuh di dekat telinganya


"Lihat gaunku, semuanya basah. Teganya kau mengiler di gaun kesayanganku." sambungku seraya menatapnya


"Cerewet sekali." Tukasnya, diambilnya ujung gaunku seraya disapukannya ke kedua ujung bibirnya. Beranjak ia duduk, seraya berbalik menatapku dari jarak yang lumayan dekat.


"Gaunku... Kau." Ucapku seraya kuraih ujung gaunku yang sedikit basah, kualihkan pandanganku padanya


"Kau pun, kenapa tidak berpakaian mencolok seperti para perempuan tadi. Pakaian yang kau pakai ini, sama sekali tidak mencerminkan bahwa kau seorang Putri."


"Itu karena, para Kesatria ku mengatakan bahwa aku sama sekali tidak cocok mengenakan pakaian seperti itu." Tukasku seraya membuang pandanganku darinya


"Hhmm, Tuan, Nona... Silakan." Ucap laki-laki tadi yang masih berdiri di depan pintu menatap kami, diangkatnya kedua telapak tangannya seraya diarahkannya ke arah pintu keluar


"Para Kesatria mu mengatakan hal yang sangat jujur." Ucap Zeki beranjak dan berbalik berjalan menjauh, kucoba beranjak untuk menyusulnya.


"Kau benar-ben..." ucapku terpotong, tubuhku kembali terduduk. Kakiku kesemutan, rasa kebas dan mati rasa menjalar di sekujur pergelangan kakiku...


"Kau kenapa?" ucapnya berbalik dan berjalan mendekatiku


"Kakiku mati rasa. Ini karena kau terlalu lama tidur di pangkuanku, bantu aku berdiri..." Ucapku diiringi ekspresi memohon seraya kuangkat kedua lenganku dan kuarahkan padanya, menghela nafas Zeki sembari menatapku...


"Naiklah!" Ucapnya seraya berjongkok membelakangiku, ditepuk-tepuk bahunya menggunakan telapak tangannya


Kuletakkan kedua lenganku di bahunya, ditariknya kembali kedua lenganku tadi semakin mendekati tubuhnya. Ku lingkarkan kedua lenganku tadi ke lehernya, diletakkannya kedua telapak tangannya tadi menyentuh pahaku yang masih diselimuti gaun. Beranjak ia berdiri dengan aku yang juga berada di punggungnya...


"Sebenarnya apa yang telah kau makan selama ini, tubuhmu berat sekali." Ucapnya seraya berjalan, sesekali ia menoleh menatapku.


"Aku akan membubuhkan racun kedalam makananmu, jika kau tidak segera menutup mulutmu." bisikku pelan padanya


"Jika aku mati sebelum pernikahan kita, kau pun akan mengalami hal yang sama. Apa itu impian terbesarmu untuk mati bersama denganku?"


"Berhenti bercanda." Ucapku seraya kutarik pelan rambutnya


"Hahaha menggodamu memang menyegarkan pikiranku..."


"Aku tunanganmu, mau tidak mau aku harus selalu mendukungmu. Aku telah berjanji dengan meminum darahmu, tiga tahun yang lalu..."


"Ya walaupun sebenarnya aku masih berharap mendapatkan seorang tunangan yang punya senyum memikat dengan rambut panjang yang dikuncir, terlebih lagi tidak memandang rendah para perempuan seperti kami... Berikan aku satu yang seperti itu."


"Begitukah?" ucapnya yang kubalas dengan anggukan kepala


"Bisakah kau meraih rambutku, mereka menutup pandangan mataku." Ucapnya lagi seraya menatap lurus kedepan


"Kau mempunyai sepasang tangan untuk melakukannya sendiri."


"Kedua tanganku sedang gemetaran karena menahan beban yang sangat berat." cibirnya tanpa sedikitpun menoleh ke arahku


"Cih, seperti ini?" tukasku seraya meraih rambut hitamnya dan kugenggam dengan sebelah tanganku


"Bagaimana? Sudah terlihat sangat mirip bukan dengan sosok pria impianmu?" ucapnya menoleh dan tersenyum menatapku


"Jangan bercanda!" kulepaskan genggaman tanganku di rambutnya, kuletakkan telapak tanganku yang lainnya di pipi Zeki seraya kudorong wajahnya menjauhiku.


Apa-apaan ini? Kenapa wajahku terasa panas tiba-tiba. Sadarlah Sachi, jiwamu sekarang berusia dua puluh enam tahun. Kenapa juga kau jadi salah tingkah oleh anak berusia dua belas tahun, sadarlah... sadarlah. Selemah itukah aku dengan laki-laki tampan yang rambutnya dikuncir ke belakang? Tenanglah, tenanglah, tenanglah dan bayangkan Haruki dan Izumi yang selalu membuatmu naik darah...


Kualihkan pandanganku padanya, tertunduk kepalanya menahan tawa. Diturunkannya tubuhku dari gendongannya, berjalan kami berdua beriringan ke sebuah lapangan rumput besar yang dibatasi beberapa bendera Kerajaan Yadgar yang berdiri kokoh...


Tampak Raja Ismet telah duduk di kursi kayu yang berukuran paling besar, dengan Ratu, Pangeran dan para Putri yang juga ikut duduk di kanan dan kirinya...


Para pasangan dari Pangeran dan juga Putri Kerajaan Yadgar tampak ikut duduk di kanan dan kiri mereka. Jauh di sisi kiri terlihat Julissa duduk bersama keluarganya, ditatapnya aku dari jauh seraya dilambaikan tangannya ke arahku yang kubalas dengan lambaian yang sama ke arahnya...


Jauh di hadapan Raja, terlihat para Kesatria dari berbagai Kerajaan berbaris berdiri. Tampak terlihat Tsubaru, Kazuya, Shouta dan para Kesatria lainnya menatap khawatir kepadaku...


"Apa yang terjadi?" Ucapku seraya kualihkan pandanganku pada Zeki yang berdiri di sampingku


"Semenjak semua anak-anaknya telah mendapatkan tunangan, Raja ingin melakukan kompetisi untuk menilai para calon menantunya."


"Kau tidak memberitahuku hal ini sebelumnya?"


"Karena itulah, aku melarangmu untuk datang sebelumnya." Jawabnya tanpa menoleh ke arahku


"Mereka semua menjijikan. Aku benar-benar ingin menghancurkan mereka satu persatu." Sambung Zeki berbisik, digenggamnya kuat kedua tangannya


"Kau telah melakukan yang terbaik selama ini, buktinya hanya dalam tiga tahun kau telah terpilih menjadi wakil kapten bukan?" ucapku, kuraih dan kugenggam telapak tangan kirinya dengan kedua tanganku


"Zeki..."


"Aku akan membantumu membuat seluruh keluargamu bungkam, terlebih lagi si Ratu dan Kakakmu yang menjengkelkan itu... Karena itulah..."


"Berhentilah menyalahkan diri sendiri. Aku menyukai tatapan matamu yang sekarang, tatapan matamu yang sekarang terlihat lebih hidup. Aku tidak ingin tatapan itu mati kembali." Ucapku berdiri dan tersenyum di hadapannya


"Lihatlah siapa yang berbicara, apa kau berpikir bisa mengendalikan ku?" ungkapnya, dicubitnya kedua pipiku dengan sangat kuat.


"Tapi terima kasih, aku sangat-sangat berterima kasih." Dilepaskannya cubitan di pipiku, ditepuknya pelan kepalaku seraya berjalan ia melewati ku.