Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXVI


“Ryu!” Aku sedikit meninggikan suaraku memanggilnya saat kugerakkan kuda yang aku tunggangi itu berlari ke kanan dengan sangat cepat.


“Apa kau ingin aku mengejar mereka?”


“Terlalu berbahaya Lux, lebih baik … Terbanglah mendekati Haruki, jika kami berpencar, kau akan bisa membantu mereka untuk menyusulku,” ucaapku sambil mempercepat laju kuda yang aku tunggangi itu.


“Aku mengerti,” jawab Lux disusul rambutku yang sedikit terkibas ke belakang.


“Putri!”


“Pangeran!”


“Ryu!”


“Sachi!”


Aku tak menggubris panggilan mereka, kudaku terus berlari dengan sesekali melirik ke arah Ryuzaki yang telah menyusul berkuda di sampingku. Ryuzaki mengangguk sebelum kuda miliknya berbelok tajam ke kanan yang langsung diikuti oleh kudaku di belakangnya. Langkah kaki kuda kami berhenti, akar berduri milik Ryuzaki tumbuh cepat mengelilingi kami saat sekumpulan burung terbang mendekat.


“Mereka menghilang,” ucapku, aku berusaha mencarinya saat keadaan di sekitar benar-benar menggelap.


“Apa yang kalian berdua lakukan?!”


Aku berbalik ke belakang, sedikit demi sedikit cahaya kembali masuk ketika akar berduri yang tumbuh kembali menyusut hingga masuk kembali ke dalam tanah. “Sa-chan! Ryu! Jelaskan kepadaku apa yang kalian perbuat!” perintah Haruki ketika kuda yang ia tunggangi itu melangkah mendekat.


“Kami merasakan sesuatu, kami berniat untuk mengejar dan menangkap mereka. Namun, mereka dengan cepatnya kembali menghilang lagi,” jawabku, Ryuyzaki menganggukkan kepalanya menimpali perkataanku.


“Seharusnya kalian memberitahukan kami terlebih dahulu, jangan tiba-tiba bergerak yang membuat semuanya kacau!” Haruki kembali meninggikan suaranya dengan mengalihkan pandangannya dari kami berdua, “Izumi, beri tanda untuk mereka agar mereka bisa dengan mudah menemukan kita!” tukas Haruki sambil menatap ke arah Izumi yang berkuda di belakangnya.


“Aku baru sadar, di mana Tsubaru dan yang lain?” tanyaku kepada Haruki yang telah menggerakkan kepalanya melirik ke sekitar.


“Karena kau tiba-tiba bergerak, singa yang sebelumnya tenang malah bergerak hendak menyerang kami semua! Untuk bisa menyusul kalian berdua, kami harus memisahkan diri dari mereka,” timpal Izumi ketika dia telah melompat turun dari atas kudanya.


“Kak, tidak perlu melakukannya. Selama Arata bersama mereka, mereka pasti akan bisa menemukan kita,” ungkap Ryuzaki ketika dia telah membawa kudanya mendekati Izumi.


“Benarkah? Kemampuanmu, benar-benar menakjubkan,” sambung Izumi sembari mendongakkan kepalanya menatapi Ryuzaki.


“Apa kau mengetahui makhluk apa itu?” Aku mengarahkan pandangan kepada Haruki yang telah berkuda di sampingku, “entahlah, firasatku hanya merujuk ke beberapa makhluk yang aku lihat di buku. Tapi aku, masih belum bisa memastikannya," jawabku kepada Haruki sebelum aku kembali mengangkat wajahku ke atas.


____________.


Aku berjalan mendekati Ryuzaki ketika kuda yang sebelumnya aku naiki, kuikat di salah satu pohon, “apa kau baik-baik saja? Jangan terlalu memaksakan diri,” ungkapku sambil berjongkok dengan mengusap punggungnya.


“Aku baik-baik saja, aku hanya sedikit lelah menggunakan terlalu banyak sihir tanpa henti,” ucapnya yang menoleh ke arahku.


Izumi menghentikan langkahnya, dia berbalik menoleh ke arah samping ketika bunyi derap langkah mendekat, “sepertinya mereka telah kembali,” ucap Izumi yang tetap mengarahkan pandangannya ke arah sebelumnya.


Izumi membungkuk, dia mengangkat telapak tangannya ke arah Ryuzaki. Ryuzaki meraih tangannya itu sebelum dia beranjak berdiri di hadapan Izumi. Aku ikut beranjak berdiri lalu melangkah mendekati kuda mereka semua yang berjalan mendekat. Tatsuya melompat turun dari atas kuda, begitu pun dengan Tsubaru, Arata dan juga Yuki.


“Tsu nii-chan, apa kau baik-baik saja?” tanyaku ketika dia berjalan dengan menarik kudanya mendekati.


“Aku baik-baik saja, Putri,” jawabnya saat langkahnya berhenti di hadapanku.


Pandanganku menoleh saat suara benda terjatuh keras terdengar. Tatsuya dan Arata membungkuk meraih bangkai singa yang terkapar di samping kuda milik Tsutomu, mereka berdua membawa bangkai singa itu menjauh, “kami membunuh salah satu singa tersebut untuk makan malam kita nanti,” tukas Tsubaru yangg tiba-tiba kembali terdengar.


“Singa? Kita akan memakan singa malam ini?” Tsubaru menganggukkan kepalanya, “mereka akan memasaknya dengan sangat baik untukmu, Putri. Jadi jangan khawatir,” ungkapnya sebelum dia berjalan berlalu membawa kembali kudanya.


_________________.


Aku merangkak keluar dari tenda yang sebelumnya dibuat Tsubaru. Aku kembali beranjak dengan menepuk-nepuk kedua tanganku yang dipenuhi tanah sembari kedua kakiku melangkah mendekati mereka semua yang telah berkumpul mengelilingi api unggun. “Di mana Ryu?” tanyaku sambil mengusap mata ketika aku telah duduk di depan api unggun.


“Dia masih tertidur di tendanya. Makanlah, daging singa bakar buatan para wakil kapten,” tukas Izumi sambil mengangkat telapak tangannya ke arah Tsutomu dan juga Tatsuya yang tengah melahap makanan mereka tak terlalu jauh dari tempat kami duduk.


Aku meraih tusukan daging tersebut sambil mengarahkan daging itu mendekati hidung lalu menghirup dalam aromanya, “jantungku selalu bergemuruh jika ingin memakan makanan yang belum pernah aku makan,” gumamku sambil membuka mulut menggigit daging tersebut.


“Apa yang dilakukan mereka?” Aku menggerakkan sedikit kepalaku sambil menatap ke arah Eneas dan juga Yuki yang duduk berhadapan dengan beberapa benda di hadapan mereka.


“Mereka bertiga sedang membungkus kembali bubuk racun seperti gumpalan kain yang digunakan Yuki untuk menyerang para Kesatria tadi siang,” tukas Izumi sambil meraih pergelangan tanganku lalu menggigit daging bakar yang aku pegang.


“Nii-chan,” ucapku yang kembali menatapnya.


Izumi menoleh ke arahku dengan mulutnya yang masih mengunyah, “apa yang kau perbuat pada laki-laki itu? Aku sangatlah penasaran dengan apa yang kakakku perbuat padanya,” tukasku sambil menggigit kembali daging bakar yang ada di tanganku.


Izumi lama tersenyum menatapku tanpa mengeluarkan sedikit pun suara, “apa kau bahagia?” ungkapnya yang tetap tersenyum ke arahku.


“Kira-kira, bagaimana tanggapan Kak Sasithorn jika aku menceritakan kejadian langka ini kepadanya,” gumamku dengan membuang pandangan ke arah api unggun yang semakin menyala saat Tsubaru melemparkan beberapa ranting ke dalamnya.


“Lakukan saja, tapi jangan menangis … Jika kau tiba-tiba saja dilamar oleh Dante tanpa sanggup menolak.”


“Lakukan saja,” ungkapku yang langsung memotong perkataannya, “aku, tidak ingin menghabiskan waktu dengan sesuatu yang dinamakan cinta. Aku tidak peduli, akan menikahi siapa … Atau tidak menikah sekali pun. Aku, hanya ingin menyelesaikan ini semua, tanpa kehilangan mereka yang mendukungku,” sambungku, aku mengangkat kedua tangan memeluk kakiku yang bertekuk.


“Omong kosong,” tukas Izumi hingga aku kembali menatapnya, “katakan kepadaku, saat di hutan Kekaisaran, saat kau berusaha menyelamatkan kami yang dirantai ketika di pulau yang hanya dihuni perempuan, atau saat kau tiba-tiba menghilang dan ternyata menyelam ke lautan … Katakan kepadaku, bagaimana kau bisa menyelesaikan semuanya?”


“Apa kau tidak menyadarinya, Sachi?” Keinginanmu untuk melindungi seseorang yang berharga untukmu, membuatmu lebih kuat dibanding siapa pun, yang akan membuat mereka yang mengenalmu mengucapkan, apa benar dia Sachi?” tukas Izumi sambil mengangkat telapak tangannya menyentuh kepalaku, “sebagai kakak, aku hanya ingin melihat adikku bahagia. Apa pun keputusanmu, aku akan mendukungnya. Aku hanya berharap, apa pun keputusan itu, kau tidak akan pernah menyesalinya. Jadi pikirkan baik-baik sebelum memutuskan sesuatu," sambungnya yang kembali membuang pandangan ke arah api.