Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXLIII


Langkah kakiku terhenti di depan tirai tenda, “baiklah, saudara-saudaraku. Aku mengandalkan kalian, jangan mengecewakanku,” ungkapku tersenyum menatap mereka bergantian sebelum melanjutkan kembali langkah.


Aku menyingkap tirai lalu berjalan keluar tenda, kedua kakiku terus melangkah mendekati tenda yang Duke Masashi tempati. “Apa Duke, ada di dalam?” Tanyaku pada dua orang Kesatria yang berjaga di luar tenda.


Mereka berdua saling lirik, “Duke, sedang pergi menemui Ketua Desa, sekarang ini, Putri,” jawab salah satu di antara mereka.


“Benarkah?”


“Baiklah, terima kasih untuk informasinya,” ungkapku lagi dengan menganggukkan kepala sebelum berbalik lalu melangkah pergi.


Langkah kakiku kembali bergerak mendekati perkampungan, “Duke!” Teriakku memanggilnya yang tengah berbicara dengan beberapa penduduk desa termasuk sang Kakek.


Duke Masashi berbalik, tubuhnya membungkuk ke arahku yang berjalan mendekatinya, “Duke, aku membutuhkan bantuanmu,” ucapku, Duke sedikit mengerutkan keningnya menatapku saat aku mengatakannya.


Aku menghentikan langkah di hadapan mereka, “salam, Kakek,” ucapku dengan membungkukkan tubuh ke arahnya.


Tubuhku kembali berdiri tegap, “Duke, Paman, bantu aku. Kumohon,” ucapku kembali menatap Duke Masashi.


Masashi menghela napas panjang, “apa terjadi sesuatu, Putri?” Dia balik bertanya dengan membalas tatapanku.


“Aku,” ungkapku sambil melirik ke arah para penduduk, aku maju mendekati Masashi, “ini, menyangkut kehidupan pribadiku. Aku bahkan tidak berani menceritakannya kepada Kakakku ataupun Ayah. Mana mungkin, aku menceritakannya di sini,” bisikku dengan meletakkan sebelah tangan menyentuh ujung bibir.


Masashi lama menatapku, “baiklah,” ucapnya ketika aku kembali berjalan mundur darinya.


Dia menoleh ke arah beberapa penduduk desa, Duke mengucapkan kata-kata yang tidak aku mengerti kepada mereka sebelum dia melanjutkan langkah kakinya melewatiku, “Putri,” ucapnya singkat dengan tetap berlalu.


Aku berbalik mengikuti langkah kaki di belakangnya, “Duke,” ucapku, dia menghentikan langkah kakinya lalu berbalik menatapku.


“Aku tidak ingin berbicara di dalam tenda. Di dalam tenda membuatku gerah, aku membutuhkan banyak udara untuk memulihkan tenaga, terutama untuk udara dingin seperti ini,” sambungku dengan tersenyum menatapnya.


Duke berbalik membelakangiku, “baiklah,” ucapnya sembari kembali melangkahkan kakinya.


Aku tersenyum sebelum mengejar dirinya, “Duke,” ucapku ketika aku menghentikan langkah kaki di sampingnya.


“Aku masih tidak mengerti, akan sistim politik Kerajaan. Aku merasa sangat tertinggal dibanding Haruki,” ucapku ketika dia menoleh ke arahku.


“Pangeran Haruki,” ucapnya dengan kembali menatap lurus ke depan, “dia sejak awal adalah seorang Putera Mahkota. Dia telah ditunjuk menjadi calon Raja untuk Sora sejak dia lahir, jadi sangatlah wajar … Jika dia, mendapatkan banyak sekali pengetahuan sejak dini.”


“Apa kau merasa tidak percaya diri, Putri? Atau, apa kau, ingin bersaing dengan Kakakmu itu?”


“Sejujurnya, aku malah heran kepada Kudou,” ucapnya, aku menoleh ke arahnya ketika dia juga telah menoleh menatapku. “Bagaimana semua anak-anaknya, bisa mengagumkan … Bahkan bisa, membuat Kaisar merasa terancam,” sambungnya dengan tersenyum menatapku.


“Kaisar terancam?”


“Dunia ini luas, Putri. Saat kau menemukan jalan buntu, mungkin saja itu bukan murni jalan buntu jika kau meniatkan diri untuk memecahkan penghalang yang kau pikir jalan buntu itu. Memusingkan, bukan?”


“Yang ingin aku maksudkan hanyalah, tidak semua yang terlihat itu adalah kebenaran. Kehidupan sendiri, lebih rumit dari yang dapat dibayangkan seorang manusia,” sambung Masashi kembali di sampingku.


“Duke, menurutmu … Apa yang harus aku lakukan untuk mendukung mereka?”


Masashi menghentikan langkah kakinya, “kau sudah melakukan, lebih dari apa yang seharusnya kau lakukan, Putri. Mau berlatih tangan kosong denganku seperti saat kau masih kecil?” Tanyanya dengan mundur ke belakang beberapa langkah.


“Bagaimana jika kedua kakakku melihatnya?”


Masashi menatap ke sekeliling, “tidak ada yang dapat melihatmu di sini. Karena itu, Putri … Jangan menahan kemampuanmu, tunjukkan kemampuanmu yang sesungguhnya kepadaku. Aku, mengizinkamu untuk melakukannya,” ucapnya berkacak pinggang menatapku.


Lama aku menatapnya, aku menempelkan kedua tanganku di depan dada. Kuangkat tanganku tadi hingga menyentuh kening sebelum aku membungkukkan tubuh di hadapannya, “sesuai perintah darimu, Guru,” ucapku kembali beranjak berdiri menatapnya.


Aku menarik napas dalam lalu mengembuskannya kembali, kutatap Duke yang telah menarik pedang di pinggangnya. “Apa kau telah siap, Putri?” Tanyanya dengan mengarahkan pedang tersebut padaku.


Walau Ayah dahulu hanya meminta Duke untuk mengajariku ilmu peperangan, tapi sebenarnya … Diam-diam, Duke juga mengajariku bela diri. Akan tetapi, dia hanya memintaku untuk melakukannya saat aku berada dalam posisi terdesak.


Aku bergerak cepat ke samping saat Duke Masashi melayangkan pedang di tangannya yang hampir membelah setengah tubuhku itu. Dengan cepat aku berbalik diikuti kaki kananku yang terangkat menerjang ke arahnya, “lumayan, kemampuanmu bertambah dengan pesat, Putri,” ucapnya yang menangkis tendanganku tadi dengan lengan kanannya.


Aku mengangkat kedua tanganku mencengkeram kuat pergelangan tangan Duke ketika dia mengayunkan pedangnya yang jika aku lengah sedikit saja, maka leherku akan langsung melayang. Sekuat mungkin aku menahan mundur tangannya tadi, aku menunduk lalu bergerak cepat hingga berdiri di samping kanannya. Dengan sigap, aku melepaskan salah satu tanganku yang mencengkeram pergelangannya tadi, lalu kupukulkan telapak tangannya yang menggenggam pedang itu dengan tanganku tadi hingga pedangnya terlepas lalu terjatuh ke tanah.


Gerakanku terhenti saat tangan kiri Duke mencengkeram leherku, “gerakanmu masih lamban, Putri,” ucapnya melepaskan tangannya tadi di leherku.


Aku membungkuk dengan memegang leherku tadi, “itu karena, kalian bukanlah manusia,” ungkapku kembali mengangkat pandangan menatapnya.


“Bela diri yang aku ajarkan kepadamu, dinamakan Krav Maga, aku mempelajarinya dari seorang tetua suatu tempat yang aku kunjungi. Aku mengajarinya dulu kepadamu, Putri … Karena aku berharap, kau dapat selamat dari serangan apa pun, terlebih lagi kemampuan berpikirmu yang cepat itu, akan sangat membantumu mengalahkan musuh jika menerapkannya.”


“Sayangnya, kau dahulu mudahlah cemas jika dihadapkan suatu keadaan yang mendesak. Beruntung, aku tidak melihatnya lagi sekarang, jika aku melihatnya … Aku akan langsung membawamu pulang ke Sora, lalu meminta Kudou untuk tidak memintamu keluar dari Kerajaan,” ucapnya lagi, dia berjalan lalu membungkukkan tubuhnya meraih pedang miliknya yang tergeletak di tanah.


“Kau tahu, Paman,” ucapku saat dia telah kembali beranjak berdiri, “aku bisa selamat sampai saat ini, semuanya berkat kalian. Bela diri yang Ayah, Paman, Tsubaru, kedua Kakakku ajarkan, benar-benar membantuku selamat dari beberapa musuh yang menyerang,” sambungku sambil mendongakkan kepala ke atas.


“Tapi jika aku hanya berada di Istana, kemampuanku tidak akan berkembang seperti sekarang. Melawan musuh secara langsung, memanglah latihan yang terbaik … Walaupun, beberapa kali aku hampir mati karena panah, pedang atau pisau mereka. Tapi itu, menyenangkan … Aku ingin berkelana, sejauh apa pun itu. Aku ingin mempelajari, sesuatu yang tidak bisa aku pelajari jika hanya mengurung diri di Istana,” ucapku tersenyum menatapnya.