
"Lux," ucapku mengarahkan kepalaku yang terbenam di bantal bergerak ke samping menatapnya.
"Ada apa?" sambungnya ikut menggerakkan tubuhnya berbaring menyamping menatapku.
"Bagaimana menurutmu tentang masalah ini?"
"Entahlah. Kalau yang kau katakan itu benar, maka akan sedikit sulit untuk membuat mereka lepas dari pengaruh bubuk itu. Tapi, tidak ada yang tidak mungkin... Hanya saja..."
Perkataan Lux terhenti oleh ketukan pintu yang berasal dari luar. Kugerakkan tubuhku beranjak duduk sembari ikut kugerakkan kakiku turun dari ranjang.
Aku beranjak berdiri dengan kedua kaki meraih sandal yang tergeletak di samping ranjang, seraya langkah kakiku kembali bergerak mendekati pintu yang tak henti-hentinya menimbulkan suara ketukan.
"Siapa?" ungkapku masih berdiri di depan pintu dengan sebelah tangan menggenggam ganggang pintu tersebut.
"Ini aku, Egil," terdengar bisikan pelan dari arah luar.
Kugerakkan tanganku mendorong ganggang pintu tersebut ke bawah sembari ikut kugerakkan tubuhku berjalan mundur. Pintu kamarku terbuka dengan Egil yang telah berdiri dengan kedua lengannya menyilang menatapku.
"Ada apa? Apa kau memerlukan sesuatu dariku?" ungkapku ikut menyilangkan lengan menatapnya.
"Apa yang kau lakukan pada Ayahku?"
"Apa yang aku lakukan? Aku tidak melakukan apapun," ungkapku membalas perkataannya.
"Ayahku dulu tidak pernah menolak permintaanku untuk mengajakku pergi bersamanya. Apa kau tengah mencoba menggoda Ayahku?"
"Katakan sekali lagi perkataanmu yang barusan!"
"Aku? Menggoda Ayahmu? Yang benar saja," sambungku, kugerakkan lengan kananku menggaruk-garuk pelan belakang leherku.
"Ayahku tampan dan juga berkuasa. Mustahil jika kau menolak pesona yang ia miliki," ungkapnya melangkahkan kaki semakin mendekati.
"Astaga," ungkapku seraya kembali kugerakkan kedua lengan menyapu kuat wajahku.
"Kau lihat ini? Apa kau lihat kalung ini?!" ungkapku meraih kalung pemberian Zeki yang bersembunyi di balik gaun tidur yang aku kenakan.
"Kalung ini pemberian dari calon suamiku. Dia pasti akan langsung datang membunuhku jika dia tahu aku menggoda laki-laki lain," ungkapku lagi sembari ku goyang-goyangkan kalung yang ada di leherku di hadapannya.
"Lalu kenapa? Ayahku tidak pernah mendengarkan perkataan perempuan sebelumnya, tapi... Kesatria yang berjaga di penjara mengatakan, jika Ayahku mendengarkan semua perkataanmu," ucapnya menurunkan lengannya kembali dengan wajah tertunduk.
"Kau masih menginginkan Ayah dan Ibumu rujuk kembali bukan?" tanyaku, kutatap Egil yang tiba-tiba mengangkat kepalanya menatapku.
"Penjara bawah tanah? Ayahmu telah menceritakannya. Sebenarnya aku ingin merahasiakannya darimu, tapi aku tahu... Jika aku merahasiakannya, kau akan melakukan apapun untuk mendapatkan informasi itu dari siapapun."
"Lux, bisakah kau membawakan kunci yang ada di samping bantal milikku ke sini!" ungkapku, kugerakkan kepalaku berbalik menatap bayangan kecil Lux yang masih berbaring di atas salah satu bantal.
"Baiklah, aku akan membawakannya untukmu," jawabnya sembari kembali kugerakkan kepalaku menatap Egil yang masih menatapku.
"Apa yang Ayahku katakan padamu?"
"Ibumu berusaha membunuhmu ketika kau lahir," ucapku dengan nada datar padanya.
"Ibuku tidak mungkin melakukannya."
"Egil, jawab pertanyaanku! Siapa yang memberitahukan tentang Ibumu padamu?" ungkapku seraya kulangkahkan kakiku mendekatinya.
Egil balas menatapku, mundur dia ke belakang beberapa langkah. Langkah kakiku bergerak cepat mengejarnya yang telah berlari menghindari pertanyaanku.
"Egil!" teriakku memanggilnya.
"Sialan!" ucapku kembali sembari semakin cepat kedua langkah kakiku bergerak mengejarnya.
"Paman Tem, tolong aku," ucap Egil menggerakkan tubuhnya berlari ke belakang Tem yang berjalan ke arah kami.
"Ada apa Yang Mulia?"
"Apa yang kau lakukan pada Yang Mulia?!" ungkap Tem kembali dengan nada tinggi ke arahku.
"Ini bukan urusanmu," ucapku melangkahkan kaki semakin mendekati mereka.
"Mundur! Atau aku akan membunuhmu saat ini juga!" Ungkapnya meraih dan menarik pedang yang tergantung di pinggangnya.
"Kau ingin membunuhku?" ucapku kembali seraya kuarahkan telapak tanganku menggenggam mata pedang yang ia arahkan padaku.
Ini sakit sekali, sialan! Sabar Sachi, bertahanlah sedikit lagi.
"Apa kau pikir pedang ini dapat membunuhku?" sambungku, kutarik telapak tanganku yang telah dilumuri darah tersebut.
Kutatap tanganku yang sedikit bergetar menahan sakit, luka terbuka di telapak tanganku tak henti-hentinya mengeluarkan darah. Kuarahkan telapak tanganku tadi ke arah mereka, tampak bola mata mereka berdua membesar tatkala hawa dingin memenuhi telapak tanganku.
Kerja bagus, Kou. Tanpa ku perintahkan, kau melakukannya dengan sangat baik.
"Kau masih ingin membunuhku?" Ungkapku lagi, semakin dekat langkah kakiku mendekati mereka, semakin cepat pula mereka mundur menjauh.
"Si-siapa kau?" ucap Egil, kualihkan pandanganku menatapnya yang masih bersembunyi di belakang punggung Tem.
"Takaoka Sachi. Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, namaku Takaoka Sachi," ucapku membalas perkataannya.
"Kau, kau bukan manusia," sambungnya kembali padaku.
"Kau benar. Aku suka sekali pada anak kecil seper..."
Perkataanku terhenti saat kurasakan pukulan pelan di kepalaku. Kugerakkan tubuhku ke samping beberapa langkah sambil tetap kutundukkan kepalaku. Jika aku berbalik, Tem mungkin akan menyerangku dari belakang... Jika...
"Apa yang kalian lakukan, Sa-chan?"
Sa-chan? Haruki?
Kugerakkan tubuhku berbalik menatapnya yang telah berdiri dengan Izumi, Daisuke, Eneas dan juga Niel di sampingnya. Kugerakkan telapak tanganku yang penuh darah tadi ke belakang punggungku seraya tersenyum aku menatapnya.
"Nii-chan, apa yang kalian lakukan di sini?" ungkapku berjalan mendekatinya.
"Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kalian bertiga lakukan? Dan kenapa pedangnya penuh dengan darah?" ucap Haruki kembali menatapku.
"Aku tidak tahu, harus darimana menjelaskannya," ucapku seraya kuarahkan pandanganku melirik ke arah Egil yang kembali menyembunyikan tubuhnya.