Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXXVIII


Aku memukul kuat keningnya menggunakan kepalaku hingga dia tertunduk dengan menutup keningnya itu menggunakan telapak tangan, “apa yang kau lakukan?” Tukasnya ketika dia mengangkat wajahnya kembali menatapku.


“Kau menakutiku, aku hanya sedang membela diri,” ucapku membalas tatapannya.


“Mem-” ungkapnya terhenti, dia mengalihkan pandangan dengan mengusapi wajahnya.


“Harusnya, aku tidak mengharapkan apa pun pada perempuan pengendali hewan sepertimu,” ungkapnya dengan melirik sinis ke arahku.


Aku beranjak berdiri di samping ranjang menatapnya, “apa yang kau katakan? Ulangi sekali lagi, apa yang kau katakan!”


“Apa yang aku katakan salah? Kau beruntung memilikiku sebagai pasanganmu … Aku tidak menjamin, laki-laki lain akan dapat bersabar seperti yang aku lakukan,” ucapnya bergerak menelungkup menghindari pandanganku.


“Kau tega sekali mengatakannya padaku,” ucapku pelan dengan menggenggam kuat kedua tanganku.


Zeki berbalik menatapku, “aku tega? Apa itu yang kau maksudkan?”


“Sudah kuduga, kau lebih menyukai perempuan yang anggun sepertinya,” ungkapku mengalihkan pandangan darinya.


“Astaga … Sebenarnya, apa yang kau pikirkan Deus saat menciptakan perempuan?” Tukas Zeki dengan menutup matanya menggunakan lengan kanannya, “dia yang terlebih dahulu marah, dia sendiri yang menangisi perbuatannya. Bersabarlah Zeki, bersabarlah,” ungkapnya dengan mengipas-kipaskan tubuhnya menggunakan pakaian yang ia kenakan.


Zeki beranjak duduk menatapku, “kau, kemarilah!” Perintahnya dengan melirik ke arah kasur yang ada di sampingnya.


“Takaoka Sachi, kemarilah!” Tukasnya lagi untuk yang kedua kalinya.


Aku bergerak duduk di samping ranjang, “lebih mendekat lagi,” ungkapnya kembali terdengar.


“Aku tidak mau, aku merasakan tanda-tanda bahaya jika terlalu dekat denganmu,” ungkapku memicingkan mata ke arahnya.


“Baiklah,” ucapnya terdengar diikuti deritan di ranjang ketika dia bergerak.


Dia beranjak lalu berjalan mendekati pintu kamar, “ikuti aku,” ungkapnya menggerakkan kepala saat tangannya membuka pintu.


Aku beranjak berdiri, meraih dan memakai sandal yang ada di samping ranjang lalu berjalan mendekatinya, “mau ke mana?” Tanyaku menghentikan langkah di sampingnya.


“Jalan saja dahulu,” ungkapnya dengan menyentuh pelan punggungku.


Aku berjalan melewatinya, mataku melirik ke belakang saat suara langkah kaki mengikuti setelah suara pintu tertutup terdengar. Aku menghentikan langkah lalu membuka pintu paviliun, aku mencengkeram kedua lenganku saat udara dingin menembus tubuh.


Aku menoleh ke samping menatap wajah Zeki saat kurasakan sesuatu menyentuh pundakku, “kau teledor sekali, bagaimana jika ada seseorang melihatmu hanya menggunakan gaun tidur seperti itu,” ungkapnya berjalan melewati.


Aku tertunduk dengan menarik selimut yang ia lingkarkan di pundakku sebelumnya, kedua kakiku melangkah mengikutinya diikuti semakin kuat aku menarik selimut itu hingga menyelimuti seluruh tubuhku. Zeki menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arahku, “kemarilah,” ucapnya dengan menggerakkan kepalanya.


“Kau ingin mengajakku ke mana?” Aku kembali bertanya saat langkah kakiku berhenti di sampingnya.


“Kau tidak nyaman jika hanya kita berdua di kamar bukan? Jadi aku mengajakmu berjalan ke luar,” ungkapnya dengan menengadahkan kepala ke atas.


“Setelah dari sini, kalian akan ke mana?”


Aku berbalik membelakanginya, “entahlah, aku tidak tahu ke mana tepatnya kami akan pergi selanjutnya. Hanya saja, Haru nii-chan mengatakan, jika kami akan mengunjungi makam temannya Ayah, sekaligus mengikat kembali perjanjian lama di antara Ayah dan anak dari temannya itu.”


Aku sedikit mengangkat kepalaku ke samping, “begitukah?” Tukasnya, pandanganku menurun ke bawah, melirik tangannya yang telah melingkar di pinggangku.


“Aku mengerti. Kau pun, jaga diri baik-baik,” jawabku dengan menatap lurus ke depan.


“Sachi,” ucapnya, aku melirik ke atas saat kurasakan sesuatu menindih kepalaku.


“Aku mengetahui legenda mata hijau yang tersebar di Rhys. Ambil keperawanannya, minum darahnya, maka kau akan berumur panjang … Itu benar bukan?”


Kedua mataku membesar saat mendengar dia mengatakannya, “jangan khawatir, aku tidak akan melakukan apa pun walau aku mengetahuinya,” ungkapnya diikuti tarikan napas yang menyentuh kepalaku.


“Berhati-hatilah pada laki-laki yang ada di luar sana, aku tidak ingin kejadian ketika kau diculik karena mata hijaumu itu terulang kembali,” ungkapnya dengan melepaskan rangkulannya di pinggangku.


Aku berbalik menatapnya, “sejak kapan kau mengetahuinya? Maksudku, tentang legenda yang ada Rhys,” ucapku kepadanya.


“Aku mengetahuinya bersamaan dengan perihal pengorbanan bayi. Karena itu, aku tidak ingin kau datang ke tempat itu.”


“Apa kau?” Aku melangkah mendekatinya, “apa kau mengetahui sesuatu yang lainnya, Zeki?” Aku meraih lalu menggenggam kuat lengan pakaian yang ia kenakan.


“Mata hijau, mengambil kutukan. Aku dengar jika Haruki dahulu pernah dikutuk bukan?”


“Dari mana kau mendengarnya?”


“Ayahmu. Aku memberitahukan cerita legenda tersebut kepadanya, dan dia menceritakan apa yang terjadi kepada kalian, semuanya yang berhubungan dengan kutukan … Kau hampir mati karena menanggung kutukan yang ditunjukkan kepada keluargamu, tempo dulu … Ayahmu, juga menceritakannya padaku,” sambung Zeki lagi kembali bersuara.


“Sebenarnya, Ayahmu memintaku mempercepat pernikahan. Karena dia merasa, jika kau akan lebih aman jika bersamaku di Yadgar. Sekarang, aku bertanya kepadamu … Apa kau ingin mengikutiku pulang ke Yadgar?" Ucapnya dengan mengangkat tangan kanannya ke arahku.


“Apakah ini lamaran?” Tukasku berjalan mendekatinya.


“Bisa dikatakan seperti itu.”


Aku lama menatap telapak tangannya tadi, “maaf, aku belum bisa menerimanya,” ungkapku tertunduk dengan menggigit kuat bibirku.


Aku mengangkat kepalaku saat kurasakan pelukan menyentuh tubuh, “aku tahu. Entah kenapa, aku tidak merasa terlalu kecewa walau ditolak,” ungkapnya tersenyum menatapku.


“Aku,” ucapnya dengan sebelah tangannya menyentuh pipiku, “akan selalu mendukungmu. Jadi lakukan, apa yang menurutmu harus dilakukan. Asalkan, kau harus memahami kemampuanmu sendiri, kau mengerti maksudku bukan?” Tukasnya tersenyum menatapku.


“Jangan salah paham, aku mendukungmu berkelana sekarang … Karena setelah nanti kita menikah, aku akan mengurungmu hingga kau hanya bisa berjalan-jalan di Istana saja,” ucapnya lagi dengan mengangkat kepalanya ke atas.


Aku melepaskan genggaman kedua tanganku pada selimut, kuangkat kedua tanganku tadi memeluk tubuhnya, “Zeki, terima kasih,” ungkapku dengan membenamkan wajah di dadanya.


“Berterima kasihlah dengan memberikan kenang-kenangan untukku.”


“Tentu,” ucapku melepaskan pelukan darinya, “sebelum pergi, kita bisa mengunjungi pasar terlebih dahulu. Aku bisa membelikanmu, pernak-pernik kenangan yang sangat banyak,” ungkapku berjalan mundur menjauhinya.


“Aku bisa membelinya sendiri jika itu yang kau maksudkan,” ungkapnya ikut melangkahkan kakinya mendekati.


“Jadi, belikan juga untukku.” Aku melirik ke samping diikuti kedua kakiku yang masih berjalan mundur menghindarinya.


“Aku akan membelikan apa pun yang kau inginkan nanti, setelah urusan kita saat ini selesai,” ucapnya tersenyum, aku melirik ke langkah kakinya yang bergerak semakin mendekati.


Zeki melirik ke arah kiri, dia bergerak cepat meraih dan menarik tanganku hingga wajahku membentur tubuhnya, “apa kau baik-baik saja?” Ungkapnya menatapku saat aku mengangkat wajah menatapnya.