Fake Princess

Fake Princess
Chapter LXXVIII


Kutatap dua kepala manusia yang tergeletak di tanah. Tampak kedua bola mata mereka menghilang, wajahnya sendiri hancur penuh bekas sobekan luka dan juga... kedua lidah mereka yang terjulur di tanah semakin menggetarkan tubuhku.


"Kau baik-baik saja?" ucap Zeki menatapku, semakin kuat genggaman tanganku di lengan pakaiannya.


"Aku akan mengurus dua kepala itu, hanya tenangkan saja para perempuan," ucapnya lagi, digenggamnya telapak tanganku yang menggenggam pakaiannya seraya dilepaskannya. Berjalan ia menjauh mendekati dua kepala tersebut tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.


"Kemarilah," ucap Izumi seraya menarik lenganku menjauh dengan sebelah tangannya menggenggam telapak tangan Sasithorn yang juga pucat pasi tanpa suara.


"Istirahatkan diri kalian disini," sambung Izumi seraya mengajak kami ke sebuah pohon tak jauh dari tempat kami menemukan kepala tadi.


Duduk aku bersandar di bawah pohon, kenangan saat kepala kakakku Mari terpotong masih membekas di ingatan. Kuangkat seraya kutekuk kedua kakiku, kusembunyikan wajahku di antaranya seraya kembali kututup kepalaku yang tertunduk menggunakan kedua lenganku.


"Kau baik-baik saja?" sambung Izumi, terasa sesuatu menyentuh pelan kepalaku.


"Aku hanya teringat saat hari dimana Mari nee-chan di eksekusi. Bisakah kau memberikan waktu untukku menenangkan diri, nii-chan?" ucapku tetap tertunduk, kugenggam kuat telapak tanganku.


"Aku akan mengawasinya, kau bisa membantu kakakmu disana," terdengar suara Sasithorn diiringi sentuhan di pundak kananku.


"Aku akan segera kembali," sambung Izumi diiringi suara langkah kaki menjauh.


"Kakakku Izumi, dari luar memang terlihat menjengkelkan akan tetapi hatinya sangat hangat. Kau beruntung mendapatkannya sebagai tunanganmu."


"Dia mengkhawatirkanku karena aku adalah tunangannya, jika aku bukan..."


"Dan kenyataannya kau memang tunangannya bukan?" ucapku memotong perkataanya.


"Kau benar, dan terima kasih untukmu Sachi karena Pangeran Izumi terlihat lebih hidup dibandingkan terakhir kali kami bertemu."


"Aku akan mengatakan rahasia ini kepadamu, jika ia kelak membuatmu kesal. Hanya masak saja sayur-sayuran untuknya sebagai ajang balas dendam untuknya."


"Aku akan mengingatnya," terdengar tawa kecil mengikuti perkataannya.


"Bagaimana keadaanmu Sa-chan?"


"Aku baik-baik saja nii-chan," ucapku pelan.


"Izumi menunggumu disana bersama yang lainnya, terima kasih telah menjaganya," kembali terdengar pelan suara Haruki.


"Kau tidak akan mendapatkan udara segar jika menutupi wajahmu seperti itu, kemarilah... Aku mengizinkanmu untuk bersandar di pundakku," ucapnya kembali, terasa sesuatu memegang kepalaku seraya menariknya pelan.


"Menurutmu berapa kemungkinan kita akan selamat dari sini, nii-chan," ucapku seraya menatap yang lain tengah berkumpul jauh di hadapan kami.


"Jika nanti terjadi sesuatu diantara kami, segera panggil Kou dan pergilah dengannya sejauh mungkin," ungkapnya, ditepuknya pelan kepalaku yang bersandar di pundaknya.


"Apa kau pikir aku akan melakukannya?"


"Aku tahu, karena itulah kita akan keluar dari sini bersama-sama."


"Bagaimana keadaan Kou? sudah berapa lama aku tidak melihatnya."


"Dia tumbuh dua kali lipat dari terakhir kali kau lihat, saat kekuatan sihirnya sudah sedikit lebih kuat dibandingkan sebelumnya, aku akan mengajakmu ke dunianya, nii-chan," ucapku, kuangkat kepalaku seraya tersenyum menatapnya.


"Aku akan menunggu saat-saat tersebut datang," ucapnya balas tersenyum menatapku.


Berbalik Haruki seraya menarik telapak tanganku untuk mengikutinya, berjalan kami berdua mendekati mereka semua yang telah berkumpul. Duduk Haruki di dekat mereka, akupun ikut duduk disampingnya...


"Apa kau merasakan sesuatu di sekitar sini Danur?" tanya Haruki seraya melepaskan genggaman tangannya padaku, menggeleng Danur menjawab pertanyaannya.


"Bagaimana menurut kalian? Ingin melanjutkan perjalanan atau beristirahat disini? Sebentar lagi akan gelap, akan berbahaya jika kita berjalan tanpa arah di waktu malam."


"Aku pikir lebih baik kita beristirahat saja, lihatlah! Mereka semua terlihat sangat kelelahan," ucap Adinata, melirik ia ke arah Julissa, Luana dan juga Sasithorn.


"Aku mengerti, baiklah. Kita akan bermalam disini," tukas Haruki menatap kami satu persatu.


"Aku akan membangunkan tenda untuk mereka beristirahat," ucap Izumi beranjak berdiri.


"Aku akan membantumu," sambung Adinata ikut beranjak.


"Aku akan memasak makanan untuk kita semua, apa ada diantara kalian yang bisa menyalakan api?" ucapku menatap ke arah mereka satu persatu.


"Aku akan membantumu," ucap Zeki beranjak berjalan mendekati.


"Kau bisa memasak?" tanyaku, beranjak aku berdiri seraya menatap ke arahnya.


"Aku memakan apapun, tidak peduli makanan tersebut lezat maupun tidak. Asal aku bisa bertahan hidup, itu sudah lebih dari cukup," ucapnya berjalan melewati.


Kulangkahkan kakiku berjalan berusaha mendekatinya, setiap kali aku hampir mendekatinya setiap itu juga langkah kakinya terlihat lebih cepat. Berlari aku mengejar, kuraih kerah pakaiannya seraya kutarik dari arah belakang...


"Apa kau ingin membuat patah leherku?" ucapnya berusaha menoleh ke arahku.


"Harusnya aku yang bertanya, kenapa juga kau menghindariku lagi," ucapku, kutarik kunciran di rambutnya.


"Tubuhku penuh dengan bau dari darah dua kepala dan juga dari usus-usus tadi, kau tadi ketakutan karena mencium bau dari darah yang dikeluarkan mereka bukan?" ucapnya seraya berusaha meraih lenganku yang menarik rambutnya.


"Melihat dua kepala tadi, mengingatkan aku saat hari dimana kakak perempuanku dieksekusi," ucapku, kulepaskan genggaman tanganku pada rambutnya seraya berjalan melewatinya.


"Bermuram seperti itu sangat tidak cocok untukmu," ungkapnya, dilingkarinya lengan kirinya mencekik pelan leherku.


"Sakit," ucapku, kutepuk telapak tanganku beberapa kali di lengannya.


"Teruslah marah seperti itu, aku baru akan melepaskannya jika kau marah," bisiknya pelan.


"Apa kau gila?!" teriakku seraya menginjak kuat telapak kakinya, bergerak cepat aku meloloskan diri darinya.


"Menggodamu memanglah yang terbaik," ucapnya berjalan mundur menatapku.


"Tutup mulutmu!" ucapku berjalan mendekatinya.


"Wajah marahmu terlihat imut sekali untukku, Darling," ucapnya menggunakan bahasa Kerajaan kami, tersenyum ia menatap ke arahku seraya berbalik membelakangi.


"Kemarilah, atau kau akan tersesat," ungkapnya lagi, diarahkannya telapak tangannya kebelakang. Berlari aku seraya meraih telapak tangannya tersebut, digenggamnya kuat telapak tanganku tadi.


"Ini mengingatkanku saat pertama kali kita bertemu," sambungnya seraya berbalik tersenyum menatapku.