
Kutatap punggung kedua kakakku yang berjalan menjauh, berbalik kembali aku seraya duduk di atas pagar batu yang ada di balkon tempat aku berdiri sebelumnya.
Angin malam kembali menusuk kulitku yang hanya ditutupi gaun tipis yang aku kenakan. Kutundukkan kepalaku menatap pohon yang berjejer mengelilingi Istana...
"Ini sudah larut, apa yang kau lakukan di sini?" terdengar suara laki-laki diikuti sebuah selimut rajut berwarna putih menyelimuti tubuhku dari belakang.
"Aku tidak bisa tidur," ucapku menoleh ke arahnya yang duduk di hadapanku.
"Zeki, maaf..." sambungku dengan nada pelan, kuraih seraya kugenggam tangannya yang ia letakkan di pahanya.
"Untuk?" ungkapnya sembari menatap lurus ke depan.
"Kakakku Izumi, menceritakan semuanya," ucapku, semakin kuat kugenggam telapak tangannya tadi.
"Kau seorang Putri, sebagai seorang Putri harusnya kau lebih mementingkan dirimu sendiri," jawabnya tanpa sedikitpun menoleh ke arahku.
"Apa kau mempercayai adanya reinkarnasi?" ungkapku, menoleh ia menatap ke arahku.
"Bukankah aneh, seorang Putri yang tidak pernah menginjakkan kakinya keluar dari Istana memiliki pengetahuan sebanyak itu," ungkapku lagi seraya tersenyum getir padanya.
"Di kehidupanku sebelumnya, aku hanyalah anak yatim-piatu biasa yang harus berkerja untuk kehidupanku maupun kehidupan adik-adikku yang juga ditelantarkan di panti asuhan..."
"Bersyukur, otakku sedikit dapat diandalkan... Setidaknya, aku tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pendidikan yang aku jalani..."
"Saat aku dilahirkan kembali ke dunia ini, satu-satunya yang aku pikirkan hanyalah bagaimana caranya aku dapat bertahan hidup..."
"Tapi kasih sayang yang aku terima dari keluargaku, kasih sayang yang aku terima dari Kesatria yang mengawalku dan kasih sayang dari rakyat-rakyat kami, kembali membawa sifat naif yang sejak awal ingin aku buang..."
"Ibu panti asuhan yang dulu merawatku, dan bahkan Ayahku yang sekarang... Mengajarkan bagaimana aku harus peduli pada sesama..."
"Aku tidak bisa melihat seseorang mati di hadapanku, terlebih lagi jika dia mati karena ku. Aku tidak bisa melakukannya, aku masih belum terbiasa akan dunia ini... Dan aku mengakuinya..."
"Terdengar seperti omong kosong bukan? Kau tidak harus mempercayainya, aku akan segera kembali ke kamarku," ucapku seraya melepaskan genggaman tanganku tadi padanya.
"Kemarilah," ucapnya seraya menepuk-nepuk pelan pundaknya.
Kuarahkan wajahku berbaring di pundaknya, ikut kurasakan tepukan pelan yang ia lakukan di kepalaku.
"Apa itu melelahkan?"
"Sangat, sangat melelahkan," jawabku dengan suara bergetar.
"Kau ingin menangis?" ungkapnya yang kubalas dengan gelengan kepala yang pelan dariku di pundaknya.
"Kau tahu? Jika kau tidak baik, maka aku tidak akan memilihmu sebagai pasanganku."
"Kau pasti masih ingat bukan kejadian enam tahun yang lalu... Bagaimana aku, kedua kakakmu, Julissa, Danur bahkan Adinata melakukan semua hal yang kau perintahkan..."
"Itu bukan hanya karena kau pintar ataupun dapat memikirkan banyak hal. Hanya saja, kami melakukannya karena kau sangat ingin membawa semua orang yang ada di sana pulang kembali ke rumah mereka..."
"Tanpa sadar, kamipun ingin sekali mendukungmu. Kebaikanmu berhasil membuat kami ingin selalu mendukung apa yang akan kau lakukan..."
"Apa kau tahu, apa yang aku lihat ketika kalian bertiga bersama?" ucapnya menatapku, menggeleng kembali aku menjawab perkataannya.
"Jika kalian bertiga adalah seorang manusia, maka Haruki akan menjadi otaknya, Izumi akan menjadi tubuhnya dan kau... sebagai hatinya."
"Dan asal kau tahu, orang pertama yang mengeksekusi Kesatria yang bertugas di perbatasan itu bukanlah aku melainkan Kakakmu Haruki," sambung Zeki kembali menatapku.
"Dia benar-benar menjadi sosok yang sangat berbeda ketika kau tidak bersama dengannya, begitupun dengan Izumi... Kedua kakakmu membutuhkanmu untuk menjadikan mereka seperti seorang manusia, dan itupun berlaku juga untukku."
"Aku mengerti, aku berjanji tidak akan mengulanginya."
"Aku tidak akan memintamu untuk mengabaikan penderitaan orang lain, karena jika kau melakukannya mungkin aku tidak akan jatuh cinta padamu seperti sekarang ini."
"Hanya saja, aku tidak akan meminta maaf karena telah menghilangkan nyawa puluhan pasukanku kemarin."
"Aku tidak memintamu untuk meminta maaf."
"Benarkah? Aku pikir kau akan membenciku karena aku melakukannya..."
"Aku tidak, karena itu memang kesalahan mereka yang membiarkan musuh lolos di bawah penjagaan mereka," ucapku menatapnya.
"Dan, bagaimana keadaan Putri Khang Hue?" ucapku lagi padanya.
"Entahlah, saat kami telah selesai melepaskan ikatan di tubuhnya dan dia menceritakan jika kau ditangkap musuh. Aku langsung berlari meninggalkannya..." ungkapnya balas menatapku.
"Saat aku menerima surat dari Julissa yang mengabarkan tentang keadaanmu, saat itu juga aku langsung menunggangi kudaku ke sini..."
"Mungkin aku akan mendapatkan hukuman setelah kembali dari sini, karena itu... Beri aku dukungan, Darling," sambungnya tersenyum menatapku.
"Dukungan? Aku selalu mendukungmu," ucapku balas menatapnya, menghela napas panjang ia balas menatapku.
"Kenapa? Apa ada yang salah?" ucapku lagi padanya.
"Tidak, tidak ada yang salah. Akulah yang terlalu bodoh karena mengharapkan sesuatu dari gadis polos sepertimu," ucapnya seraya mengalihkan pandangannya dariku.
"Aku heran, apa di kehidupanmu sebelumnya kau sama sekali tidak belajar caranya membahagiakan pasangan?" ucapnya lagi tanpa menoleh menatapku.
"Ini pertama kalinya untukku menjalin hubungan dengan seorang laki-laki."
"Menyingkirlah, kembalilah ke kamarmu... Atau aku benar-benar tidak akan bisa mengontrol diriku lagi," ucapnya seraya meletakkan telapak tangannya di wajahku lalu mendorongnya pelan ke belakang.
"Aku mengerti," ucapku beranjak berdiri lalu berjalan dengan kepala tertunduk.
"Zeki," ucapku lagi seraya menoleh menatapnya.
"Ada apa?" balasnya menatapku.
"Apa kau pikir, kau akan dengan mudahnya mendapat ciuman dariku. Kau bodoh," ungkapku tersenyum menatapnya dengan kedua tangan menyilang di dada.
"Heh, begitukah?" ucapnya, beranjak ia berdiri seraya berbalik lari mengejarku.
"Nii-chan, selamatkan aku," ungkapku ikut berbalik dan berlari menghindarinya.
"Jadi kau ingin berlindung di belakang Kakakmu?"
"Tentu sa-"
"Aku menangkapmu Takaoka Sachi," ucapnya, kurasakan lengan kananku tertarik ke belakang.
"Alasan apa lagi yang ingin kau gunakan untuk kabur sekarang?" ungkapnya berjalan di hadapanku, kualihkan pandanganku menghindari tatapannya.
"Lihat aku, Darling," ungkapnya lagi seraya mengetuk-ngetuk pipiku menggunakan jarinya, tersenyum aku menoleh ke arahnya seraya membalas senyum dingin yang ia lontarkan.
Maju ia beberapa langkah mendekati, ikut kugerakkan kedua kakiku mundur beberapa langkah mengimbangi langkah kakinya seraya masih kurasakan genggaman tangannya di lenganku tadi...
"Apa yang sedang kalian berdua lakukan?"